RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Berita » Berita Batu Malang » Data Spasial Dalam Keseharian

Data Spasial Dalam Keseharian

Nara Sumber: Harry Ferdiansyah

Apakah data spasial? Menurut wikipedia Indonesia data spasial adalah “bumi.gifdata yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference) di mana berbagai data atribut terletak dalam berbagai unit spasial“, atau secara sederhana data spasial merupakan data di mana lokasi atau tempat menjadi unsur utama (atau juga sebagai pelengkap) dari informasi tertentu. Terdengar seperti hal baru, tapi pernahkah kita sadari bahwa kebanyakan dari data ataupun informasi yang kita pakai adalah data spasial? Alamat, tempat lahir, data kemiskinan, sampai posisi Ajat Sudrajat di lapangan bola.

Peran data spasial belakangan ini menjadi domain umum, seiring dengan semakin disadarinya betapa penting informasi keruangan (space) sebagai nilai tambah dalam setiap data yang dipakai. Kita bisa merasakannya –terutama untuk kalangan yang mengikuti pesatnya pertukaran informasi di dunia maya- Google maps, Yahoo maps, wikimapia dan berbagai macam situs yang menyediakan peta (baik secara cuma-cuma seperti Google ataupun yang komersial seperti MapQuest) adalah sebagian contoh dari booming-nya spatial awareness (kesadaran akan pentingnya informasi keruangan) di seluruh dunia, ataupun untuk skala individu penggunaan GPS (Global Positioning System) yang saat ini sudah mulai „merakyat“ untuk para pencinta alam dan back packer.Tapi bagaimana bentuk riil pemanfaatan data spasial untuk kehidupan kita? Untuk orang-orang yang pernah tinggal di Jerman misalnya, secara tak sadar mereka telah merasakan nikmatnya data spasial untuk kehidupan sehari-hari, di mana perusahaan kereta regional biasanya menyadiakan layanan untuk mengetahui cara tercepat sampai ke suatu tempat secara online, kita tinggal menyebutkan lokasi awal dan tujuan maka layanan tersebut akan memberikan informasi secara mendetail mengenai sarana apa yang mungkin dipakai (kereta, bus atau berjalan), berapa lama waktu yang dibutuhkan dan peta yang menjelaskan jalan dengan jarak terpendek menuju tempat tujuan.

gmap.gif

Bagaimana dengan di Indonesia? Sejauh mana data spasial telah dimanfaatkan dan menjadi bagian dalam kehidupan keseharian? Jika dilihat secara aplikasi, harus diakui bahwa Indonesia sangat terlambat dalam hal pemanfaatan data yang bersifat keruangan ini. Contoh yang paling populer adalah kasus blok Ambalat. Betapa sulitnya untuk membuktikan kepada dunia bahwa daerah itu memang milik Indonesia.

Hal ini tentu saja disebabkan oleh tidak pedulinya pemerintahan akan pentingnya data keruangan tersebut. Hanya ketika terjadi tendensi ekonomi data tersebut akan diusahakan, sangat ironis. Bahkan untuk hal yang lebih kecil misalnya, tak jarang sengketa tanah ataupun wilayah (yang dalam beberapa tahun ini selalu berakhir dengan kekerasan) hanya disebabkan oleh tidak terdokumentasikannya posisi yang tepat untuk suatu objek atau lokasi (silakan lihat akta tanah, tidak ada referensi kebumian untuk menentukan batas kepemilikan, batas-batas hanya direpresentasikan merujuk pada objek-objek alam).

Meskipun Indonesia sudah memiliki BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) dan BPN (Badan Pertanahan Nasional), data spasial masih dinomorduakan untuk pendukung pembangunan. Sehingga wajarlah apabila informasi mengenai kesejahteraan, jumlah sekolah, dan berbagai data yang dipakai sebagai parameter kesejahteraan seringkali dijadikan bahan „objek proyekan“ karena memang tidak didokumentasikan dengan baik. Sehingga memang perlu kerja kolektif untuk menjadikan rakyat Indonesia peduli dengan data spasial mereka.

Pustaka:

http://id.wikipedia.org/wiki/Data

http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi

heri.gif

Harry Ferdiansyah lahir di Tasikmalaya, 25 Februari 1979 dan menamatkan S1 jurusan Teknik Geodesi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat ini beliau sedang menempuh studi Master bidang Photogrammetry and Geoinformatics, di University of Applied Science, Stuttgart, Jerman. Harry Ferdiansyah kini tercatat bekerja di National Coordinating Agency For Surveys and Mapping (Bakosurtanal). Beliau dapat dihubungi di hariep@gmail.com, www.geocities.com/jurahroh

Baca Juga

Jelajah Pasar Rakyat Nusantara

JELAJAH PASAR RAKYAT NUSANTARA

MitraFM.com – Jelajah Pasar Rakyat Nusantara 2016. JELAJAH PASAR RAKYAT NUSANTARA FESTIVAL PASAR RAKYAT 2016 Keluarga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*