RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Jangan Terkecoh Demam Pelana Kuda

Jangan Terkecoh Demam Pelana Kuda

nyamukPERNAHKAH Anda tertipu, terjebak atau terkecoh? Pasti tidak enak rasanya! Jangan salah, bukan hanya penjahat yang bisa menipu, penyakit pun demikian.

Para ibu acap terkecoh oleh pola demam pada DBD yang populer dengan julukan ”demam pelana kuda”. Gejala demam pada DBD bisa terjadi secara mendadak dan berlangsung 2–7 hari. Sesuai julukannya,saat demam suhu tubuh penderita cenderung turun-naik seperti pelana kuda,yakni tiga hari panas, hari keempat turun,dan naik lagi pada hari kelima.

”Perubahan suhu ini sering mengecoh para ibu. Suhu tubuh anak yang tadinya tinggi, menurun, lalu si ibu mengira anaknya sudah sembuh.Padahal bisa jadi anak mengalami shock,” kata spesialis anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta, dr Hindra Irawan Satari Sp A (K) MTrop Med.

Fase infeksi dengue terbagi tiga, yaitu fase demam, fase kritis dan fase penyembuhan. Pada fase demam, penderita sebaiknya diberi terapi demam seperti pemberian obat penurun panas dan kompres hangat. Bila perlu, lakukan terapi penunjang melalui pemberian oralit, larutan gula-garam,jus buah,dan susu.

”Tidak harus jus jambu merah, yang penting pastikan anak mendapat asupan cairan dengan cara minum.Jika anak bisa buang air kecil setiap 4–6 jam,itu bisa jadi indikator bahwa cairannya sudah cukup. Selain itu ukur suhu tubuhnya tiap 4–6 jam,”ungkapnya. Dari ketiga fase tersebut yang paling krusial adalah penanganan pada fase kritis.Fase ini biasanya terjadi pada hari keempat dan kelima perjalanan penyakit, dan berlangsung 24–48 jam.

Obat antidemam tidak lagi diberikan pada fase ini. Tata laksana yang umum dilakukan adalah dengan mencatat tanda vital serta asupan dan keluaran cairan,memberikan oksigen pada kasus yang disertai shock, menghentikan perdarahan, serta menghindari tindakan yang tidak perlu (misalkan pemberian obat atau zat-zat yang bisa menimbulkan kondisi traumatik).

”Pada fase kritis umumnya penderita tidak bisa makan dan minum karena tidak nafsu makan atau muntah-muntah. Jadi harus benar-benar dirawat,” tutur Hindra seraya menambahkan bahwa pada fase ini jumlah cairan juga tetap harus mencukupi agar terhindar dari risiko perdarahan.Jika penderita tidak dapat makan dan minum melalui mulut (apalagi terjadi shock),maka dokter biasanya akan mengindikasikan pemberian cairan infus.

Penting dicatat bahwa menjaga tubuh dari dehidrasi penting dilakukan agar demam tidak berkembang menjadi shock. Darah pasien DBD mengental karena plasma darah keluar dari pembuluh darah. Semakin kental,semakin terancam shock.

Untuk mengetahui pertanda dehidrasi bisa diamati dari kulit, bibir, dan lidah menjadi kering, badan lemah, kehausan, pusing,lama tidak buang air kecil atau urine menjadi pekat, serta kelenturan kulit menurun.Jika terdapat gejala seperti nadi cepat, namun melemah, berkeringat dan kulit dingin, segera larikan penderita ke rumah sakit.

”Segeralah dirawat di rumah sakit. Itu sudah menuju pada gejala renjatan!” ujar dr Khie Chen SpPD dari Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi FKUI/RSCM Jakarta. Untuk menghindari dehidrasi tidak harus berpatokan pada konsumsi jus jambu merah. Semua cairan seperti air putih, air kelapa, sari buah, dan air tajin boleh dikonsumsi.(sindo/hp/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*