RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Mengatasi Si Kecil Suka Bohong Terapkan Pola Asuh Demokratis

Mengatasi Si Kecil Suka Bohong Terapkan Pola Asuh Demokratis

KECIL-KECIL kok sudah berbohong ya? Kebanyakan mereka melakukan hal tersebut karena tidak ingin dimarahi orangtua. Sebaiknya, orangtua waspada jika anak sudah keseringan berbohong.

Tidak seorang pun suka ketika dibohongi orang lain. Apalagi jika orangtua yang dibohongi buah hatinya. Meski kebohongan yang diucapkan itu berhubungan dengan masalah kecil, jangan dibiasakan. Kebohongan anak-anak di usia dini, bisa berlanjut hingga dewasa. Apalagi jika didukung lingkungan.

Anak berbohong biasanya karena terpengaruh dan belajar dari orang dewasa. Jadi sebagai orangtua, cobalah untuk selalu berkata jujur kepada anak-anak. Biasanya kejujuran itu akan diikuti anak. Ada pula sebagian anak yang suka berbohong karena ingin diterima dan diakui. Orangtua harus dengan cepat memuaskan kebutuhan mereka ini.

Usahakan agar anak menikmati kehangatan kasih sayang dan rasa aman yang cukup ketika berada dalam rumah. Selain itu, jika menghadapi anak yang suka erbohong, orangtua harus introspeksi diri dan harus mengubah cara dalam menjatuhkan hukuman. Bila terlalu keras dan diktator akan membuat anak semakin suka berbohong supaya terhindar dari hukuman.

“Apabila anak mengetahui bahwa dengan berbohong bisa menghindarkan mereka dari hukuman,maka mereka akan lebih suka berbohong. Hindari menghukum anak jika mereka telah meminta maaf dan mengakui kebohongan yang telah diucapkan,” kata pengajar TK Internasional Kasih Bunda Hernawati Santosa.

Lebih lanjut, Hernawati mengatakan, jika mengetahui bahwa si kecil ternyata berbohong, terlebih dahulu cari masalahnya mengapa anak itu berbohong. Setelah itu baru berikan nasihat. Jelaskan kepada mereka apa kerugiannya jika mereka berbohong dan apa keuntungannya jika mereka berkata jujur.

“Peringatkan anak apabila mereka berbohong, mereka akan mendapat hukuman,” tegas Hernawati. Yang tidak kalah penting agar anak tidak lagi berbohong, menurut Hernawati, adalah menanamkan nilainilai kebenaran kepada anak. Katakan kepada anak jika berbohong, dosanya akan ditanggung dirinya, dan akan dipertanggungjawabkan nanti.

“Di sinilah pentingnya menanamkan nilai keagamaan kepada anak,” tambahnya. Tidak sampai di situ saja, menurut Hernawati,anak usia di bawah lima tahun pada umumnya belum mengerti apa makna dan arti berbohong. Itu karena pengetahuan dan informasi yang mereka terima masih sangat sedikit. Tapi setidaknya, bohong pada anak dapat dikategorikan dalam dua hal, yaitu bohong yang dapat merugikan dan bohong yang terpaksa dilakukan dengan maksud yang baik.

“Orangtua boleh berbohong pada anaknya, tapi untuk kebaikan. Namun jangan dibiasakan, karena akan memengaruhi anak,” tutur dia. Senada dengan Hernawati, psikolog anak Dr Farah mengatakan banyak hal membuat anak berbohong. Selain takut disalahkan, salah satu yang paling sering mengganggu anak adalah fantasi mereka sendiri.

Menurutnya, setiap anak mempunyai pribadi yang berbeda, begitu juga dalam soal minat dan harapan.Keadaan yang berbeda ini menyebabkan seorang anak sering beranganangan tentang keinginannya yang belum terpenuhi. Dari angan-angan tersebut bisa menyebabkan anak akhirnya berfantasi. Dan bisa jadi fantasi itu berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

“Kebohongan yang kemudian muncul adalah anak sering menceritakan pengalamannya, misalnya berkeliling hutan, bertemu harimau atau bertemu dengan gajah. Itu jenis kebohongan yang berasal dari fantasi,” kata Farah.

Sebagai orangtua, ketika melihat anaknya sudah mulai berimajinasi secara berlebihan dan tidak masuk akal, harus langsung menanggapi, misalnya dengan langsung mengajak anak ke kebun binatang, atau ke hutan-hutan di taman rekreasi.

“Tidak semua kebohongan pada anak masuk pada kebohongan yang fatal. Pada dasarnya, anak-anak belum bisa membedakan antara bohong dan imajinasi. Maka peran orangtualah yang harus bertahap menjelaskan dan mengarahkan anak dari kebohongan yang dilakukannya,” tambah dia.

Tiga hal besar yang sering menyebabkan anak berbohong menurut Farah adalah, adanya konflik diri. Keadaan yang sangat mendesak terkadang menyebabkan seorang anak mencari alasan atau jawaban untuk menyelamatkan diri dari kondisi yang tidak menyenangkan.

Seperti pada kasus anak yang dihukum gurunya karena tidak mengerjakan PR dan sering dimarahi orangtuanya, maka ketika dia mendapat hukuman dari gurunya, dia akan menceritakan kepada orangtuanya bahwa hari itu dia justru mendapat hadiah yang sangat menyenangkan. Kasus lainnya adalah meniru, hal ini tidak bisa dimungkiri karena anak akan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya.

Jika orangtua memberikan alasan dan mengatakan sesuatu yang bersifat bohong untuk menghindari suatu kegiatan di depan anaknya, maka berarti secara tidak sadar orangtua telah memberikan contoh yang buruk kepadanya.Hal terakhir adalah menghilangkan jenuh. Jika seorang anak sedang jenuh maka dia akan merangkai cerita yang seru untuk menghibur temannya. (oz/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*