RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Anak Alami Stres, Jangan Biarkan Sendirian

Anak Alami Stres, Jangan Biarkan Sendirian

ORANGTUA sering kali kurang mengerti apa sesungguhnya yang diinginkan buah hatinya. Padahal hal itu bisa membuat anak-anak menjadi stres, sesuatu yang berbahaya bagi pertumbuhan mereka.Stres ialah perasaan tertekan, nah kondisi kurang mengenakan ini membuat orang mudah tersinggung, mudah marah, dan konsentrasi pekerjaan menjadi terganggu. Perasaan tertekan yang terjadi pada setiap orang juga berbeda- beda. Levelnya tergantung apa masalah yang dihadapi dan kemampuannya menyelesaikan masalah.

Siapa yang dapat mengalami stres? Semua orang bisa mengalaminya. Perasaan tersebut tidak hanya dirasakan kalangan menengah ke bawah yang terhimpit masalah ekonomi, juga dialami orang yang hidup berkelebihan. Begitu juga dengan jenis kelamin atau usia penderitanya. Wanita, pria, anak-anak, maupun dewasa dapat mengalaminya.

Khusus untuk buah hati Anda, ada baiknya para orangtua untuk lebih memperhatikan bagaimana tingkat stres yang dirasakan anaknya. Mungkin saja untuk anak-anak, di saat mengalami stres, mereka jadi cengeng. Bahkan, bayi yang mengalami stres dapat meninggal dunia. “Justru anak-anak lebih rentan terhadap stres karena mereka masih belum bisa menangani perasaan tertekan. Tidak seperti orang dewasa,” ucap pengamat anak, Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto saat menghadiri diskusi bertema “Obesitas dan Kurang Aktivitas Fisik Menyumbang 30% Kanker” di Jakarta, belum lama ini.

Anak-anak, menurut dia, bisa mengalami stres dari kegiatan sehari-harinya. Ambil contoh, banyaknya tugas yang harus dikerjakan setelah pulang sekolah, atau beratnya beban yang diberikan pihak sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar anak. Tuntutan orangtua untuk selalu jadi nomor satu di kelas juga bisa jadi beban berat.
“Zaman sekarang, anak sekolah tidak lagi membawa tas, tetapi membawa ‘koper’. Pulang banyak PR (pekerjaan rumah), akhirnya anak teler,” ujar pria kelahiran 28 Agustus 1951 ini.

Kak Seto menyebutkan, pihak sekolah boleh saja memberikan tugas, tapi tidak dalam porsi berlebihan. Jadi, dia menyarankan, untuk para guru yang ingin menjadikan anak muridnya berprestasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi anak. Jangan dipaksakan. “Mungkin saja prestasi mereka bagus, tetapi belum tentu dengan moralnya,” sebutnya.

Masih dikatakan Kak Seto, hasil penelitian di Indonesia menyebutkan, di lingkungan sekolah sekitar 60 persen anak murid pernah dibentak tenaga pengajarnya. Padahal, ingat dia, proses pembelajaran yang efektif adalah belajar dengan cara menyenangkan. Tidak dengan cara membentak yang justru bisa membuat anak makin tertekan.

Dia menegaskan, jadi yang perlu diimbau di sini ialah para tenaga pengajar. Guru diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan kurikulum yang dibuat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tanpa membebani anak didik. Tentunya dengan ide yang kreatif dan menyenangkan. “Intinya adalah kurikulum untuk anak, bukan anak untuk kurikulum,” sebutnya.

Banyak paradigma keliru yang beredar di masyarakat tentang bagaimana mendidik anak. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini mencontohkan, mendidik anak semestinya dengan disiplin tinggi. Yang jadi masalah, kata disiplin diartikan dengan tindakan keras. Padahal, mendidik anak tidak dengan mulut dan tangan, tapi dengan hati.

Adanya kekerasan yang terjadi pada anak-anak, dia menganalisis, dipicu minimnya komunikasi orangtua dengan putra-putrinya. “Stres bisa ditimbulkan dari keluarga yang tidak harmonis. Keluarga yang tidak harmonis ini bisa diakibatkan dari adanya komunikasi yang sangat tidak baik di dalamnya,” tuturnya.

Persoalan komunikasi bisa diakibatkan berbagai macam faktor seperti kedua orangtua yang sama-sama sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk menjalin komunikasi yang baik di tengah-tengah keluarga. Bahkan, ada ibu yang juga lupa akan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga sesungguhnya. “Atau akibat tidak ada atau kurangnya komunikasi antarorangtua sehingga keduanya bercerai. Perpisahan dalam keluarga itulah yang bisa menyebabkan anak stres. Dia memikirkan bagaimana keadaan keluarganya atau bisa saja diledek teman sepermainnya,” ujar Kak Seto.

Rasa tertekan jelas menimbulkan dampak negatif pada anak, baik secara fisik maupun psikis. Ada juga yang berpendapat, rasa stres juga bisa menjadi pemicu sel kanker pada anak. “Apabila anak stres, maka akan memicu kanker,” ingatnya.

Sementara itu, pengamat anak lainnya, yang juga penulis buku “Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik”, Melly Kiong berpendapat, salah satu penyebab anak merasa tertekan adalah karena dia merasa sendirian.
Sendiri karena merasa ditinggal orangtua yang sibuk bekerja. Ini merupakan problem serius keluarga zaman sekarang.

“Orangtua yang sering meninggalkan anak akan membuat anak menjadi kesepian dan asing dengan orangtuanya sendiri. Yang terjadi, si anak malah merasa frustrasi dan tidak berharga, sekalipun apa yang diinginkan secara materi sudah dan selalu dapat terpenuhi,” ucapnya.

Jika Anda kesulitan tidak mengetahui cara bagaimana membantu anak menghadapi rasa tertekannya, Anda disarankan untuk mengunjungi psikolog anak. Beri tahu kepada psikolog apa yang dihadapi buah hati Anda. Kendati demikian, orangtua tetap tidak boleh lepas tangan.

Sebagai individu terdekat anak, orangtua wajib mendampingi mereka saat menjalani “terapi”. Anda juga mesti bertanya banyak kepada psikolog mengenai apa yang dihadapi anak, berbahayakah, dan bagaimana Anda sebagai orangtua mesti bersikap.(oz/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*