RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Agar Si Kecil Tak Kurang Gizi

Agar Si Kecil Tak Kurang Gizi

SEBUT saja namanya Randy. Usianya baru dua tahun, tapi wajahnya tak memancarkan kesegaran seorang anak-anak. Bahkan kesan tua justru terpancar dari wajah Randy yang kuyu. Tak hanya itu, berat badannya juga jauh lebih ringan ketimbang bobot bocah-bocah sebayanya.

Menurut Mulyadi Tedjapranata, dokter dari Klinik Medizone di Kemayoran Jakarta Pusat, anak dengan tanda-tanda seperti Randy mengidap kekurangan gizi (malnutrisi).

Di Indonesia, jumlah anak senasib Randy cukup banyak. Catatan Departemen Kesehatan menyebutkan, pada 2008 setidaknya 18 juta anak berusia kurang dari lima tahun (balita) kekurangan gizi.

Nah, dari angka itu sebanyak 5 juta anak kekurangan gizi dan 1,7 juta balita terancam gizi buruk. Data yang sama juga menyebutkan bahwa 10 juta dari 31 juta anak-anak usia sekolah menderita’ anemia.

Banyak sebab sehingga anak-anak Indonesia mengalami kekurangan gizi. Selain faktor ekonomi, anak tak mendapatkan asupan air susu ibu (ASI) dan gizi sejak awal pertumbuhannya.

“Padahal ini asupan terbaik bagi bayi,” War Mulyadi. Penyebab kekurangan asupan asi pada bayi tak melulu lantaran sang ibu ogah menyusui. Bisa saja, si ibu mengalami infeksi pada payudara sehingga anak emoh menghisap sumber ASI.

Selain itu, kekurangan gizi juga bisa disebabkan gangguan pencernaan pada anak, sehingga asupan gizi yang masuk tubuh tak menyebar sempurna. “Akibatnya, anak kurang karbohidrat, protein, dan lemak,” ajar Mulyadi.

Malnutrisi memang rawan terjadi pada anak-anak di bawah umur lima tahun. Padahal, imbuh Pedro Alarcon, Direktur Medis Abbot Nutrition, efek kekurangan nutrisi berdampak ganda. Dalam jangka pendek, berat badan dan tubuh balita tak mengembang normal. Ini bisa berujung pada kematian.

“Dampak jangka panjang, malnutrisi bisa mempengaruhi perkembangan otak,” ajar Alarcon. Selain itu,
anak yang kurang nutrisi juga rentan terhadap berbagai penyakit saat menginjak usia remaja atau dewasa.

Atasi dengan protein nabati
Kata Alarcon, kasus malnutrisi memang tak lepas dari tingkat kesejahteraan keluarga di sebuah negara. Umumnya, kasus ini meruak di negara-negara berkembang. Di India, misalnya, ada 8,3 juta bayi lahir dengan berat kurang dari 2,5 kilogram.

Sebuah penelitian oleh Lembaga Penelitian Kesehatan di London menyebutkan, pemberian nutrisi mesti dilakukan sedini mungkin. Dalam jangka pajang, keterlambatan pemberian nutrisi akan berbahaya bagi kesehatan anak.
Menurut Alan Lucas, Direktur Pusat Penelitian Gizi Anak yang memimpin penelitian itu, observasi pada 26 anak dan remaja menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kesehatan anak yang mendapatkan gizi lebih awal dengan yang belakangan.

Saat remaja, anak-anak yang terlambat mendapat asupan gizi akan mengalami peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol yang lebih tinggi. Ini jelas berbeda dengan anak-anak yang sedari awal sudah mendapatkannya.

“Mereka dengan mudah bisa menurunkan kadar.kolesterol hingga 10%,” ajarnya. Mereka juga lebih tahan terhadap serangan jantung.

Susianto, ahli gizi dari Universitas Indonesia menambahkan, sejatinya malnutrisi bisa dikurangi sedini mungkin. Orang tua tak harus ribet untuk memenuhi kebutuhan gizi buah hatinya.

“Jika tak bisa membeli daging sebagai sumber protein, mereka bisa memberikan protein nabati yang berasal dari kacang kedelai,” ujarnya.(kmps/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*