RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Si Kecil Nakal, Gejala Kurang Perhatian

Si Kecil Nakal, Gejala Kurang Perhatian

BERMAIN menjadi kebutuhan setiap anak. Namun, bagaimana menangani anak yang selalu berkelahi dengan teman sepermainannya.

Sebagai orangtua, siapa yang tidak jengkel jika melihat buah hati pulang dari tempat bermain sambil menangis atau luka di siku atau lutut. Sesampai di rumah, si anak mengadu dipukul teman, si A atau didorong si B. Sebagai orangtua, tentu saja tak bisa main hakim sendiri dengan menuduh kalau anak tetanggalah yang nakal. Karena dalam dunia anak, bermain dan berkelahi adalah hal yang wajar. Dan jangan sampai melibatkan orangtua dalam pertengkaran para balita (bawah lima tahun) tersebut karena bisa membuat persoalan menjadi pertengkaran antarkeluarga yang sebenarnya tidak penting.

Secara psikologis, perkelahian adalah hal yang wajar. Apalagi jika anak berada dalam keinginan yang sama. Misalnya ingin memainkan sebuah permainan, sedangkan alat yang tersedia hanya satu. Konflik yang timbul ketika mereka sedang bermain menjadi tidak wajar ketika si anak memiliki temperamen yang sangat tinggi sehingga sedikit-sedikit terlibat perkelahian dengan teman-temannya. Bisa jadi, itu adalah bentuk kekecewaan mereka terhadap sesuatu.

Sifat si kecil yang dulu penurut, sekarang suka membentak bila ada yang tidak disukainya, bahkan tidak segan-segan berkelahi dengan teman-teman sebayanya di play group kalau merasa ada yang mengganggunya, seharusnya segera diketahui orangtua. Karena jika tidak ditangani dengan cepat, akan terbawa hingga dewasa.

Sikap anak yang tiba-tiba berubah tersebut harus menjadi kekhawatiran orangtua. Namun sayangnya, masih banyak orangtua menganggap perubahan yang terjadi pada balita merupakan hal biasa. Padahal, gejala sering marah-marah, berkelahi, ataupun sering berteriak bisa jadi merupakan gejala dari ketidakpuasan mereka.

“Bisa saja buah hati merasa tidak diperhatikan, diabaikan, atau si anak merasa tersisih dari pergaulan dengan teman-teman sebayanya. Itu dilampiaskan dengan marah-marah dan melakukan kenakalan-kenakalan,” kata psikolog anak dr Willy Prayitno.

Lebih lanjut ditambahkan Willy, anak suka berkelahi juga dipengaruhi lingkungan yang buruk, misalnya anak melihat tetangga yang berkelahi atau orangtua bertengkar, bisa menjadi pemicu utama selain tontonan di TV.

Mengingat sifat dasar anak adalah meniru apa yang dilihat. Jadi jika anak suka marah, bisa jadi anak tengah menirukan seseorang yang pernah dilihatnya. Anak balita belajar mengembangkan diri atau berusaha menunjukkan aktualisasi dirinya dengan meniru orang lain.

“Jadi kalau lingkungannya selalu berbicara dengan bahasa yang kasar, galak, dan judes, anak akan meniru. Jadi jangan salahkan anak sepenuhnya tentang kenakalan yang mereka lakukan,” ujar Willy.

Selain itu, tontonan yang tidak tepat, bisa menjadi biang kerok, atas semua kenakalan yang dilakukan anak. Karena dari sana anak belajar dan menirunya tanpa merasa bersalah. Anak bahkan meniru bagaimana menentang seseorang, membentak, memukul bahkan meludahi.

“Sebagai orangtua, tindakan yang harus dilakukan adalah memarahi anak jika sudah di luar batas dan tidak wajar. Misalnya sampai melukai teman sepermainannya,” tuturnya.

Namun sebagai orangtua tidak perlu terlalu khawatir atau cemas. Apalagi panik dengan sikap si balita yang suka marah, atau bahkan gemar berkelahi. Karena di usia ini, perilaku anak yang kurang tepat masih bisa diluruskan.
Namun, orangtua tetap diminta waspada. Karena di usia dini, anak masih bisa dibentuk, termasuk tingkah laku dan semua perbuatannya.

Senada dengan Willy, pengajar TK Kasih Bunda, Suharti di Jakarta Timur, mengatakan selalu memberikan perhatian lebih kepada anakanak yang memiliki gejala seperti suka marah dan nakal. “Untuk mengatasi gejala suka marah, suka berkelahi adalah sabar memberikan contoh. Karena lama-lama anak akan sadar,” katanya.

Suharti menuturkan, bisa jadi sikap suka marah disebabkan anak tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan perasaannya secara tepat.

Karena itu pola-pola seperti mengajak berkomunikasi, mengungkapkan perasaan, dan keinginan adalah salah satu langkah mencegah terjadinya hal itu. “Dengan berkomunikasi dan mendengarkan keluhan anak, saya yakin anak bisa berubah,” kata dia.(oz/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

One comment

  1. ya sih….kebetulan tetangga ada anak yang nakal banget buandel lebih tepatnya…ya salah satunya karena kurang kasih sayang dari ortunya..terutama Bapaknya yang notabene juga gualak banget..dah gitu pembantunya juga gualak banget…halah klop lah amburadul itu anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*