RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Berita » Sains & Teknologi » Perubahan iklim dan tren energi dunia

Perubahan iklim dan tren energi dunia

Nara Sumber: Abram Perdana

Meningkatnya kadar gas rumah kaca telah menyebabkan kenaikan suhu bumi. Begitu seriusnya ancaman tersebut, sampai-sampai Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, menyebutnya ”mengerikan seperti dalam fiksi ilmiah (science fiction), tetapi nyata”. Penimbunan gas rumah kaca (GRK) di atmosfer diyakini akan menyebabkan pemanasan bumi antara 1,8 hingga 4 derajat celcius dalam satu abad ini. Padahal, kenaikan suhu 2,5 derajat celcius saja sudah cukup untuk memusnahkan sepertiga spesies yang hidup saat ini. Sebagian besar penimbunan GRK tersebut ditimbulkan dari pemakaian bahan bakar fosil.

Ada beberapa langkah yang mesti diambil oleh umat manusia untuk mengurangi pengaruh pemakian energi terhadap dampak perubahan iklim, diantaranya

Penghematan energi

Menghemat pemakaian energi akan mengurangi jumlah bahan bakar yang digunakan dan otomatis juga mengurangi pengeluaran GRK yang ditimbulkan. Salah satu cara penghematan energi adalah melalui efisiensi, yaitu mengurangi pemakaian energi tanpa harus mengurangi produk atau jasa yang ingin diperoleh. Efisiensi dapat dilakukan dengan pendekatan teknologi. Seperti menciptakan rumah, mobil dan mesin-mesin yang hemat energi. Cara lain adalah dengan melakukan pendekatan sistemik seperti menyediakan transportasi masal untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.

Diantara berbagai cara pengurangan emisi GRK, upaya efisiensi sesungguhnya memiliki potensi yang paling besar. Namun sayangnya upaya ini masih kurang mendapat perhatian.

clip_image0021.jpgSelain melalui efisiensi, penghematan energi bisa juga dilakukan dengan melalui konservasi energi. Konservasi energi pada prinsipnya adalah upaya mengurangi pemakaian energi dengan mengurangi permintaan produk atau jasa. Upaya ini bisa diwujudkan melalui perubahan gaya hidup. Contoh yang sederhana adalah dengan mengurangi budaya konsumtifisme dan dengan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor dengan cara membudayakan bersepeda atau berjalan kaki.

Carbon capture (penangkapan karbon)

Dengan teknologi carbon capture, karbon dioksida dari hasil pembakaran bahan bakar fosil tidak dilepaskan begitu saja ke atmosfer namun dipisahkan dari gas buang dan selanjutnya disimpan untuk selamanya di dalam perut bumi atau di dasar laut. Disamping itu, berkembang pula ide untuk memanfaatkan karbon dioksida yang telah dipisahkan tadi untuk budidaya tanaman algae yang selanjutnya bisa dipanen sebagai sumber minyak nabati.

Mengganti bahan bakar

Bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi GRK paling tinggi adalah batu bara, sedangkan yang paling kecil adalah gas alam. Dengan kenyataan tersebut maka penggantian batu bara dengan gas alam diyakini mampu mengurangi emisi GRK secara signifikan.

Pemanfaatan energi terbarukan

Di masa mendatang energi terbarukan akan menjadi andalan pemenuhan sumber energi umat manusia. Selain ramah lingkungan, potensi energi terbarukan juga sangat besar. Energi matahari yang jatuh ke bumi jumlahnya 10 ribu kali lipat dari jumlah seluruh energi yang dibutuhkan umat manusia saat ini. Sebagian dari energi tersebut berubah menjadi energi angin, energi gelombang, dan menjadi tenaga untuk untuk memutar siklus air di bumi. Namun sebagian besar energi matahari tidak termanfaatkan dan hanya dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi ke ruang angkasa.

Kita patut bersyukur karena Indonesia dikaruniai begitu banyak sumber energi terbarukan. Selain sumber energi yang bersumber dari matahari (termasuk energi air dan gelombang), Indonesia juga memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar dan sesungguhnya mampu mencukupi seluruh kebutuhan listrik nasional yang ada saat ini. Namun rupanya, upaya pemanfaatan energi terbarukan, khususnya di negara kita, masih jauh dari memuaskan.

Tulisan terkait:

  1. “Gaya Hidup Rendah Emisi” di harian Republika tanggal 27/11/2007,
    http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=315107&kat_id=16

  1. ”Ketahanan Energi Nasional” di harian Republika tanggal 2/2/2008,
    http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=322045&kat_id=16

Nara Sumber: Abram Perdana ,Peneliti energi di UGM

Biografi singkat:

Abram Perdana adalah mahasiswa program doktor dan asisten pengajar pada Department of Energy and Environment, Chalmers University of Technology, Swedia sejak 2004. Di Indonesia, ia tercatat sebagai staf pengajar tetap di Fakultas Teknik UGM dan mengampu kuliah yang terkait dengan energi. Ia mendapatkan gelar Sarjana teknik dari Universitas Gadjah Mada dalam bidang Teknik Elektro pada tahun 1998. Ia memperoleh Gelar Master of Science dari Royal Institute of Technology, Stockholm di dalam bidang Sustainable Energy Engineering pada tahun 2003. Saat ini ia menjadi anggota Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) Chapter Eropa. Sejak 2004 ia menjadi anggota IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers). Selama tahun 2001-2004 penulis juga pernah terlibat sebagai peneliti di Pusat Studi Energi UGM (PSE-UGM). Selain menulis di jurnal dan sejumlah seminar, yang bersangkutan juga aktif menulis artikel di beberapa koran nasional.

Baca Juga

MitraFM.com First Media Perluas Layanan ke Malang

First Media Dukung Dunia Pendidikan dengan Menghadirkan Smart School

Malang – Pendidikan menjadi sebuah hal yang penting bukan hanya bagi First Media, tetapi juga ...