RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Melihat Dari Mata Pengamat Dunia

Melihat Dari Mata Pengamat Dunia

Siapa yang tak kenal nama kartunis dari Amerika Serikat, Walt Disney yang menghasilkan karya kreatif seperti Mickey Mouse dan Donald Duck? Atau, pelukis yang dikenang sepanjang masa dengan karyanya Monalisa yaitu Leonardo Davinci.

Keduanya berhasil merangkum semua yang dilihat kemudian menggambarkan melalui sudut pandangnya sendiri. Kemampuan semacam itu seringkali disebut sebagai kecerdasan visual spasial.

Orang-orang yang memiliki kecerdasan visual spasial adalah pengamat dunia, mereka peka terhadap tanda-tanda alam dan mengamatinya secara menyeluruh.

Menurut Howard Gardner, profesor pendidikan dari Harvard University, Amerika Serikat, dalam bukunya Multiple Intelligences, anak yang memiliki kepintaran visual akan dapat menyelesaikan masalah ruang (spasial).

Dia mampu mengamati dunia spasial secara akurat, bahkan membayangkan bentuk-bentuk geometri dan tiga dimensi, serta kemampuan memvisualisasikan dengan grafik atau ide tata ruang (spasial).

“Anak dengan kecerdasan visual spasial adalah pengamat dunia, mereka peka terhadap tanda-tanda alam dan mengamatinya secara menyeluruh,”ujarnya.

Secara keseluruhan, Gardner mengelompokkan kecerdasan menjadi tujuh tipe, yaitu kecerdasan musik, kinestetik-tubuh, logika-matematika, bahasa, spasial, interpersonal dan intrapersonal.

Teori itu dilandasi oleh fakta, kerusakan di bagian otak tertentu akan membuat seseorang kehilangan kemampuan atau keterampilan tertentu. Gardner meyakini bahwa masing-masing tipe kecerdasan diatur oleh bagian otak yang berbeda, misalnya tipe kecerdasan interpersonal diatur oleh lobus frontal, sedangkan tipe spasial diatur oleh spasial-belahan otak kanan.

Masing-masing tipe kecerdasan akan tercermin dari produk atau prestasi yang ditampilkan pemiliknya. Hanya saja tampilan produk ini dipengaruhi oleh faktor budaya yang ada. Gardner menunjuk para navigator, arsitek, desainer interior maupun pemain catur yang dapat digolongkan sebagai mereka yang menguasai kecerdasan spasial. Tipe kecerdasan itu memudahkan seseorang untuk menentukan arah, menggunakan peta dan melihat objek dari berbagai sudut.

Kimberly L.Keith Psikolog dari University of Texas, Dallas, Amerika Serikat mengatakan, anak-anak yang memiliki kecerdasan visual spasial merupakan artis didalam masyarakat. Anak-anak dengan kemampuan itu berpikir dalam kerangka gambar.

“Mereka cenderung membuat persepsi tentang lingkungan secara keseluruhan, mencoba menyerap semua informasi kemudian menggunakan kemampuan otak kanan mereka untuk memprosesnya,” jelas Kimberly.

Dia menambahkan, orang yang memiliki kecerdasan visual spasial yang tinggi memiliki banyak memori mengenai berbagai gambar dan bentuk, sehingga membuat mereka sangat imajinatif dan kreatif. Mereka juga belajar melalui penglihatan visual.

“Mereka sangat menyukai poster, gambar dan film serta presentasi secara visual sebagai bahan informasi. Terkadang mereka terlihat sebagai pemimpi yang memiliki dunia sendiri, sehingga terkesan tidak mempedulikan dunia luar,” ujar Kimberly.

Namun, tegasnya, jangan terkecoh dengan sikap tersebut. Sebenarnya orang dengan kemampuan visual spasial merupakan pengamat yang teliti mengenai segala sesuatu di sekelilingnya. Termasuk detail yang seringkali tidak diperhatikan orang lain.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Gardner, orang-orang yang memiliki kepintaran visual spasial ini lebih banyak dipengaruhi otak kanan, yaitu bagian otak yang bertugas memproses ruang.

Anak yang cerdas visual tak hanya menggambarkan tapi juga mengkonstruksikan obyek ide di dalam pikiran mereka. Selain itu, kepintaran ini juga memberi kemampuan membedakan dan menemukan berbagai kombinasi atau gradasi warna. Tak heran, anak-anak dengan kemampuan itu suka sekali mendekorasi kamarnya.

Namun, sambung Gardner, kecerdasan ini bukan hanya anugerah semata yang dibawa sejak lahir, asalkan orangtua bisa menstimulasi kemampuan ini melalui beragam kegiatan.

“Biasanya anak tipe ini sangat menggemari permainan-permainan “melihat melalui pikiran” seperti menggambar atau membayangkan obyek dan permainan akting atau berpura-pura,” ujarnya.

Untuk melakukan identifikasi terhadap tipe kecerdasan majemuk, Gardner lebih menganjurkan agar orangtua dan pihak sekolah menyediakan beragam sarana dan prasarana yang terkait dengan ketujuh tipe kecerdasan tersebut.

Setelah itu, amati bidang apa yang lebih diminati oleh anak, seberapa mendalam ia mengeksplorasi hal tersebut, dan sejauh mana ia menikmati aktivitas yang dilakukannya.

Seseorang dapat memiliki beberapa tipe kecerdasan sekaligus, hanya intensitasnya saja yang berbeda-beda. Mungkin saja komposisinya adalah satu tipe kecerdasan yang menonjol dan beberapa tipe kecerdasan lain yang sedang-sedang saja.

Sayangnya tidak semua tipe kecerdasan ini dihargai oleh masyarakat. Sekolah pun cenderung lebih menghargai tipe kecerdasan logika-matematika dan bahasa.

Mengasah Kecerdasan Visual Spasial

Salah satu cara yang dapat dilakukan orangtua untuk mengasah kecerdasan visual anak mulai usia tiga tahun seperti dikatakan Gardner, ialah dengan mengajak anak lebih banyak bereksplorasi. Misalnya, melukis dengan tangan (finger painting), menggambar dengan kuas, mewarnai, menempel, bermain kertas lipat, dan menggunting kertas akan lebih mengasah kemampuan cerdas visualnya.

Kemudian, kemampuan berimajinasi anak semakin berkembang ketika anak memasuki usia empat tahun. Anak dapat diperkenalkan perbedaan bentuk, ukuran, jumlah, keseimbangan melalui berbagai permainan.

“Saat anak bermain balok jelaskan bentuk-bentuk balok, misalnya segitiga memiliki tiga sisi dan balok segi empat emiliki empat sisi. Anak dapat diminta membuat suatu bangunan berdasarkan imajinasinya sendiri,” jelas Gardner.

Lalu ketika anak berusia lima tahun, maka orangtua bisa mulai mengajarkan anak untuk menerjemahkan imajinasinya ke dalam bentuk yang bertema. Misalnya, saat menggambar orang, anak umumnya melengkapi dengan tangan dan kaki tau anggota tubuh lainnya. Perlihatkan juga buku cerita yang memuat gambar-gambar menarik. (rep/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*