RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Salah Postur, Awas Sakit Pinggang

Salah Postur, Awas Sakit Pinggang

pinggangKeluhan nyeri pinggang bisa dialami setiap orang semasa hidupnya. Sebuah penelitian di Amerika menyebutkan, empat dari lima orang berusia di atas 50 tahun pernah rnerasakan nyeri pinggang setidaknya satu kali selama hidup.

Ketika pembantu rumah tangganya pulang kampung, Desi, ibu rumah tangga, terpaksa melakukan pekerjaan rumahnya sendirian. Selain merasa letih, ibu satu anak ini mendapat “bonus” berupa ngilu di bagian pinggangnya. Berbagai obat ngilu sudah diminumnya, mulai dari jamu tradisional hingga obat kimia yang dijual bebas di apotek. Hasilnya nihil. “Senut-senut di pinggang masih sering terasa,” ujar Desi.

Tak habis akal, Desi pun pergi ke tukang urut. Hasilnya? Rasa ngilu tersebut memang hilang, tetapi beberapa hari kemudian timbul kembali. Seorang teman menganjurkannya untuk memeriksakan diri ke dokter. “Saya tidak mau. Terus terang, saya takut dokter,” katanya.

Lupa pemanasan
Banyak orang belum menyadari bahwa pinggang mempunyai peran penting bagi kehidupan. Saat kita berdiri, pinggang berfungsi sebagai penyangga sebagian besar berat badan. Saat kita bergerak ke kiri atau kanan, pinggang membantu pergerakan sekaligus melindungi beberapa organ penting.

“Karena belum sadar, banyak orang yang lupa merawat pinggang,” kata Prof. Dr. Satyanegara, Sp.BS, MD, ahli bedah saraf dari RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Banyak orang kurang mementingkan peregangan untuk pinggang ketika hendak berolahraga. Padahal, dijelaskan oleh Prof. Satyanegara, otot-otot yang tadinya kaku akan kaget dan meregang tiba-tiba jika diajak berolahraga tanpa pemanasan sebelumnya. Kondisi itu bisa menimbulkan keluhan nyeri. Lalai melakukan pemanasan bisa menambah faktor risiko cedera atau trauma pada bagian pinggang. Trauma atau cedera bisa menciptakan robekan kecil pada otot pinggang.

“Seringkali masyarakat mengabaikan bagian pinggang. Mentang-mentang hendak main futsal, hanya melakukan pemanasan pada bagian kaki, bagian pinggang terlupakan,” ujarnya.

Kebiasaan duduk, berjalan, tidur, dan cara mengangkat beban yang salah seringkali juga menjadi penyebab keluhan nyeri pinggang. “Postur yang salah ketika menyetir pun bisa menjadi penyebab nyeri pinggang,” imbuhnya. Nyeri pinggang tidak hanya disebabkan faktor fisik. Di Indonesia, penyebab tersering nyeri pinggang adalah penyakit degeneratif dan proses penuaan.

Saat ini tidak jarang nyeri pinggang disebabkan penyakit ganas seperti tumor yang membutuhkan tindakan lanjut, baik tumor yang tumbuh di pinggang maupun di tempat lain, tetapi sudah menjalar ke bagian pinggang. Penyebab lain adalah infeksi, semisal karena kuman tuberkulosis. Nyeri pinggang juga bisa menjadi tanda skoliosis, yaitu kelengkungan tular belakang yang abnormal ke arah samping.

Mengobati Sendiri
Di negara berkembang, keluhan nyeri pinggang bisa menimbulkan masalah serius karena nyeri pinggang bisa menghambat produktivitas seseorang. Hal ini secara tidal langsung bisa berpengaruh pada faktor ekonomi dan kesejahteraan sebuah negara.

Sebuah penelitian mengemukakan, sekitar 20 persen dari seluruh penduduk di negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami nyeri pinggang. “Bayangkan saja, angka tersebut kan bukan jumlah yang sedikit,” ucap Prof. Satyanegara.

Nyeri pinggang justru lebih sering menyerang kaum usii produktif (usia 30-40 tahun). Korbannya lebih banyak pria daripada wanita. Dalam menangani kasus nyeri pinggang, yang diutamakan adalah mengatasi rasa nyeri, setelah itu dicari penyebabnya. “Lain    penyebab, lain pula pengobatannya. Karena itu, setiap pasien perlu pemeriksaan mendetail,” ungkapnya.

Sangat disayangkan, kebanyakan penderita selalu berusaha mengobati sendiri sakit pinggangnya dalam waktu cukup lama. Entah dengan obat medis penghilang rasa sakit ataupun dengan jamu tradisional.

Mengenai jamu yang dijual bebas di pasaran, Prof. Satyanegara tidak banyak berkomentar. “Yang penting adalah sikap waspada. Apalagi sampai saat ini sudah banyak ditemukan jamu palsu. Ingin sembuh, malah tambah sakit.

Efeknya tidak hanya membuat nyeri pinggang tidak lekas hilang, tetapi juga bisa merambat ke seluruh tubuh. Contohnya, karena minum jamu palsu, dalam jangka waktu lama, seseorang bisa mengalami gangguan di ginjal,” paparnya.

la menyarankan segera menghubungi dokter jika obat-obatan yang digunakan tidak mempan lagi dan rasa sakit makin menjadi.

(kompas.com/ysf.mitra)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*