RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Makanan Siap Saji Sebabkan Kanker Kolon

Makanan Siap Saji Sebabkan Kanker Kolon

ANDA suka makan makanan siap saji? Jika ya, Anda harus berhati-hati. Bukannya tidak boleh atau sama sekali dilarang, tetapi jika Anda makan berlebihan, Anda akan mudah terserang kanker kolon. Kanker usus besar itu bisa menghambat kreativitas dan produktivitas Anda.

Menurut dr Lucky Aziza B, Sp PD, KGH, dari Rumah Sakit Jakarta Medical Center, Jakarta Selatan, saat ini penyebab kanker usus besar, atau kanker kolon, belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, ada dua faktor risiko terjadinya kanker kolon.

Pertama, pengaruh lingkungan. Yang masuk dalam kategori ini adalah makanan siap saji, makanan tinggi lemak (dalam hal ini lemak hewan), kurangnya konsumsi sayuran dan buah-buahan dan banyak mengonsumsi alkohol. Makanan memang menjadi salah satu faktor pemicu kanker usus besar karena berhubungan dengan kolesterol, lemak hewan yang tinggi, kadar serat yang rendah dan interaksi antara bakteri dengan asam empedu di dalam usus besar.

Kedua, faktor genetik. Faktor ini merupakan faktor risiko tinggi terjadinya kanker usus besar. Misalnya, jika bapak atau ibu mengidap kanker usus besar, tidak tertutup kemungkinan anaknya pun mengalaminya. “Meskipun ini bukan penyakit menular, tapi bisa saja keluarga lainnya bisa kena,” terangnya. Banyak kelainan genetik yang dikaitkan dengan keganasan kanker usus besar, antara lain sindroma poliposis (meskipun hanya kurang dari 1 persen dari semua kanker kolorektal).

Gejala-gejala

Gejala awal kanker kolon ini tidak jelas. Bisa berupa berat badan yang menurun dan kelelahan. Setelah beberapa waktu kemudian, baru muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan tumor dengan berbagai ukuran di dalam usus besar. “Semakin dekat lokasi kanker itu dengan anus, biasanya lebih mudah diketahui karena bisa dengan pemeriksaan colok dubur,” tambahnya.

Gejalanya sendiri dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu gejala lokal, gejala umum dan gejala penyebaran. Gejala lokal biasanya ditandai dengan perubahan kebiasaan buang air besar, seperti perubahan frekuensi buang air, baik berkurang atau konstipasi maupun bertambah atau diare, sensasi seperti belum selesai buang air (masih ingin buang air besar tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran.

Perubahan wujud fisik kotoran atau feses juga merupakan gejala lokal. Perubahan wujud fisik, antara lain, berupa feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar, feses berlendir, feses berwarna kehitaman, timbul rasa nyeri yang disertai dengan rasa mual dan muntah pada saat buang air besar (karena penyumbatan di pembuangan kotoran oleh massa kanker).

Gejala lain yang masih berhubungan dengan gejala lokal ini adalah adanya benjolan pada perut, rasa begah, nyeri di perut yang tidak jelas, dan timbul gejala lainnya di sekitar kanker yang kadang-kadang berhubungan dengan organ lain bila tumor sudah menyebar.

Gejala umumnya adalah berat badan turun tanpa sebab yang jelas, hilangnya nafsu makan, anemia, pucat, sering merasa lelah dan kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang. Terakhir adalah gejala penyebaran. Jika sudah menyebar ke hati, wajah penderita tampak kuning, penderita mengalami nyeri perut yang lebih sering terjadi pada bagian kanan atas atau di sekitar lokasi hati, pembesaran hati, dan timbul gejala hiperkoagulasi (peningkatan kekentalan darah akibat penyebaran kanker).

Biasanya orang yang terkena kanker kolon ini berusia 50 tahun ke atas. Tapi tidak tertutup kemungkinan orang muda juga mengalaminya. Kanker usus besar berkembang pada mukosa, yaitu lapisan permukaan dalam usus yang menembus dinding usus, lalu menyebar ke sekitarnya atau menyebar jauh ke saluran getah bening, hati dan paru-paru.

Jika masih pada stadium awal atau stadium satu, peluang penderita untuk hidup sampai lima tahun mencapai 85-95 persen. Jika sudah stadium dua, peluangnya 60-80 persen. Stadium tiga sekitar 30-60 persen. Sementara pada stadium empat, peluang untuk hidup hanya sekitar 25 persen.

Pengobatan

Kanker usus besar ini cenderung menyebar secara lambat dan terlokalisir atau tidak menyebar ke bagian lain, dalam waktu yang lama. Dengan demikian, kanker ini dapat diobati. Jika terdeteksi secara dini dan segera diobati sebelum menyebar ke limfomodus, kesempatan untuk hidup lebih besar.

Untuk mendeteksi kanker usus besar secara dini, harus dilakukan pemeriksaan yang teratur, terutama terhadap mereka yang berisiko tinggi dan mempunyai riwayat gangguan pencernaan. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan alat kolonoskopi (pemeriksaan kolon) sebagai bagian dari endoskopi (peneropongan bagian dalam suatu organ tubuh).

Jika masih stadium nol (baru muncul pada lapisan dalam pencernaan), kanker masih bisa diobati dengan operasi. Tapi seringkali dengan kolonoskopi. Jika sudah stadium satu (sel kanker pada lapisan dalam kolon), sampai 3 (sel kanker sudah menyebar ke getah bening), dilakukan operasi untuk mengangkat bagian kolon yang dogerogoti kanker. Pasien pada stadium ini sering kali harus menjalani kemoterapi setelah operasi. Kemoterapi dibutuhkan pasien kanker kolon stadium empat, yaitu ketika sel kanker sudah menyebar ke organ lain, misalnya liver. Di sini bisa juga dilakukan operasi dan beberapa terapi, antara lain, kemoterapi, radiasi, terapi panas (ablation) dan bedah beku (krioterapi).(okezone/hp)

 

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*