RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Bantu si Kecil Atasi Stres

Bantu si Kecil Atasi Stres

STRES bukan milik orang dewasa semata, anak bahkan bayi bisa mengalaminya. Kehangatan keluarga dan dukungan orangtua membantu si kecil mengendalikan rasa stresnya.

Mengatasi stres mungkin tidak masalah bagi orang dewasa, tapi bagi anak stres itu bisa sangat menakutkan dan sulit mengatasinya. Stres timbul karena adanya penyebab stres (stressor). Stres pada anak dapat dipicu, antara lain karena pindah rumah, situasi rumah, perceraian, sekolah baru, dan kematian seseorang yang dicintai. Kompetisi dan sikap orangtua yang suka membanding-bandingkan juga dapat membuat anak kurang percaya diri dan akhirnya memicu stres.

“Kejadian kecil sekalipun dapat menjadi penyebab stres anak karena mereka belum belajar bagaimana menghadapinya,” kata Senior Medical Officer of Health for Alberta Health Services, Dr Gerry Predy.

Tingkat stres yang diakibatkan pada masing-masing peristiwa (stressor) bersifat sangat individual. Ambil contoh dalam satu pesawat terdapat beberapa penumpang balita. Saat pesawat sudah mengudara, mengapa ada balita yang menangis terus-menerus, tapi ada pula yang anteng saja di pangkuan ibunya?. Tangisan bayi memang bisa beragam maknanya, mungkin ia ketakutan, kesakitan telinganya, kegerahan, atau sekadar bosan. Namun yang pasti, ada hal yang membuatnya tidak nyaman.

Usia balita dengan kemampuan berkomunikasi terbatas memang lebih sulit mengekspresikan rasa stres. Paling-paling mereka hanya bisa menangis tanpa sebab, tantrum, dan kesulitan tidur atau bahkan mimpi buruk. Tak jarang orangtua pun dibuat bingung. Di sinilah pentingnya kejelian orangtua untuk menganalisis penyebab stres anak dan mengajarkan bagaimana cara mengendalikannya.

Anak-anak biasanya memerlukan penyesuaian diri yang lama terhadap situasi baru. Momen pertama kali anak mulai bersekolah misalnya, dapat menjadi momok bagi orangtua sekaligus trauma bagi si kecil. Hal ini akan terjadi bilamana orangtua tidak melakukan persiapan, misalnya dengan melatih kemandirian anak dan mengenalkan anak dengan lingkungan sosial di luar rumah.

“Kesiapan anak untuk bersekolah tak sekadar dinilai dari anak sudah mandiri dalam arti misalnya sudah bisa melepas sepatu sendiri dan menaruh mainannya dalam kotak, mandiri secara emosional juga penting!” kata psikolog anak Alzena Masykouri MPsi.

Saat pertama masuk sekolah, sudah pasti anak berhadapan dengan kelas dan lingkungan baru, serta guru baru. Anak yang mandiri secara emosional biasanya tidak mempermasalahkan manakala ibunya hanya menunggui di luar, sementara dia di dalam kelas.

“Ada semacam rasa ?percaya’ bahwasanya tidak apa-apa ibunya di luar, kan di dalam ada guru. Tapi kalau ternyata dia menangis, orangtua harus mengobservasi penyebabnya, bisa jadi itu merupakan respons dari ketidaknyamanan,” tuturnya.

Saat berhadapan dengan stres, setiap anak bisa menunjukkan reaksi berbeda-beda. Ada yang cenderung tidak terlalu terganggu dan tetap mampu menjalankan aktivitas rutin sehari-hari. Ada pula yang mengalami gangguan tidur, sulit makan, atau mendapat nilai jelek di sekolah.

Menurut psikolog anak Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Wahyuni Kristinawati Psi, hal ini terjadi karena masing-masing anak memiliki perbedaan pemaknaan terhadap situasi yang terjadi di hadapannya.

“Selain itu, reaksi orang dewasa di sekitar anak merupakan faktor yang tidak dapat dilepaskan dari reaksi anak itu sendiri. Misalnya, seorang ibu yang tetap memberi perhatian memadai setelah terjadinya perceraian, tentu akan menghambat stres yang lebih besar daripada ibu yang mengalami gangguan emosi cukup hebat,” beber Yuni.

Stres berat yang terjadi dalam jangka panjang juga dapat menimbulkan gejala fisik. Pada balita dan anak kecil, biasanya disertai keluhan sakit kepala, sakit perut, grogi, gemetar, dan adakalanya ngompol. Meningkat di usia SD, gejala yang timbul lebih mudah dikenali. Misalnya perilaku menjadi lebih agresif, berteriak, perubahan sikap di sekolah, berkelahi, mengemut jempol, ngompol atau terkadang bicaranya jadi gagap.

Lain lagi pada anak remaja. Gejala yang tampak misalnya mood yang jelek, sulit menenangkan diri, sakit kepala, tidak bersemangat, penumpulan perasaan, hingga membolos dari aktivitas sekolah. Mungkin orangtua berpikir itu sebagai pengaruh pubertas atau hormon, padahal bisa juga sebagai gejala stres.

Guna mencari solusinya, diharapkan orangtua dan guru ikut terlibat mengomunikasikannya dengan sang anak. “Cara terbaik membantu anak menghadapi stres adalah dengan berbicara kepadanya. Bicarakanlah secara terbuka tentang apa yang dirasakan dan carilah solusinya bersama. Pastikan juga lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak,” saran Predy.

“Saat berbicara dengan anak, orangtua juga harus menyaring ucapannya dan tetap bersikap tenang, dalam arti tidak menampakkan kekhawatiran atau kecemasan di hadapan anak,” sebut psikolog anak dari Indiana University School of Medicine, Michele C Thorne PhD.

Thorne menyarankan pertemuan keluarga mingguan, terutama padakeluarga yang karena kesibukan masing-masing memang susah sekali untuk berkumpul bersama. Pada momen ini, pancinglah anak untuk bertanya atau mengajukan usulan, misalnya saat menentukan rencana pergi berakhir pekan di luar kota.

“Kesempatan mengemukakan pendapat, meskipun pada usia dini, dapat menjadi awal yang baik. Di samping hubungan orangtua dengan anak menjadi lebih baik, hal ini juga akan mengembangkan kemampuan berpikirnya,” imbuh Yuni.

Senada Thorne, konselor dari Amity International School, Reena Seghal, sepakat bahwasanya jalan keluar mengatasi stres anak dimulai dari rumah, yakni mengedukasi orangtua jangan suka memojokkan anak, justru berusaha memberi dukungan.

“Selanjutnya, baik sekolah, konselor, dan ahli kesehatan harus tetap berkomunikasi dengan anak melalui sesi bimbingan dan konseling sehingga dapat memahami bahwasanya setiap anak memiliki latar belakang dan kepribadian berbeda-beda,” sebut Seghal.

Sementara itu, Geetanjali Kumar dari the Central Board of Secondary Education (CBSE) India, mengungkapkan bahwa 1 dari 10 anak berisiko mengalami stres. Ia mengharapkan adanya penambahan kurikulum pembelajaran di sekolah, terutama dalam hal keterampilan kecakapan hidup, bukan hanya tentang perubahan fisik, juga psikis dan emosi.

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

One comment

  1. now see, this type of stuff simply doesn’t make sense

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*