RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Kehamilan & Kelahiran » Adikku Menghapus Air Matanya

Adikku Menghapus Air Matanya

Dilema ibu pekerja, antara kantor dan anak. Solusinya bagaimana?

Adikku menghapus air matanya. Ritual ini berjalan setiap dia akan berangkat ke kantor. Si kecil akan
meronta-ronta menolak untuk berpisah dari ibu
kesayangannya. Sementara sang ibu harus berkejaran dengan waktu untuk menunaikan tugasnya di kantor. Sang ibu dengan penuh perasaan bersalah harus meninggalkan buah hatinya di tangan seseorang yang notabene tidak dikenalnya. Seorang pembantu yang berasal dari yayasan antah berantah, dan hanya Tuhan yang tahu pikiran seperti apa yang berkecamuk dalam kepalanya saat mengasuh anak.

Adikku berkeluh kesah, panjang pendek, “Aku tak rela, tak dapat menyaksikan sendiri anakku memulai langkah pertamanya, mengucapkan kata pertamanya, bahkan aku tak rela bila dia harus menggantungkan diri pada orang lain selain pada aku sendiri ibu kandungnya.”

Sementara berhenti bekerja pada saat ini kelihatannya belum bisa dimasukkan dalam daftar alternatif. Dia kembali mengusap airmatanya, membayangkan buah hati yang sedang lucu-lucunya itu.

Dilema ibu bekerja. Bukan hanya adikku, tapi semua ibu bekerja lain menghadapinya. Pilihan yang sangat berat. Di satu pihak, ilmu telah dituntut bahkan sampai ke pelosok bumi, menunggu untuk diamalkan dan dirasakan manfaatnya oleh sekitar. Di lain pihak kualitas generasi penerus yang akan menentukan ke mana arah bangsa Indonesia kelak, berada dalam genggaman ibu.

Bila ibu memilih berkarir, ibu akan memperoleh sarana untuk aktualisasi diri dan mengamalkan ilmunya, tapi akan kehilangan saat-saat berharga untuk membina sendiri anak-anaknya. Tapi bila ibu memilih di rumah, kadang kekecewaan karena tidak menemukan sarana untuk menuangkan aktualisasi diri, tersibak dalam bentuk ketidakpuasan yang tentunya akan berimbas juga pada sang anak. Serba salah.

Memang betul tidak mudah untuk menjadi seorang ibu. Sungguh tidak mudah.  Tapi sungguh menarik untuk mengamati apa yang terjadi di sekeliling kita.

Sebagian dari kita kaum ibu mengorbankan karir untuk tinggal di rumah. Namun kekosongan jiwa karena kehilangan sarana aktualisasi diri menyebabkan sang ibu menyibukkan diri dengan ikut arisan, jalan-jalan di mal atau menyaksikan acara-acara telenovela serta acara idola lainnya yang bertebaran dalam program televisi.

Memang kadang kuantitas waktu bersama antara anak dan ibu bisa sangat panjang namun waktu tersebut dilalui tanpa kualitas yang berarti. Dan anak mempunyai pembantunya sendiri yang mesti tunduk pada perintah si raja atau ratu kecil. Sungguh sedih menyaksikan seorang anak yang hidupnya selalu tergantung pada bala bantuan, tak dibiasakan untuk bertanggung jawab membereskan porak poranda yang telah ditimbulkannya sendiri. Kita bayangkan setelah besar nanti, dia akan mengharapkan orang lain untuk bertanggung jawab terhadap masalah yang ditimbulkannya sendiri.

Sebagian ibu lain larut dalam karir dan pekerjaan seakan waktu tak pernah cukup. Bahkan ada yang rela meninggalkan anaknya berbulan-bulan lamanya atas nama karir dan pengembangan diri. Sebagian anak mereka menjadi sangat dekat pada figur pembantu. Bahkan melebihi kedekatan pada ibu kandung mereka sendiri.

Bingung, sebagai seorang ibu, tiap hari kita dihadapkan pada pergulatan pilihan, sedang apa yang akan dilakukan sekarang, tanpa sadar akan turut mencetak pola perilaku si anak di masa mendatang. Sungguh pilihan yang tak mudah.

Apalagi bila pilihan itu harus diambil oleh seorang ibu yang hidup dan bekerja di Indonesia. Aku mendengar sendiri komentar miring dari seorang Bapak mengenai rekan kerjanya yang suatu kali terpaksa membawa anak lengkap dengan pengasuhnya ke tempat kerja. Si ibu dicap sebagai ibu yang tidak profesional, meskipun aku amati, pada saat jam kerja, si ibu tidak pernah meninggalkan pekerjaannya, dan hanya menemui anaknya ketika jam istirahat tiba. Begitulah, kita masih belum lagi menghargai hak memberi pengasuhan dari seorang ibu yang bekerja.

Aku teringat bertahun-tahun yang lalu, saat menjadi seorang ibu muda dengan dua orang anak di Negara Paman Sam. Aku amat beruntung mendapat kesempatan untuk bekerja part time di sebuah konsultan manajemen Mohran Stahl and Boyer, sebuah perusahaan yang memberikan pelatihan untuk para eksekutif di Amerika. Aku berperan sebagai resource person (nara sumber) untuk pelatihan yang mempersiapkan eksekutif Amerika yang akan diterjunkan untuk bermitra dengan para pebisnis dari Asia Tenggara. Mereka ingin tahu langsung latar belakang budaya semacam apa yang akan mereka hadapi, termasuk tata cara, adat istiadat dan kebiasaan rekan kerja mereka nantinya. Kadang pelatihan ini dilangsungkan di daerah peristirahatan sehingga otomatis para resource person harus meninggalkan rumah selama beberapa hari.

Ketika pertama kali ditawarkan untuk berperan serta sebagai resource person untuk pelatihan di luar kota, dengan serta merta aku menolak dengan alasan tidak bisa meninggalkan kedua anak balitaku. Manajerku, seorang wanita baya yang baik hati, tertawa ramah dan berkata,” Jangan bercanda, tentu saja kami tidak ingin memisahkanmu dari kedua anak balitamu. Company akan membayar seluruh biaya untuk kedua anakmu plus baby sitternya, lengkap beserta fasilitas yang mereka perlukan seperti transportasi dan penginapan. Kami tentunya tidak ingin dicap sebagai perusahaan yang tidak menghargai hak memberi pengasuhan dari seorang ibu.

Sambil berkedip dia menambahkan, klienku yang menghendaki pelatihan ini pastinya juga tak mau dituntut sebagai perusahaan yang mengabaikan hak seorang ibu, bila dia menolak membiayai semua kebutuhan pasukan balitamu. So, no problem,” senyumnya sambil merangkulku dengan ramah.

Saat itu aku ternganga, tak percaya akan keberuntunganku.

Akhirnya kami seperti mendapat liburan gratis, oh ya bukannya gratis tapi malah dibayar untuk berlibur beserta ke dua balitaku dan seorang baby sitter yang alhamdulillah adalah teman karibku sendiri. Kami ditempatkan di sebuah suite khusus dengan tiga kamar dan fasilitas lengkap, di sebuah resort hotel mewah di pegunungan Aspen. Suatu liburan yang tak mungkin terjadi bila harus membayar dari kocek sendiri. Selama jam pelatihan aku berada di ruangan training. Tetapi saat break, rehat kopi dan makan siang, aku bermain riang dengan kedua anakku, yang kelihatannya amat menikmati liburan mereka.

Betapa beruntungnya para ibu di negara maju yang benar-benar telah menghargai hak seorang ibu untuk memberikan pengasuhan pada anaknya. Semakin banyak disediakan fasilitas untuk memudahkan para ibu untuk bekerja tanpa harus mengorbankan buah hatinya. Acuannya adalah target pekerjaan tercapai. Karena yang dipentingkan adalah kualitas pekerjaan dan bukannya kuantitas waktu yang dihabiskan di kantor, maka dengan memanfaatkan fasilitas teknologi telekomunikasi, target kerja ini sebagian dapat mereka lakukan dengan bekerja dalam kenyamanan rumah sendiri. Dengan begini, si ibu tetap dapat menyumbangkan intelektualitasnya tanpa mengorbankan hak pengasuhan untuk anak-anaknya.

Aku berangan-angan. Ah, andai, para pembuat kebijaksanaan di negeri ini ingat betapa mulianya dan pentingnya posisi seorang ibu. Dan betapa masa depan negeri ini bergantung pada peran ibu dalam mengasuh anaknya, sehingga beramai-ramai mereka memperjuangkan hak seorang ibu untuk memberikan pengasuhan pada anaknya tanpa mengurangi kesempatan bagi mereka untuk juga menyumbangkan intelektualitas mereka di dunia kerja. Aku yakin akan banyak bermunculan bunda-bunda professional dalam artian bunda yang mengasuh anaknya dan pada saat yang sama juga dapat menyumbangkan intelektualitasnya di dunia pekerjaan tanpa harus mengorbankan salah satu di antara keduanya. Tentu segala dilemma yang dialami para bunda, tak perlu lagi terjadi. Ah, seandainya!* (mitrafm.com)

Baca Juga

ASI

Tips Mempertahankan Kualitas dan Kuantitas ASI Saat Puasa Ramadhan

MitraFM.com– Ketika Bulan Ramadhan tiba tak sedikit ibu-ibu muslimah yang menyusui yang ingin tetap berpuasa. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*