RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Komunikasi Sesuai Usia Anak

Komunikasi Sesuai Usia Anak

SETIAP anak pasti akan melewati tahapan perkembangan. Komunikasi efektif dibutuhkan untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembang dan kecerdasannya.Bayi yang baru terlahir ke dunia memiliki kemampuan verbal yang belum berkembang. Itulah sebabnya, mereka mengekspresikan kebutuhan dan keinginannya lewat tangisan.Di sinilah peran orangtua untuk cermat memahami makna tangisan si kecil karena merupakan metode komunikasi utama.

Psikolog Sri Ratna Sulistiantini Psi mengungkapkan, dalam berkomunikasi dengan bayi hendaknya orangtua bersikapaktifdanpeka.” Cobalah amati kebiasaan si bayi pada jam-jam tertentu, seperti kapan dia makan, minum, dan berganti popok. Selain itu, orangtua bisa mengamati tipe tangisan. Misalkan jika si anak lapar, tangisannya lebih panjang, kalau popoknya basah tangisannya lebih pendekpendek,” ujar psikolog yang akrab disapa Yanti.

Meningkat di usia batita (bawah tiga tahun) biasanya bayi sudah bisa mengungkapkan beberapa kata.Pada usia 2 tahun, sebagian besar anak bisa mengikuti perintah dan berbicara 50-200 kata. Orangtua bisa merangsang anak untuk mengungkapkan lebih dari dua kata atau melatih membuat kalimat dengan kata-kata tersebut. Mereka juga bisa menirukan apa yang mereka dengar dan sudah bisa memahami instruksi sederhana seperti ”Mandi yuk!”atau ”Sini,sama mama”.

”Selain itu si bayi juga sudah bisa mengungkapkan dengan bahasa isyarat, seperti menunjuk dan melihat. Itu juga bisa digunakan sebagai sarana komunikasi baginya,” kata Yanti yang juga menjadi Associate dari Jagadnita Consulting. Berlanjut saat usia 3 tahun, kosakata anak sudah jauh lebih banyak, yaitu sekitar 200-300 kata.

Pada usia ini pemahaman dan kemampuan berbahasa anak sudah mulai berkembang dan nada bicaranya sudah lebih jelas. Orangtua bisa menerapkan komunikasi interaktif dengan anak untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka. Membaca buku, bernyanyi, bermain game, dan mencoba bercakap-cakap dengan anak dapat menambah kosakata sekaligus kemampuan mendengarnya.

Dalam hal komunikasi langsung, si bayi tentunya tidak membutuhkan media apa pun,tapi kalau secara tidak langsung dia bisa mengungkapkannya lewat jalan lain, misalkan dengan bentuk coretan, bentuk dua atau tiga dimensi, dan bermain peran.

Untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dengan orangtua,Barbara P Homeier MD dari rumah sakit anak Alfred I duPont Wilmington, Amerika Serikat, menyarankan agar orangtua sering mengajak batitanya berbincang-bincang tentang aktivitas yang dilakukan seharian dan apa yang akan dilakukan keesokan harinya, misalkan ”Dek, kayaknya sore ini turun hujan deh,terus kita mau ngapainya?”.

Selain itu, bermain game edukatif juga bagus untuk merangsang otak anak. Ibu atau ayah juga bisa membacakan buku favorit anak secara berulang-ulang sehingga membantu meningkatkan kosakatanya. Selanjutnya pada usia prasekolah (4-5 tahun), anak sudah masuk ke lingkungan yang lebih luas. Misalnya bermain dengan guru atau bermain pura-pura seperti di TV, mengingat pada usia tersebut mereka mulai mengembangkan daya imajinasinya.

Tanyakan tentang pengalamannya di sekolah karena biasanya dia suka bercerita tentang apa yang dialaminya. Hal itu juga bisa diberikan dalam bentuk gambar, seperti mewarnai, karena warna-warna itu sendiri juga bisa menggambarkan emosi anak sehingga si anak bisa mengekspresikan perasaannya ketika suram, sedih, marah, ataupun gembira melalui gambar dan warna-warna.

Semakin sering orangtua melakukan percakapan dan permainan interaktif, akan semakin banyak pula hal yang bisa dipelajari anak.Untuk usia ini, Barbara menyarankan beberapa hal, seperti membantu anak memilihkan buku-buku cerita yang sesuai dan meletakkannya di tempat yang mudah dijangkau mereka. Cobalah untuk membaca dengan bersemangat sehingga saat anak melihat hal tersebut, mereka juga akan tertarik untuk membaca.

Selain itu orangtua bisa berdiskusi dengan anak tentang buku, acara televisi, atau video yang ingin ditonton bersama. Menginjak usia sekolah (6- 12 tahun), lingkungan anak menjadi lebih luas .

Anak sudah lebih independen dan suka bercerita.Untuk itu,orangtua bisa mengikuti aktivitas, minat dan hubungan anak dengan teman-temannya melalui cerita anak.Hal inilah yang kemudian dirangsang agar si anak bisa menceritakan hal yang terjadi.(oz/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*