RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Microvaskuler Decompression, Sembuhkan “Muka Menceng”

Microvaskuler Decompression, Sembuhkan “Muka Menceng”

otakGejala spasme atau kejang spontan pada separuh wajah yang tidak bisa dikendalikan dan terus menerus secara bersamaan dari otot-otot wajah memang mengganggu. Tak jarang hal tersebut membuat penderitanya merasa malu bersosialisasi karena muka mereka tidak lagi simetris.

Seiring majunya bidang kedokteran, saat ini gangguan yang disebut hemifacial spasm, dapat disembuhkan menggunakan teknik mikroskop khusus melalui microsurgery atau bedah saraf mikro.

“Jika penyebab Hemifacial Spasm-nya karena tekanan pembuluh darah mikro yang menekan saraf no. 7 pada otak, maka penyembuhannya bisa menggunakan teknik Microvaskuler Decompression,” ujar dr. M. Sofyanto, SpBS, Spesialis Bedah Syaraf dari RS. Husada Utama, Surabaya, saat ditemui di Twin Plaza Hotel, Jakarta, Sabtu ( 15/8 ).

Microvaskular Decompression adalah teknik operasi yang telah dikembangakn di Surabaya sejak 5 tahun lalu. Sebelum operasi, pasien akan dianestesi (dibius)untuk menghilangkan rasa sakit dan cemas pada pasien. Selain itu, anestesi juga berguna untuk mengatur dan mempertahankan otak agar tetap lunak dan tidak tegang. Dengan begitu mudah untuk menjangkau di kedalaman tertentu di bagian otak, khususnya saraf facial (muka) yang merupakan target operasi.

Sebelum anestesi, dilakukan pemeriksaan laboratorium, rekam jejak dan foto dada untuk mengetahui kondisi pasien. Pasien mesti puasa 8 jam, meski masih boleh minum air putih secukupnya.

Selama operasi, semua indikator fungsi tubuh pasien akan terus dipantau, melalui monitor pemantau. Dengan mikroskop khusus yang dapat menjangkau sampai kedalaman tertentu dalam rongga kepala dan alat-alat monitor dalam kamar operasi. “Setelah sedikit kepala dibuka, lalu dicari saraf no. 7 yang tertekan. Setelah ketemu saraf yang dimaksud, lalu dipisahkan menggunakan telfon yang berkaki,” terang Sofyan.

Setelah berhasil melepaskan saraf yang tertekan, kepala kembali ditutup, dijahit serta ditambah lem yang khusus bagi manusia. “Jadi tidak akan copot,” guraunya.

Segera setelah operasi selesai, pasien langsung dibangunkan. Selanjutnya pasien akan diobervasi di ruang intensif, karena operasi ini kadang menyisakan rasa pusing dan atau mual.

Menurut Sofyan, setelah melakukan operasi, pasien akan terbebas dari penyakit muka menceng. Namun tidak menutup kemungkinan penyakit tersebut kembali, dan pasien harus menjalani operasi ulang. “Tapi itu sangat jarang,” ujarnya. Untuk menjalani operasi ini, pasien harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 30.000.000

Risiko Kecil

Walau sebagian kecil tempurung kepala harus dibuka, Sofyan menjamin tindakan tersebut hanya berisiko kecil. Sehari pascaoperasi, infus dan obat-obatan akan dihentikan. “Bahkan ada beberapa pasien yang sudah dapat pulang keesokan harinya,” kata dia.

Setelah melewati masa pemulihan, lanjutnya, pasien dapat beraktivitas seperti biasa. Mereka tidak perlu khawatir telfon yang tertanam di kepala akan bergeser. Pasalnya teflon tersebut mempunyai “kaki” dan akan terus menempel.

Meski berisiko kecil, kemungkinan pasien untuk mengalami efek samping masih ada. Selain nyeri, mual dan muntah akibat pengaruh obat-obatan dapat terjadi. Pasien juga dianjurkan untuk melakukan mobilisasi secara bertahap dengan melakukan gerakan ringan. “Biasanya memang ada lelah, kalau ada keluhan yang masih dirasakan harus segera menghubungi dokter,” tukas dia.Gejala spasme atau kejang spontan pada separuh wajah yang tidak bisa dikendalikan dan terus menerus secara bersamaan dari otot-otot wajah memang mengganggu. Tak jarang hal tersebut membuat penderitanya merasa malu bersosialisasi karena muka mereka tidak lagi simetris.

Seiring majunya bidang kedokteran, saat ini gangguan yang disebut hemifacial spasm, dapat disembuhkan menggunakan teknik mikroskop khusus melalui microsurgery atau bedah saraf mikro.

“Jika penyebab Hemifacial Spasm-nya karena tekanan pembuluh darah mikro yang menekan saraf no. 7 pada otak, maka penyembuhannya bisa menggunakan teknik Microvaskuler Decompression,” ujar dr. M. Sofyanto, SpBS, Spesialis Bedah Syaraf dari RS. Husada Utama, Surabaya, saat ditemui di Twin Plaza Hotel, Jakarta, Sabtu ( 15/8 ).

Microvaskular Decompression adalah teknik operasi yang telah dikembangakn di Surabaya sejak 5 tahun lalu. Sebelum operasi, pasien akan dianestesi (dibius)untuk menghilangkan rasa sakit dan cemas pada pasien. Selain itu, anestesi juga berguna untuk mengatur dan mempertahankan otak agar tetap lunak dan tidak tegang. Dengan begitu mudah untuk menjangkau di kedalaman tertentu di bagian otak, khususnya saraf facial (muka) yang merupakan target operasi.

Sebelum anestesi, dilakukan pemeriksaan laboratorium, rekam jejak dan foto dada untuk mengetahui kondisi pasien. Pasien mesti puasa 8 jam, meski masih boleh minum air putih secukupnya.

Selama operasi, semua indikator fungsi tubuh pasien akan terus dipantau, melalui monitor pemantau. Dengan mikroskop khusus yang dapat menjangkau sampai kedalaman tertentu dalam rongga kepala dan alat-alat monitor dalam kamar operasi. “Setelah sedikit kepala dibuka, lalu dicari saraf no. 7 yang tertekan. Setelah ketemu saraf yang dimaksud, lalu dipisahkan menggunakan telfon yang berkaki,” terang Sofyan.

Setelah berhasil melepaskan saraf yang tertekan, kepala kembali ditutup, dijahit serta ditambah lem yang khusus bagi manusia. “Jadi tidak akan copot,” guraunya.

Segera setelah operasi selesai, pasien langsung dibangunkan. Selanjutnya pasien akan diobervasi di ruang intensif, karena operasi ini kadang menyisakan rasa pusing dan atau mual.

Menurut Sofyan, setelah melakukan operasi, pasien akan terbebas dari penyakit muka menceng. Namun tidak menutup kemungkinan penyakit tersebut kembali, dan pasien harus menjalani operasi ulang. “Tapi itu sangat jarang,” ujarnya. Untuk menjalani operasi ini, pasien harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 30.000.000

Risiko Kecil

Walau sebagian kecil tempurung kepala harus dibuka, Sofyan menjamin tindakan tersebut hanya berisiko kecil. Sehari pascaoperasi, infus dan obat-obatan akan dihentikan. “Bahkan ada beberapa pasien yang sudah dapat pulang keesokan harinya,” kata dia.

Setelah melewati masa pemulihan, lanjutnya, pasien dapat beraktivitas seperti biasa. Mereka tidak perlu khawatir telfon yang tertanam di kepala akan bergeser. Pasalnya teflon tersebut mempunyai “kaki” dan akan terus menempel.

Meski berisiko kecil, kemungkinan pasien untuk mengalami efek samping masih ada. Selain nyeri, mual dan muntah akibat pengaruh obat-obatan dapat terjadi. Pasien juga dianjurkan untuk melakukan mobilisasi secara bertahap dengan melakukan gerakan ringan. “Biasanya memang ada lelah, kalau ada keluhan yang masih dirasakan harus segera menghubungi dokter,” tukas dia. (kompas.com/ysf.mitra)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*