RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Mutism, Bukan Diam Biasa

Mutism, Bukan Diam Biasa

DIAMNYA anak mutism bukanlah diam biasa. Dia hanya mau berbicara dengan keluarganya dan diam seribu bahasa saat berhadapan dengan orang di luar rumah. 

Maria mengaku cemas setiap kali mengantarkan Bella, putrinya, ke sekolah. “Dia terdiagnosis mutism. Saya khawatir ia merasa seperti orang hilang di lingkungan sekolahnya yang besar,” ujar Maria tentang buah hatinya yang baru berusia 7 tahun itu.

Wanita berkulit putih itu bertutur, Bella tak punya teman dan tak mau berbicara sama sekali di sekolah. Padahal, dia tergolong anak yang sangat cerdas, gemar membaca dan jago menulis cerita. “Di rumah, dia bisa lancar berkomunikasi dengan kami orangtuanya dan sepupu serta bibinya,” ungkap Maria.

Pengalaman serupa juga dirasakan Kania, 31, yang heran melihat Nada, putri bungsunya yang baru berumur tiga tahun “mogok” bicara dengan teman-teman sekelasnya di sebuah preschool. Padahal, sebelumnya dia sangat bersemangat di sekolah. “Di rumah atau di rumah neneknya dia mau ngobrol bahkan bernyanyi. Terkadang di tempat umum atau di dalam kelas, asalkan bersama saya dia mau bicara, tapi sama sekali tidak dengan temannya,” katanya.

“Gurunya menduga kemungkinan dia sedang agak cemas karena sebentar lagi akan naik ke level kelas lebih tinggi. Mungkinkah dia mengalami mutism?” pikir Kania ikut-ikutan cemas.

“Mutism” berasal dari bahasa Latin “Mutus” yang berarti “membisu”. Istilah ini awalnya ditemukan dalam literatur medis khusus tentang perkembangan bicara, yang mengemukakan “fenomena tidak mau bicara”. Secara ilmiah, mutism itu suatu pertanda kebisuan pada manusia, meskipun organ pendengaran maupun organ bicaranya normal. Kondisi ini bersifat khas pada anak-anak dan jarang terjadi, dengan gejala tak mau bicara pada situasi tertentu. Anak-anak yang mutism bisa berbicara dengan lancar saat di rumah, tetapi pada situasi tertentu seperti di sekolah dia tidak mau berbicara. Hal inilah yang disebut mutism selektif.

Menurut terapis yang juga Direktur Klinik Klub Rumah Anak, dr Rosmadewi, mutism harus dibedakan dari autism atau gangguan mental lainnya. Syarat mutism adalah si anak tadinya sudah bisa bicara kemudian mogok bicara. “Kalau memang dari tadinya si anak tidak bisa bicara, maka itu tidak bisa dikategorikan mutism. Jadi sebelumnya si anak sudah bisa bicara kemudian karena suatu sebab dia tidak mau bicara atau hanya bicara pada orang-orang tertentu saja,” ujarnya.

Banyak hal yang dapat menyebabkan anak jadi mogok bicara. Terkait mutism, aspek psikologi sosial, yang mana anak mengalami masalah yang berhubungan dengan ketakutan dan kecemasan pada situasi sosial seperti di lingkungan sekolah atau pada saat berkumpul dengan orang dewasa. Pada anak-anak yang memahami dan mampu berbahasa, umumnya dapat berbicara dengan normal dan rileks. Namun, 90 persen anak-anak dengan mutism mempunyai masalah dalam phobia sosial atau ketakutan yang teramat sangat, seperti pada waktu berbicara di depan kelas.

Anak-anak terkadang memang susah ditebak apa maunya. Ada anak yang menjadi sangat pendiam saat marah atau kesal pada orang tuanya. Lantas bagaimana membedakan diam yang biasa dengan diamnya anak mutism? Dr Elisa Shipon-Blum, Presiden Direktur Selective Mutism Anxiety Research and Treatment Center di Philadelphia, dalam www.selectivemutism.org mengemukakan beberapa kriteria yang bisa dijadikan acuan.

Anak mutism biasanya tidak mau berbicara di tempat-tempat tertentu, seperti sekolah. Dia juga tidak suka membicarakan hal yang ada hubungannya dengan fungsi sekolah atau kegiatan sosial lainnya. Perlu diketahui juga bahwa mutism tidak disebabkan karena gangguan komunikasi akibat irama kelancaran (seperti gagap) dan tidak disebabkan gangguan bicara karena gangguan mental (seperti autism). Kondisi mutism ini dapat menetap selama lebih dari satu bulan.

Kasus mutism rata-rata ditemukan pada anak usia 3-8 tahun. Pada kasus selektif mutism anak-anak, mereka mengalami ketakutan berlebih terhadap interaksi sosial di sekolah, taman latihan bermain, dan bersosialisasi. Anak dengan selektif mutism juga menjadi sangat cemas bila berbicara. Ketika anak tak ada respon, dia mengalami tekanan dan timbullah kecemasan. Selain itu, mereka biasanya sangat pemalu, dengan gejala-gejala seperti pendiam, wajah datar tanpa ekspresi dan tak ada senyum.

“Jika gejala mutism sudah berlangsung lebih dari satu bulan maka orang tua harus segera membawa si anak ke dokter, psikiater, atau psikolog. Sehingga bisa ditentukan langkah penanganan yang tepat,” tandasnya.
(oz/ip/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*