RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Jangan Tanyakan Usia dan Jumlah Anak…

Jangan Tanyakan Usia dan Jumlah Anak…

anak-anakAda dua hal yang sensitif bila ditanyakan kepada masyarakat Mentawai di pedalaman. Yang pertama adalah usia dan kedua tentang jumlah anak. Pertanyaan seputar usia akan mendapatkan jawaban yang serba tidak pasti lantaran pencatatan tanggal lahir bukan menjadi kebutuhan bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, itu. Hampir semua warga di pedalaman hanya mengangkat bahu sambil tertawa karena mereka tidak tahu pasti kapan dilahirkan dan berapa usianya kini.

Pertanyaan tentang jumlah anak juga sensitif bagi sebagian ibu di situ. ”Jangan tanya jumlah anak kepada ibu Mentawai. Anak kami sekapal,” ujar Bai Seggeilolo, seorang ibu yang tinggal di Sangong, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Ibu yang tengah hamil ke-11 kali itu buru-buru menjauh ketika Kompas bertanya tentang jumlah anak. Dia pindah duduk mendekati ambang pintu. Di situ, Bai Seggeilolo termenung.

Tindakan ini seolah menunjukkan bahwa dia benar-benar marah dengan pertanyaan tentang jumlah anak. Namun, tak lama kemudian, ibu yang tidak bisa berbahasa Indonesia itu mendekat lagi.

”Sebenarnya saya sudah capai hamil. Ini badan saya pegal-pegal semua, mulai dari perut, pinggang, sampai punggung,” kata Bai Seggeilolo sambil menunjuk sekujur tubuh yang terasa lelah pada kehamilannya saat ini.

Selain capai hamil, Bai Seggeilolo—seperti halnya perempuan lain di Mentawai—saat hamil tetap harus mengerjakan pekerjaan sehari-hari, seperti pergi ke ladang, memasak, mencuci, menangkap ikan di sungai untuk tambahan lauk, hingga mengasuh anak.

Sebelum bercakap-cakap, Bai Seggeilolo baru tiba dari Saliguma, dusun yang berjarak tiga jam berjalan kaki melintasi bukit dan hutan. Dia pergi ke Saliguma untuk menengok putrinya yang baru saja menikah dengan pria Saliguma.

Pengabaian hak

Kehamilan bukan sesuatu yang dirasa perlu untuk dirawat intensif, seperti periksa rutin ke tenaga medis, mengurangi pekerjaan berat, dan mengonsumsi makanan bergizi. Nyaris tidak ada perlakuan berbeda antara perempuan hamil dan tidak hamil. Kondisi ini diperparah dengan tidak ada tenaga medis yang bisa membantu merawat kehamilan para ibu di situ.

”Tidak ada periksa-periksa kehamilan. Kalau mau periksa jauh sekali, harus ke Saliguma,” kata Bai Jetti yang tengah hamil lima bulan.

Sebelum kehamilan yang ke-10 ini, Bai Jetti sempat keguguran ketika usia kandungan tujuh bulan. Hanya selisih setengah tahun dari keguguran itu, dia sudah hamil lagi.

Jarak usia anak-anak umumnya berdekatan, yakni 1-2 tahun saja. Kasus keguguran merupakan hal yang dianggap biasa di kalangan masyarakat Mentawai.

Biasanya, penentu kehamilan adalah laki-laki. Bai Jetti, misalnya, sudah ingin berhenti punya anak. Namun, suaminya, Aman Jetti, bersikeras ingin punya anak lagi karena jumlah anak laki-laki baru dua dari lima anak yang lahir dan masih hidup. Empat anak lain meninggal saat di kandungan ataupun ketika masih bayi. Anak laki-laki merupakan pewaris harta di keluarga Mentawai.

Dengan kondisi serupa ini, ada persoalan hak asasi manusia yang belum terpenuhi, yakni pengabaian hak ibu untuk hidup sehat, termasuk menentukan kehamilan dan semasa hamil. Bila demikian, agaknya sulit mengharapkan manusia berkualitas lahir dari pedalaman Siberut. (kompas.com/ysf.mitra)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*