RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Berita » Sains & Teknologi » MENGENAL PERTANIAN ORGANIK

MENGENAL PERTANIAN ORGANIK

Disiarkan Sabtu, 2 Perbuari 2008

Istilah pertanian organik atau makanan organik mungkin sudah sering terdengar di telinga kita 2 sampai 3 tahun belakangan ini khususnya di Indonesia. Kedua kata tersebut sebenarnya memiliki dua arti yang berbeda. Pertanian organik mengungkapkan cara proses bertanam secara organik, sedangkan makanan organik merupakan hasil atau produk dari pertanian organik.

Pertanian organik, apa itu?

IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements), lembaga dunia yang bergerak dalam pengembangan pertanian organik, mengartikan pertanian organik sebagai sistem pertanian holistik (menyeluruh) yang mendukung dan mempercepat keanekaragaman hayati, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

Banyak orang beranggapan bahwa pertanian organik adalah pertanian tradisional yang hanya menggunakan pupuk kandang atau kotoran hewan. Pernyataan tersebut tidaklah selamanya benar, karena ada beberapa hal yang membedakan. Di antaranya, dalam pertanian organik dibutuhkan teknologi bercocok tanam seperti rotasi tanaman, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta pengelolaan yang baik demi keberhasilan pertanian organik tersebut.

Pertanian organik merupakan sistem pertanian yang menyeluruh karena memperhatikan semua sisi dari mulai tanah, produksi tanaman, lingkungan dan manusia. Sehingga hal ini tidak semudah hanya mengganti pupuk kimia buatan dengan pupuk kandang lantas kita dapat mengatakannya sebagai pertanian organik

Mengapa pertanian organik muncul?

Pernahkah kita bayangkan berapa energi yang dibutuhkan untuk membuat pupuk kimia sintetis seperti NPK atau urea? Seberapa besar pencemaran lingkungan yang ditimbulkan? Pertanyaan tersebut mungkin tidak sempat terpikir pada saat Justus von Liebig menciptakan pupuk kimia sintesis pada tahun 1800an.

Tingkat ketergantungan tanah terhadap pupuk semakin hari semakin tinggi untuk memenuhi kebutuhan produksi. Membesarnya populasi penduduk juga mendorong peningkatan kebutuhan pangan. Hal ini mendorong penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya yang mengalami peningkatan pula.

Gerakan pertanian organik muncul sebagai akibat dari timbulnya berbagai permasalahan yang disebabkan oleh kesalahan pengelolaan di lahan pertanian konvensional. Permasalahan ini misalnya pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian bahan-bahan tersebut. Ini berdampak langsung terhadap penurunan mutu lingkungan.

Apakah Produk Organik lebih baik?

Permintaan akan produk organik khususnya di masyarakat perkotaan semakin meningkat. Bahkan di kota Jakarta peningkatan ini mencapai angka 400% walaupun dalam hal jumlah masih sangat sedikit jika dibandingkan produk pertanian konvensional.

image003.jpg

Peningkatan permintaan ini mengisyaratkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk organik semakin tinggi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara termasuk indonesia, pendorong utama konsumen memilih produk organik adalah alasan kesehatan dan nutrisi yang lebih baik dibandingkan produk konvensional. Alasan tersebut cukup berdasar karena produk organik memiliki residu pestisida yang lebih kecil jika dibandingkan produk konvensional sehingga konsumen menganggap hal ini lebih sehat.

Namun dalam banyak penelitian yang sudah dilakukan, sampai saat ini disimpulkan bahwa perbedaan mutu produk organik dan konvensional berdasarkan tingkat residu pestisida dan nutrisi tidaklah besar. Sehingga, secara keilmuan terlalu dini untuk dapat mengatakan bahwa produk organik lebih sehat dibandingkan produk konvensional.

Namun hasil penelitian lain juga menunjukkan, sistem pertanian secara organik dapat menurunkan konsumsi energi 34-53% dibandingkan pertanian konvensional. Selain itu, tingkat keanekaragaman hayati tanah juga meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa pertanian organik merupakan sistem pertanian berkesinambungan yang ramah terhadap lingkungan. Dengan demikian, pandangan konsumen terhadap produk organik juga diharapkan dapat sejalan dengan fakta ilmiah yang ada saat ini.

Bagaimana mengenali produk organik di pasaran?

Secara penampakan sulit sekali membedakan produk organik dan konvensional. Ini karena keduanya hampir memiliki ciri-ciri yang sama, baik dalam bentuk maupun nilai nutrisi. Dengan teknologi budidaya yang semakin berkembang dalam pertanian organik, sifat fisik dari produk yang dihasilkan semakin mendekati produk pertanian konvensional, terutama untuk produk-produk yang diproses lebih lanjut (processed food).

Sertifikasi menjadi salah satu cara mengetahui apakah produk tersebut benar-benar organik atu bukan. Di negara-negara Eropa khususnya Jerman, produk organik dapat dikenali dengan melihat logo organik „Bio Siegel“ yang terdapat pada kemasan produk. Setiap produk yang mencantumkan bio siegel terjamin secara hukum bahwa produk tersebut diproses dengan sistem pertanian organik.

Tentunya diperlukan kerjasama antara pemerintah dan pihak swasta serta petani agar sertifikasi tersebut bisa berjalan sesuai aturan. Setiap produk yang dijual dengan label organik harus memenuhi berbagai ketentuan dan disertifikasi oleh badan khusus yang ditunjuk resmi sehingga masyarakat tidak akan merasa rugi walaupun harus membayar dengan harga yang lebih tinggi.  (Robi Andoyo & tim ISTECS on Air – 2007)

image0011.jpg

Robi Andoyo, STP  Master Program, Organic Food Chain Management, Hohenheim University Germany

Pengalaman akademis dan profesional

S1 Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran

– S1 Production Supervisor CV. Agrosa Bandung

– Asisten dosen bidang kajian Food Engineering di Jurusan Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran.

Sumber:

1.      Mungkinkah Pertanian Organik di Indonesia? Peluang dan Tantangan, http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=80

2.      Organic farming ‘a realistic choice’, http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/2017094.stm

3.      Scientific Status Summary on the Organic Food Industry, http://www.ift.org/cms/

4.      Organic Farming Principles http://www.ifoam.org/about_ifoam/pdfs/POA_folder_indonesian.pdf

Baca Juga

MitraFM.com First Media Perluas Layanan ke Malang

First Media Dukung Dunia Pendidikan dengan Menghadirkan Smart School

Malang – Pendidikan menjadi sebuah hal yang penting bukan hanya bagi First Media, tetapi juga ...