RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Duh, Sudah Cacat Disingkirkan Pula!

Duh, Sudah Cacat Disingkirkan Pula!

 

Ketidakadilan terhadap anak penyandang cacat dalam memperoleh pendidikan masih terjadi. Terbukti, ada banyak perlindungan terhadap hak-hak pendidikan mereka yang terpangkas.

“Perhatian orangtua terhadap anaknya yang cacat, umumnya berbeda dengan perhatian kepada anaknya yang normal. Bahkan, anak yang cacat sering disembunyikan karena dipandang sebagai aib keluarga,” kata Ketua Komite Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi di Gresik, Jatim, Selasa (12/5).

Celakanya, kata psikolog yang akrab dipanggil Kak Seto itu, tak jarang sejumlah sekolah formal masih enggan menerima keberadaan penyandang cacat dengan dalih keterbatasan fisik. Dengan demikian, mereka hanya bisa bersekolah di sekolah khusus penyandang cacat.

Mestinya, jika kondisi mental dan fisik siap, para penyandang cacat itu berhak bersekolah di lembaga formal, seperti pelajar normal pada umumnya. Dengan demikian, mereka bisa hidup mandiri, tanpa bergantung pada orang lain.

“Itu langkah terbaik apabila hal tersebut memungkinkan karena mereka ini nantinya akan terjun di lingkungan masyarakat,” katanya.

Selain itu, masalah mahalnya biaya pendidikan di sekolah khusus para penyandang cacat menyebabkan para orangtua memilih tidak menyekolahkan anaknya dengan alasan terdesak kebutuhan ekonomi.

Kak Seto yang juga anggota Badan Standardisasi Pendidikan Nasional mengatakan, untuk mengatasi persoalan tersebut perlu kesiapan, baik dari pemerintah, lembaga pendidikan, maupun partisipasi masyarakat.

“Perlu pendekatan dengan hati untuk mendidik mereka. Dalam pelaksanaan ujian nasional khusus penyandang cacat, misalnya, pengawas tidak harus kaku dalam melaksanakan tugasnya. Senyum, ramah, dan mengedepankan kepentingan bagi anak, itu yang harus diutamakan,” ujarnya.

Selain itu, hilangkan pandangan miring terhadap penyandang cacat. Sebabnya, banyak di antara penyandang cacat yang justru kemampuannya melebihi anak normal.

Kak Seto mengemukakan, jumlah penyandang cacat di Indonesia dewasa ini makin banyak. Ada beberapa faktor yang dimungkinkan menjadi pemicu, salah satunya masalah gen atau keturunan dan perilaku orangtua yang tidak baik sehingga berdampak pada keturunannya, serta akibat perkawinan sedarah.

Dalam kunjungannya ke Gresik, Kak Seto didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Rasiyo. Kedatangan mereka untuk memantau pelaksanaan UN SD di Gresik, di antaranya di SDLB Kemala Bhayangkari, SDN Kebomas, SD Muhammadiyah GKB, dan MI Fuluhatul Ulum, Manyar. (kcm/hp)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*