RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Mitos Kesehatan, Merugikan atau Menguntungkan?

Mitos Kesehatan, Merugikan atau Menguntungkan?

transformasikan-kesehatanMitos seputar kesehatan yang sampai sekarang masih dipercaya. Padahal, kadang-kadang justru mitos tersebut bertolak belakang dengan kesehatan.Ibu hamil harus makan di piring kecil agar bayinya tak tumbuh besar dalam perut. Ibu hamil tidak boleh menyantap ikan karena dikhawatirkan anaknya akan bau amis. Mitos tersebut banyak beredar di masyarakat walaupun tidak pasti kebenarannya, tapi banyak yang percaya akan hal tersebut. Padahal, jika ditinjau dari segi kesehatan ikan merupakan salah satu sumber gizi bagi ibu hamil. Itulah mitos, kadang menguntungkan kadang merugikan.

Kesehatan adalah hal yang tidak pernah lepas dibicarakan oleh setiap orang. Bahkan sampai pada mitos kesehatan pun banyak dipercaya oleh masyarakat Indonesia yang notabene beredar dari mulut ke mulut. Mitos pada awalnya hanya sebuah cerita yang kemudian disebarkan secara turun-temurun, namun ditelan mentah-mentah, dan dipercayai sebagai petuah bijak yang diandalkan meskipun belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Nyatanya, beberapa mitos justru tidak sesuai dengan fakta, bahkan cenderung merugikan atau membahayakan bagi kesehatan seseorang. Dikatakan oleh dokter yang concern terhadap kesehatan reproduksi dr Handrawan Nadesul bahwa banyak sekali mitos yang menyesatkan dan beredar di masyarakat. Mitos menyesatkan seperti kesenggol lelaki bisa hamil, atau melakukan hubungan seks sekali-kali saja tidak mungkin hamil.

Ada pula mitos pembodohan tentang ukuran kemaluan dari seorang lelaki bahwa semakin besar kemaluan, maka semakin puas juga supaya awet muda sehingga banyak pula yang memperbesar kelamin.

“Sejatinya seks itu sesuatu yang luhur dan perlu diluhurkan. Hanya karena tradisi dan anggapan keliru yang menyudutkan seks sebagai dosa, maka banyak pula yang berpikiran bahwa seks itu kotor dan tidak santun,” tuturnya pada saat acara peluncuran buku Kesproholic Seri 2:Mitos Seputar Masalah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi di Hotel Atlet Century, Jakarta,beberapa waktu lalu.

Mitos selalu timbul pada peristiwa atau pengalaman yang secara nalar terbatas, tidak dapat dijelaskan mengenai apa yang terjadi. Oleh karena itu, mitos lebih banyak ditemukan di kalangan masyarakat yang kurang terpapar akan informasi yang benar. Lebih buruk lagi ketika peristiwa itu dirasakan kurang menyenangkan, atau tidak dapat diterima, maka akan dikaitkan dengan dosa.

Dengan demikian,maka akan terjadi penutupan diri terhadap informasi yang benar karena menganggap penjelasan dari tokoh agama atau spiritual itulah yang benar.

“Untuk mengubah pola pikir masyarakat yang masih salah, maka perlu ditingkatkannya pendidikan seks sehingga berkurang pula angka kawin muda, angka cerai, angka tidak virgin juga angka penyakit kelamin,” ucap dokter lulusan Universitas Atmajaya ini.

Atau bisa juga dengan mendapatkan informasi yang benar dan bertanggung jawab ihwal seks dan seksualitas dari membaca buku, majalah, tabloid, berkonsultasi dengan dokter, atau bisa juga dengan mengikuti seminar. Seperti mengenai mitos seks kesehatan reproduksi yang dikaitkan dengan Aprodisiak.

Aprodisiak merupakan unsur yang terkandung dalam benda tertentu, yang bisa menimbulkan sensasi seksual. Unsur tersebut dapat berupa dapat berupa kandungan nutrisi, aroma,bahkan jenis tanaman tertentu. Dan mitos yang beredar di masyarakat itu misalnya bahwa tiram mampu meningkatkan gairah seks padahal faktanya, tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa tiram mampu meningkatkan gairah seks seseorang.

“Hal seperti itulah yang bisa menyesatkan masyarakat,” papar Handrawan yang menjadi lulusan Universitas Indonesia di tahun 1981.

Mantan ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Prof Dr Kartono Muhammad, yang juga hadir di acara yang sama menuturkan, peran para pemimpin agama juga sangat diperlukan mengenai kesehatan reproduksi.

Kartono menuturkan, dampak kepercayaan kepada mitos-mitos dalam kesehatan reproduksi bisa berupa takut terhadap perkembangan seksualitas dirinya sendiri misalnya onani atau haid. Bisa juga berdampak pada kekeliruan mengambil tindakan yang berkaitan dengan seksualitas misalnya ingin memperbesar penis dan payudara.

“Jangan sampai ketika berbicara mengenai seks dan seksualitas justru dianggap pornografi atau bahkan tabu.Sehingga diperlukan penafsiran yang tepat dari pemuka agama mengenai seks dan seksualitas,” ucapnya.

Ketertutupan atau penutupan terhadap akses informasi yang benar memunculkan mitos-mitos yang tidak selamanya menguntungkan, namun justru bisa menjerumuskan seseorang. Bahkan mitos itu dapat berdampak negatif terhadap kehidupan seksual seseorang.

“Pendidikan seks atau apa pun namanya bukan hal praktik seks sebagaimana sering keliru ditafsirkan, melainkan bentuk pembekalan tata nilai hidup dengan lawan jenis,” katanya.(okezone.com/ysf.mitra)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

2 comments

  1. Tak Selamanya Mitos Itu Merugikan, Kalau kita telaah sebenarnya mengandung nilai filosofi yang tinggi, betapa tidak, begitu kental sampai bertahan hingga kini……..

  2. selama mitos tu baik dan mebawa positif bagus2 aja..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*