RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Bila si Kecil Takut Tidur Sendirian

Bila si Kecil Takut Tidur Sendirian

ALAM yang gelap terkadang menakutkan bagi balita. Terlebih jika mereka menempati kamarnya sendirian. Supaya ketakutan itu tidak berlanjut, orangtua harus memberikan rasa aman pada anak-anaknya. Bagaimana caranya?

Hampir setiap malam, Chandra (5), siswa Taman Kanak- Kanak (TK) Kasih Bunda tiba-tiba saja berteriak memanggil ibunya. Apalagi ketika lampu di kamarnya telah dimatikan dan lampu ruang tamu juga telah dipadamkan.

Kegelapan di kamar dan di sekelilingnya membuat Chandra berteriak histeris ketakutan. Padahal sebelum tidur, ibunya telah menemani Chandra hingga dia tertidur pulas. Nah, pada tengah malam, waktu suasana rumah telah sepi-senyap dan semua orang telah tertidur pulas, Chandra bangun dan langsung berteriak memanggil sang bunda. Kejadian tersebut tentu saja mengganggu orang lain. Selain sang bunda tidak bisa nyenyak tidur pada malam hari, teriakan Chandra kadang membangunkan adiknya yang juga sudah tidur nyenyak.

Sebenarnya hal tersebut wajar saja terjadi pada balita. Namun, orangtua juga harus memperhatikan, jangan sampai hal itu berlebihan. Sebab, ketakutan adalah kondisi alamiah yang membantu individu melindungi dirinya dari bahaya. Pada anak berusia balita, rasa takut yang dialami masih sebatas pada hal-hal spesifik, misalnya takut pada anjing, gelap, takut tidur di kamar sendirian, atau bertemu dengan orang asing.

Menurut psikolog anak dari Universitas Indonesia, dr Widyanti Antarini, rasa takut adalah konsep yang dipelajari anak. Sumber pembelajarannya dapat berasal dari banyak sumber, misalnya film kartun dan tayangan televisi yang sebenarnya mengganggu anak. Contohnya, usai anak nonton film monster yang menakutkan atau film kartun yang bercerita tentang kekerasan. “Orangtua terkadang turut berperan pula dalam menakuti anak. Ambil perumpamaan, dengan ancaman bahwa jika anak nakal, dia akan digigit anjing atau bertemu dengan monster yang ditontonnya,” kata Widyanti.

Ekspresi ketakutan anak bisa bermacam-macam. Biasanya lewat tangisan, jeritan, bersembunyi atau tidak mau lepas dari orangtuanya. Bila buah hati merasa aman dengan diri sendiri atau lingkungan, rasa takut itu akan sirna. Jika si kecil sudah telanjur memiliki rasa takut, saran dia, yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan rasa aman. Selain itu, mereka harus menyadari bahwa anak membutuhkan rasa aman dan nyaman.

“Jika tidak ada dorongan dari ayahibu untuk mengatasi rasa takut, maka tidak tertutup kemungkinan ketakutan tersebut menjadi fobia. Bila tidak segera diantisipasi, jiwa anak tidak berkembang dan tidak akan pernah merasa aman dan nyaman di lingkungannya,” ingatnya.

Dia menambahkan, kalau si kecil takut tidur sendirian dan teriakannya tidak berhenti sebelum bundanya datang, yang harus dilakukan orangtua adalah meluangkan waktu dan menemani si kecil hingga kembali tertidur.
“Ada baiknya pula orangtua meluangkan waktu mendengarkan dengan telinga dan hati alasan ketakutan anak. Tentunya tak sekadar menyimak pembicaraan si kecil, berilah dukungan yang positif dan penjelasan yang menenangkan agar anak dapat mengatasi rasa takutnya.

“Penanganan yang tepat jelas dibutuhkan agar rasa takut yang dialami anak tidak berlanjut menjadi fobia. Untuk menangani anak takut tidur sendirian, kedua orangtuanya harus terlebih dahulu mencari tahu penyebab dan alasan ketakutannya. Selain takut pada makhluk yang tidak nyata, anak biasanya takut berpisah dan ditinggalkan orangtuanya.

“Dalam pikiran anak, jika dia tidur sendirian ketika besok pagi terbangun, dia tidak akan bertemu lagi dengan ibunya. Hal itu wajar terjadi. Orangtua harus menguatkan si anak, dan katakan bahwa mereka akan bertemu lagi besok pagi,” tambahnya.

Hal paling penting dilakukan orangtua, menurut Widyanti, adalah jangan sekali-kali memarahi anak jika malam hari berteriak.
Berilah pelukan dan usapan lembut agar anak merasa aman. Katakan kepada buah hati Anda bahwa mereka tetap dalam pengawasan dan bisa dilihat ibu atau ayahnya. Ketakutan anak tidur sendirian ternyata berdampak pada kegiatan yang dilakukannya sehari-hari.

Ketakutan biasanya membuat anak tidak bisa tidur sepanjang malam. Kalau tidak bersembunyi di balik selimut, si kecil akan duduk sambil mengawasi jendela atau pintu. “Anak yang ketakutan tidur sendiri jika dimarahi tidak akan berani berteriak. Jadi sepanjang malam mereka terjaga. Itu sangat buruk untuk kondisi fisik mereka di siang hari,” katanya.(oz/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*