RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Tak Dapat Negeri, Swasta pun Jadi

Tak Dapat Negeri, Swasta pun Jadi

TIDAK lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) bukan akhir dari segalanya. Masih banyak jalan alternatif yang bisa ditempuh untuk melanjutkan cita-cita.

Mulai hari sabtu kemarin pengumuman Seleksi Masuk Universitas Indonesia (Simak UI) sudah bisa diketahui para peserta program ini. Simak UI adalah ujian seleksi terpadu masuk UI yang diselenggarakan UI bagi calon mahasiswa yang ingin kuliah di PTN tersebut. Simak UI berbeda dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang pengumumannya akan keluar Agustus nanti.

SNMPTN adalah seleksi masuk yang mencakup seluruh PTN di Indonesia. Meski begitu, Simak UI sangat penting bagi mereka yang mengidam-idamkan masuk PTN ini karena 56% kursi di UI diperebutkan di program tersebut. Sementara SNMPTN hanya mendapat kuota 14% dari total penerimaan mahasiswa baru UI.

Hasil pengumuman ini sudah pasti akan membuat banyak peserta yang kecewa daripada yang berbahagia. Sebab, berdasarkan data yang diperoleh dari Kepala PPMB UI Emil Budianto, dari 80.000 peserta untuk seluruh program (D-3 sampai S-3) yang mendaftar Simak UI hanya sekitar 7.000 peserta yang diterima. Sebagai gambaran, untuk program S1 reguler saja, terdapat 65.000 orang yang mendaftar.Padahal kursi yang tersedia hanya untuk 2.100 orang.

Dari data ini saja,bisa dilihat bahwa minat lulusan SMA untuk masuk PTN masih sangat tinggi. Namun, bukan berarti tak lolos Simak UI atau SNMPTN menjadi akhir dari cita-cita para calon mahasiswa. Bagaimanapun, cita-cita tersebut bisa diraih lewat jalan lain.

Setidaknya ada empat jalur yang bisa ditempuh mereka yang gagal masuk PTN, yaitu mengambil kuliah di PTS (perguruan tinggi swasta), mengikuti program diploma (D-1 s/d D-3), mengikuti workshop singkat, atau menjalani bimbingan belajar (bimbel) untuk persiapan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi di tahun berikutnya. PTS biasanya jadi pilihan utama bagi mereka yang gagal masuk PTN.

Seiring peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia, sekarang ini banyak PTS yang memiliki kualitas yang setara dengan PTN. Jika ukurannya adalah kualitas dosen, kelengkapan fasilitas, dan keluasan jaringan perguruan tinggi dengan dunia industri yang nantinya menampung para sarjana, maka banyak pilihan yang bisa dipertimbangkan calon mahasiswa. Contohnya Universitas Trisakti.

Universitas yang sudah berpengalaman lebih dari 40 tahun ini sudah diakui kualitas lulusannya oleh dunia industri. Menurut HumasTrisakti Hasiyani Wahjono,SE, MM , sudah banyak survei membuktikan bahwa lulusan Universitas Trisakti jadi salah satu lulusan yang diperhitungkan di dunia kerja.

“Makanya,masa tunggu sarjana Trisakti hanya berkisar satu sampai enam bulan,” kata Yani. Kedekatan dengan dunia industri memang jadi salah satu pilar utama universitas agar bisa menyalurkan lulusannya di dunia kerja. Karena itu pula, kini sudah banyak universitas yang menggelar job fair di kampusnya pada jangka waktu tertentu. Universitas seperti Trisakti, Binus,Atma Jaya, dan President University kerap kali mengadakan acara ini.

President University bahkan menjalin kerja sama dengan perusahaan multinasional, seperti Microsoft dan Intel Corporation untuk membangun pusat penyuluhan usaha kecil menengah (UKM).Kedekatan antara universitas dengan perusahaan biasanya akan berujung pada kesempatan magang atau permintaan perusahaan itu untuk menampung lulusan-lulusan universitas tersebut.

“Di Binus, ada perusahaan multinasional yang biasanya mengontak kita dan meminta lulusan terbaik Binus untuk masuk dalam perusahaannya,” sebut Dean of Programs Binus International Minaldi Loeis,Msc.,MBA. Bagaimana dengan kualitas dosen? Universitas Pelita Harapan (UPH) bisa jadi contohnya.

Universitas yang didirikan pengusaha James Riady ini didukung oleh dosen dari dunia akademik maupun praktisi yang sudah diakui kredibilitasnya di Indonesia. Misalnya saja untuk program studi Business School, posisi dekan diisi mantan gubernur BI Adrianus Mooy. Sementara untuk dosen tamu berasal dari pakar bidang moneter dunia. Alternatif berikutnya, yaitu program diploma.

Program diploma, baik D-1 sampai D-3 saat ini juga makin diburu calon mahasiswa yang berorientasi kerja.Buat mereka yang masih ingin mencoba mengikuti SNMPTN tahun depan, program D-1 bisa jadi pilihan. Perguruan tinggi seperti LP3I atau Lasalle College International menyediakan program D-1 dan D-3 untuk semua jurusan.Kualitas pengajar pun tidak perlu diragukan.

“Untuk pengajar, di antaranya ada desainer Iwan Toha dan Stella Risa. Untuk magang pun kami bekerja dengan perusahaan ternama. Misalnya untuk program fotografi, mahasiswanya bisa magang di Canon, atau kalau program fashion design bisa magang di Lee Cooper,” sebut Admission Executive Lasalle College International Nandita Dwi Utari. Jika ternyata mahasiswa ingin melanjutkan ke program S-1, Lasalle juga membantu untuk meraih gelar bachelor di luar negeri.

Namun, jika ingin berkonsentrasi pada SNMPTN tahun berikutnya, memilih bimbingan belajar adalah pilihan terbaik.Intensif kan kemampuan analisis soal di bimbingan belajar yang sudah diakui kredibilitasnya. Jika masih punya banyak waktu luang,coba saja mengikuti workshop singkat sesuai hobi.

Kursus seperti ini biasanya hanya memakan waktu kurang dari 3 bulan. Ada banyak workshop atau kursus yang bisa dicoba. Misalnya workshop Maqita untuk yang hobi membuat komik,Digital Studio College untuk film maker, desain, atau animator, atau mencoba kursus fotografi. (sindo/hp)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*