RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Berempati sejak Dini

Berempati sejak Dini

EMPATI merupakan fondasi utama manusia untuk menjalankan kodratnya sebagai makhluk sosial. Ajarkan sejak dini, si kecil pun akan tumbuh menjadi manusia sosial yang tidak egois.

“Jangan diambil, gelas itu punya aku!” teriak Laura, 5, manakala mendapati kakaknya mengambil sebuah gelas mungil dari rak dapur. “Kakak pinjam dulu buat minum jamu. Badan kakak sakit nih,” mohon Dewa, sang kakak. “Pokoknya enggak boleh. Balikiiin…!!!” jerit Laura sambil berusaha merebut gelas yang diklaim miliknya itu. Alhasil, serbuk jamu yang ada di dalam gelas pun tumpah sia-sia. “Ya ampun, cuma gara-gara gelas,” keluh Dewa kesal.

Egois merupakan salah satu sifat dasar manusia, kendati kadarnya mungkin berbeda- beda. Orang yang tergolong sangat egois biasanya jauh dari sikap empati. Pada kebanyakan anak-anak usia balita, adalah hal yang normal jika mereka memikirkan dirinya sendiri dulu. Misalnya saat lapar, ada anak yang teriak-teriak minta dibuatkan susu oleh ibu atau pembantunya. Mungkin dia merasa bak “raja” yang kebutuhannya wajib dipenuhi oleh orang di sekelilingnya.

Contoh lain, manakala bermain bersama teman-teman di arena bermain sekolah misalnya, si anak merasa paling berhak menguasai perosotan sehingga marah ketika ada anak lain yang mencoba ikut bermain. Atau, saat dia tengah asyik bermain mobil-mobilan di rumah dan saudara sepupunya yang seumur ingin bergabung, dia merasa terusik. “Ini mainan aku semua!”.

Jika sudah demikian, tentunya orangtua tak boleh membiarkan. Sejak kecil orangtua sebaiknya menerapkan pemahaman bahwa seiring bertambahnya usia si anak, dunia kecilnya itu akan semakin luas dan dia akan bertemu dengan lebih banyak orang.

Sebagai permulaan, ajarkan anak untuk berbagi dan berempati dengan teman sekitar rumahnya dulu. Misalnya anak yang tidak punya mainan karena orangtuanya tidak mampu membelikan, tentu akan merasa bahagia jika dipinjami mainan atau diajak bermain bersama.

Wirna, 55, dengan bangga menceritakan empati yang telah dilakukan Rio, cucunya yang baru berusia 4 tahun. Biarpun baru saja dibelikan sepeda baru oleh papanya, Rio mau meminjamkannya pada temannya yang berasal dari keluarga miskin.
“Waktu papanya berang karena sepedanya tidak ada di rumah, jawaban Rio polos saja: habisnya kasihan teman Io (Rio) enggak punya sepeda, papa. Saya jadi terharu anak sekecil itu bisa ngomong begitu,” tuturnya.

Menurut psikolog klinis asal New York,Paul Coleman, anak dengan kapasitas empati yang bagus biasanya juga punya relasi sosial yang lebih baik dengan lingkungan sekitar maupun di sekolahnya. Namun, alumnus Central Michigan University ini juga mengingatkan bahwa anak tetaplah anak yang punya segudang emosi.

Mereka bisa senang, sedih, marah, takut, jenuh, kaget, bahkan patah hati. Nah, orangtua harus jeli menangkap suasana hati anak. Jika terjadi hal yang membuatnya tidak nyaman, cobalah berempati dengan memeluknya, mendengarkan keluhannya, atau mengalihkan kesedihannya dengan aktivitas yang mereka sukai.

Irene F Mongkar, salah seorang praktisi metode Glen Doman di Indonesia, menceritakan pengalaman ketika Dea, putrinya, pulang sekolah dengan murung karena nilai ulangannya jelek. Irene pun berusaha mendekati Dea dan memosisikan diri sebagai sahabat.

“Waktu dia cerita tentang nilai ulangannya saya tidak marah dan malah becandain dia: Wah, hebat dong! Kamu kan belum pernah dapat nilai segini. Dea yang tadinya murung, malah jadi ikut tertawa,” kenang Irene tentang putri kesayangannya yang sudah menerbitkan sebuah buku itu.

Empati merupakan sikap atau perilaku memahami suatu permasalahan dari sudut pandang atau perasaan lawan bicara. Direktur pelayanan klinis di Saint Luke Institute New Hampshire USA, Stephen Montana PhD, mengungkapkan, pola asuh empati (parental empathy) berperan penting dalam perkembangan kesehatan psikologis.” Kurangnya empati dapat meningkatkan risiko gangguan kepribadian, sikap depresi, dan menyakiti diri sendiri,” ujarnya.

Dalam konteks hubungan orangtua dan anak, keterbukaan menjadi kunci penting untuk bisa saling berempati satu sama lain. Anak akan bersikap terbuka bila ada rasa aman dan nyaman yang terbangun dari kedekatan dengan orangtua dan rasa percaya diri anak. “Bersahabat dengan anak memungkinkan jika orangtua mau dan mampu mengembang kan empati terhadap suasana hati anak dalam skala yang terkecil sekalipun,” tegas psikolog Tika Bisono MPsi.

(soz/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*