RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Wanita » Menjinakkan Hati yang Liar

Menjinakkan Hati yang Liar

Saat itu Rasulullah tengah berada di masjid di antara para sahabat yang duduk mengitarinya. Seorang Badui datang dengan maksud meminta barang- barang berharga dari beliau. Sambil berdiri si badui berdiri menyampaikan hajatnya. Tanpa bertele- tele, Nabi memberinya sesuatu alakadarnya. Si Badui merasa kurang. Tidak hanya itu, dia juga berkata kasar dan keji terhadap Nabi sampai semua sahabat naik pitam dan nyaris bertindak kasar terhadapnya. Untunglah Nabi cepat mencegah dan meredakan.

Esoknya Nabi mengajak badui itu ke rumahnya, dan menambahkan sejumlah pemberian lain sebagai pertolongan untuknya. Hari itu si Badui menyaksikan dari dekat keadaan Nabi yang ternyata tidak sama dengan keadaan pemimpin- pemimpin lain yang pernah dilihatnya. Di rumah Nabi tidak terdapat hadiah- hadiah dan harta yang banyak. Melihat itu si badui merasa cukup dan mengucapkan rasa termakasihnya kepada Nabi.

Pada hari berikutnya Badui ini datang ke masjid. Di depan para sahabat yang kemarin nyaris berindak kasar kepadanya, Badui ini menyampaikan sekali lagi rasa terimakasihnya kepada Nabi. Menyaksikan perubahan besar sikap badui itu, semua sahabat tertawa.

Rasulullah kemudian menghadap sahabat- sahabatnya dan berkata: “Antara aku dan orang semacam ini, bagaikan seorang yang terlepas untanya dari pemiliknya. Semua orang mengejar onta itu sambil berteriak, tapi unta itu justru terus berlari semakin jauh. Kemudian pemilik unta itu berkata: aku lebih tahu bagaimana harus menjinakkan unta itu. Kalaulah kemarin aku biarkan kalian bertindak sesuka hati tentu si badui ini bisa mati dalam keadaan yang celaka (keadaan kufur). Tapi aku larang kalian, dan aku menjinakkannya dengan lemah lembut dan kasih sayang.”

Menghadapi orang yang berhati liar dan kurang ajar, sering kita terpancing marah dan reaktif. Apalagi jika hal itu sudah kelewat batas. Terasa ada nyeri di dada yang tak tertahankan untuk diledakkan. Itulah pula yang dirasakan sebagian sahabat. Begitu badui mengata- ngatai dengan kasar kepada Nabi, mereka terpancing berbuat kasar juga guna memberi pelajaran setimpal. Namun Nabi telah memberikan pelajaran kepada kita dengan tindakan yang lebih mengena yang patut kita teladani bagaimana menjinakkan hati yang liar.

Menahan Diri

Dalam kehidupan sehari- hari, ternyata memang tidak mudah menyikapi orang yang liar dan memancing marah seperti itu. Emosi yang meluap membuat kita bertindak spontan tanpa pikir lagi. Rasanya saat itu tak ada pilihan lagi kecuali melampiaskan kemarahan. Sepertinya akan terpuaskan kalau bisa meledakkan segera.

Benarkah akan terpuaskan? Sesaat setelah terlampiaskan memang seperti lega. Tetapi terbukti sikap emosional bukannya menyelesaikan, malah membuat keadaan semakin keruh. Masalah yang sebenarnya bisa sederhana menjadi rumit. Sikap emosional kita itu tentu akan menyulut reaksi emosional yang lebih tinggi lagi. Apalagi jika temperamen orang yang kita hadapi itu keras seperti badui di atas. Sudah barang tentu sikap emosional itu membuat hatinya kian tertutup dan semakin bertindak membabi buta.

Untuk merespon tindakan bodoh orang lain, sudah barang tentu bukan dengan tindakan emosional. Cara paling tepat adalah menahan diri. Dengan kita menahan diri, emosi yang berkecamuk akan reda. Pikiran yang semula keruh berangsur jernih. Air kolam jiwa, yang semula bergolak dan keruh, akan berangsur kembali tenang dan jernih. Bukankah kita hanya bisa bercermin diri pada air yang tenang? Persoalan akan bisa kita lihat apa adanya, bukan dikotori perasaan kita yang sedang berkecamuk itu.

Pada kenyataannya, kemampuan menahan diri ini akan banyak menyelesaikan masalah. Terbukti mereka yang mampu menahan diri lebih sukses dalam profesi maupun kehidupan sehari- hari dari pada yang reaktif. Mereka bisa menjalin komunikasi dan hubungan dengan orang lain lebih selaras dan harmonis. Kalau dahulu orang gandrung dengan IQ (kecerdasan intelektual), sekarang bergeser pada EQ (kecerdasan emosi). Bahkan tren terakhir ada kecerdasan yang lebih menentukan lagi yaitu SQ (kecerdasan spiritual). Rasul dalam teladan diatas menggambarkan bagaimana beliau teramat cerdas secara emosional dan spiritual. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang terkendali seperti beliau?

Ramadhan, mustinya bisa membuahkan pribadi yang mampu menahan diri. Karena dalam puasa kita dilatih mengendalikan hawa nafsu. Saat ada orang yang memancing kemarahan, Rasul memberikan tuntunan; katakanlah: “Sesungguhnya saya orang yang berpuasa.” Kita tidak melayaninya dengan emosional tetapi bersikap sabar dan teguh. Tidak reaksioner. Inilah puasa yang diajarkan Rasul. Tidak sekedar menahan makan dan tidak minum, tetapi juga menahan segala sikap dan prilaku yang tidak senonoh. Berbahagialah orang yang telah meraih buah puasa ini. Karena dia menjadi insan unggulan yang memiliki kecerdasan emosional itu. Dan itulah salah satu wujud nyata dari taqwa.

(Orang- orang yang bertakwa yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imron: 134)

Tindakan Kasih Sayang

Secara fitrah, setiap orang sesungguhnya memiliki potensi nilai- nilai kasih sayang dalam dasar hatinya. Cobalah bersikap tenang dan rileks. Maka respon kita terhadap sekeliling kita akan dengan mudah bisa memancarkan sifat kasih ini. Dengan bibir tersenyum, nilai kasih sayang itu serasa mengalir begitu saja. Kita terasa ringan menolong sesama dan menikmatinya. Seperti suasana Idul Fitri, dalam keadaan tenang dan jernih nilai- nilai fitrah kasih sayang itu terasa mudah mengalir dan menyegarkan suasana. Orang dengan mudah berlapang dada saling bermaaf- maafan.

Tapi kita tidaklah selalu menghadapi keadaan yang kondusif seperti itu. Hidup ini adalah ujian dengan segala persoalannya. Tiba- tiba muncul di depan kita sikap orang yang menyulut marah. Dalam keadaan demikian itu, apakah kita masih bisa tetap bertindak sesuai dengan kasih sayang? Saat demikian inilah kualitas diri kita sedang diuji. Asalkan hati ini tetap tenang dan dapat menahan diri, kita masih bisa melihat dasar fitrah hati ini. Namun kalau hati bergolak, tentu akan membuatnya keruh. Yang tampak adalah endapan kotoran emosi. Itulah yang akhirnya meledak tidak karuan.

Pengalaman dan kesan selama latihan menahan diri dalam Ramadhan dapatlah kita jadikan sebagai bekal meniti perjalanan hidup lebih bermakna. Menghadapi persoalan lebih tenang dan jernih. Terbukti cara Rasulullah menghadapi Badui dengan tenang dan kasih sayang bisa menjadi alternatif tindakan yang lebih baik dari pada membalasnya dengan kasar. Rasul justru mengundangnya ke rumah dan memberi Badui itu segala keperluan meskipun saat itu sebenarnya beliau tidak banyak harta yang dimiliki.

Jika emosional hanya berpikir menyerang, sikap kasih sayang akan membawa kita pada kecerdasan dan tindakan yang lebih bernilai. Kita mampu melihat persoalan tidak hanya dari kacamata kita, tetapi juga mampu memahami dari perasaan orang lain. Yang muncul adalah sikap empati dan bijak. Respon- respon yang dilakukan adalah yang terbaik. Tidak terjebak pada logika menang kalah tetapi rahmatan lil alamin. Inilah sifat- sifat utama Rasul dalam menghadapi ummatnya sehingga beliau sukses dalam mengemban amanah dakwah.

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS. At Taubah : 128)

Percayalah sekeras- keras orang, dalam lubuk hatinya masih bisa menangkap pancaran kasih sayang. Begitu menangkap pancaran kasih sayang itu, tali kecapi hati mereka akan tersentuh. Fitrah kasih sayang dalam hati mereka pun tergetar. Kisah di atas telah memberikan gambaran yang sangat jelas. Badui yang semula bertindak kasar itu menjadi luluh. Pancaran kasih sayang dari hati Nabi itu telah menjinakkan hati yang liar itu.

Semoga Idul Fitri kali ini, tetap bersemayam dalam hati. Kasih sayang yang mekar dalam kalbu tidaklah cepat layu. Dan kemesraan yang terpancar mudah- mudahan tetap di hati kita selalu.

Hanif Hannan

Baca Juga

curhat

10 Tanda Orang Yang Bisa Dipercaya Untuk Tempat Curhat

MitraFM.com– Kodrat manusia adalah sebagai mahluk sosial, kita tidak bisa lepas dari campur tangan orang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*