RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Wanita » Agar Ilmu Menggerakkan Kalbu

Agar Ilmu Menggerakkan Kalbu

ok-imgp3699Imam Ahmad biasa menuntut ilmu dengan mengembara. Ia mendatangi para ulama dari negeri satu ke negeri lainnya. Kali ini, hampir satu bulan perjalanan waktu yang dibutuhkan. Dari Baghdad, ia berangkat mengarungi padang pasir yang luas, di bawah terik mentari, dan diselimuti dinginnya malam yang mencekam.

Dalam rentang perjalanan yang beratus-ratus kilometer menuju Kurasan, pernah ia sampai dua hari tidak makan, karena kehabisan perbekalan. Itu semua dilakukannya untuk memburu sebuah hadits dari seorang tua yang sanadnya sampai kepada Nabi Shallalahu alaihi wa Sallam (SAW).

Begitu tiba di Khurasan, ia pun segera menemuinya. Orangtua yang ahli hadits itu sedang memberi makan seekor anjing. Dia melihat wajah Imam Ahmad sekilas, dan kembali memberi makan anjing. Tentu saja sikapnya yang tidak serta merta menyambut kedatangan tamunya itu membuat Imam Ahmad kurang berkenan. Setelah selesai memberi makan anjing, dia berkata:

“Mungkin dalam hatimu mengatakan, aku lebih memperhatikan anjing dari pada kamu?”

“Benar,” jawab Imam Ahmad terus terang.

Orangtua itu berkata, “Dengarkanlah baik- baik. Perlu kau ketahui, aku mendengar dari Abu Zinad dari Al- A’raj dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang memutus harapan orang yang datang kepadanya, Allah akan memutus harapannya pada hari kiamat dan tidak akan masuk surga.”

“Di kampung ini tidak ada anjing. Tiba- tiba anjing ini datang kepadaku dalam keadaan lapar. Ia mengharap kepadaku agar aku memberinya makan, aku tidak mau memutus harapannya ketika kau datang menghampiriku. Nah, sekarang sudah jelas duduk masalahnya. Sekarang apa keperluanmu jauh-jauh datang kepadaku?”

“Hadits yang engkau ucapkan itu sudah memenuhi tujuanku datang ke sini,” jawab Imam Ahmad. Dan satu hadist itulah hasil perjalanan beliau yang melelahkan itu.

Kisah di atas penulis kutip dari Habiburrahman El Shirazy dalam bukunya Di Atas Sajadah Cinta.

Pengorbanan

Untuk mendapatkan ilmu, Imam Ahmad rela menempuh ratusan kilometer. Panas dan dingin serta rasa lapar tak menghalanginya terus melangkah. Ada pengorbanan. Padahal yang ingin didengarnya ‘hanyalah’ sebuah hadits saja. Coba bandingkan dengan kebanyakan dari kita? Betapa banyak majelis ilmu diadakan. Tapi, bagaimana sikap kita?

Rasanya kita belum bersungguh-sungguh memanfaatkannya. Kadang hanya karena hujan rintik-rintik saja sudah jadi alasan tidak datang ke majelis ta’lim. Padahal, jaraknya tidak sampai satu kilometer. Atau kalau hadir, sikap kita asal-asalan. Betul mendengarkan, namun dilakukan sambil bersandar, atau bahkan disertai kantuk. Tidak ada kegairahan dan rasa antusias. Datar-datar saja. Setelah mendapat ilmu juga biasa-biasa, tak ada dorongan kuat untuk mengamalkannya. Alasannya bermacam-macam. Kurang ini, kurang itu, nunggu ini, nunggu itu. Manusia memang terlalu banyak alasan.

Ada ungkapan Melayu, ‘Nak seribu daya, tak nak seribu alasan.’ Maksudnya kalau ada kemauan akan muncul seribu daya. Berbagai rintangan tak kan menghalangi karena kekuatan dari dalam ini jauh lebih besar. Sebaliknya, kalau tak ada kemauan, yang muncul adalah seribu alasan. Seolah-olah di depannya ada berbagai rintangan yang menghalanginya. Padahal sebenarnya rintangan itu ada dalam hati, yaitu kurangnya kemauan. Di mana ada kemauan, akan terbuka bentangan jalan.

Berbeda dengan Imam Ahmad, beliau ada kesungguhan dan sikap mental siap berkorban. Berbagai keterbatasan sarana tak menjadi hambatan untuk menghimpun ilmu. Hadits yang beliau himpun, tidak didapatkan begitu saja di dalam kelas sambil terkantuk- kantuk, tapi harus terlebih dulu beliau cari dari berbagai negeri yang jauh. Di samping korban tenaga, waktu, juga biaya yang tidak sedikit.

Orientasi-Memahami

Di sini letak pentingnya orientasi, sekaligus memahami pentingnya ilmu. Kita akan lebih tergerak dan antusias mencari ilmu kalau benar-benar menghayati kedudukan ilmu. Bukankah ilmu merupakan kekayaan yang sangat berharga, jauh melebihi harta benda? Buktinya, apa yang dimiliki Imam Ahmad sampai sekarang tetap berharga dan tidak rusak, padahal sudah ribuan tahun.

Ilmu itu sudah dibagi pada jutaan orang, tapi tidak pernah berkurang. Malah mengundang berkah. Coba kalau yang dikumpulkan harta, kadang dibagi pada anak saja sudah habis. Sehingga belum sampai cucu sudah tidak kebagian manfaatnya. Karena itu, kalau untuk mendapat harta kita bersemangat dan rela berkorban, hal demikian mestinya juga dalam menuntut ilmu, bahkan lebih. Inilah keistimewaan ilmu. Bahkan Allah menegaskan orang yang berilmulah yang pandai memetik aneka pelajaran.

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tak berilmu?” Sesungguhnya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar: 9)

Tanpa ilmu, kita akan terjerembab dalam kebinasaan. Hanya dengan ilmu hidup akan bermakna dan terarah. Harta yang kita miliki akan senantiasa memberi kemanfaatan dan kemaslahatan, bila dikelola dengan ilmu. Amal ibadah juga akan lurus jika disertai dengan ilmu. Kesuksesan dunia maupun akhirat hanya akan diperoleh dengan ilmu. Wajarlah kalau Imam Ahmad memburunya dengan segala pengorbanan.

Berkesan

Kewajiban bagi yang sudah berilmu adalah menyampaikannya. Tapi bagaimana agar pesan itu berkesan?

Kebanyakan orang merasa cukup mentransformasi ilmu sekadar dengan menyampaikan begitu saja. Sudah saya sampaikan, habis perkara. Memang secara tekstual pesan itu sudah sampai, tetapi bagaimana efektivitasnya? Seringkali karena disampaikan begitu saja, anak yang menerimanya masih kurang terkesan. Akibatnya pesan yang demikian ini kurang menggerakkan jiwa. Bahkan tidak jarang masuk telinga kanan keluar telinga kiri!

Ilmu yang kita sampaikan kerap kurang menggerakkan kalbu. Anjuran kesucian dan kebersihan sudah sering disampaikan tapi kotoran teronggok di depan mata, tetap saja tak dipedulikan. Bahkan papan anjuran kebersihan yang mencolok itu, kita biarkan terlihat kotor dan kumuh. Ada ketidakselarasan antara perkataan dengan perbuatan. Bahkan terasa bertentangan. Penyampaian pesan yang demikian ini mungkin hampir jadi kebiasaan, tapi sudah barang tentu tidak boleh dibiarkan terus. Sebab dapat menuai kecaman dari Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa- apa yang tidak kamu kerjakan.” ( Ash Shaaf: 2-3)

Seharusnya ada kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Dari kisah di atas, kita dapat menarik hikmah yang luar biasa. Imam Ahmad yang jauh-jauh datang dari Baghdad dahaga jiwanya terpuaskan oleh orangtua yang menyampaikan hanya satu hadits saja. Pesan orang tua itu demikian berkesan.

Apa yang membuat Imam Ahmad terkesan? Selain pesan hadits itu disampaikan secara lisan, juga diselaraskan dengan tindakan. Perbuatan orangtua itu benar-benar menggambarkan ruh dari perkataan yang disampaikannya. Ada keteladanan. Pesan tentang kepedulian terhadap sesama itu benar-benar tampak nyata. Sampai-sampai dengan anjing pun ia layani dengan baik agar tidak memutus harapannya. Saking takutnya dengan ancaman di hari kiamat nanti. Imam Ahmad yang semula bertanya- tanya dengan sikap orang tua yang terkesan mengabaikannya itu, merasa sangat terpuaskan jiwanya.

Kita patut bercermin diri. Terbayang, betapa selama ini kita masih memandang orang yang datang ke rumah dan menyampaikan kesulitannya hanya merepotkan saja. Ada keengganan mengulurkan tangan untuk membantunya. Dan celakanya lagi, kita merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan sikap itu. Padahal sikap kita yang kurang peduli itu membuatnya putus harapan.

Lalu bagaimana nasib kita di hari kiamat nanti? Apakah Allah akan memutuskan harapan kita akibat sikap tidak peduli kita itu? Duhai, betapa sedihnya. Siapa lagi yang bisa menolong saat Allah mengabaikan diri ini? Hari kiamat yang menggetarkan itu, tiada tempat berlindung kecuali kepada-Nya. Ya Allah, limpahkan energi, agar hamba senantiasa tergerak untuk beramal shalih. Ya Allah, jadikanlah hamba senantiasa dalam bimbingan dan keridhaan-Mu. Amin.* (Sumber: Suara Hidayatullah edisi April 2008)

Baca Juga

curhat

10 Tanda Orang Yang Bisa Dipercaya Untuk Tempat Curhat

MitraFM.com– Kodrat manusia adalah sebagai mahluk sosial, kita tidak bisa lepas dari campur tangan orang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*