RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Anak » Omar Bakre Forever

Omar Bakre Forever

Semenjak terbitnya buku ke-7 saya, “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok, Hikmah Pembakar Jiwa Entrepreneur dan Investor”, saya jadi sering berhubungan dengan komunitas guru. Komunitas orang-orang yang dalam bahasa jawa disebut “digugu lan ditiru”. Komunitas pemilik lagu “Pahlawan Bangsa Tanpa Tanda Jasa”

Komunitas guru bagi kita tentu bukan sesuatu yang jauh. Saya sendiri merasakan beberapa guru yang turut mengukir jiwa. Dekat sekali. Salah satunya misalnya adalah Pak Nardi, seorang guru agama SD yang mendidik saya untuk sholat. Sesuatu yang kemudian saya bawa hingga saat ini. Ayah ibu saya pun sholat secara tidak langsung melalui pak Nardi. Beliau sholat setelah melihat putra-putrinya sholat dengan bimbingan Pak Nardi. Inilah sebagian kecil dari komunitas guru yang telah mengukir jiwa ini. Semoga pahalanya dilipatgandakan.

Dengan Pak Nardi dan kawan-kawan para guru inspiratif, saya mendengarkan. Saya terinspirasi untuk berbuat yang lebih baik. Dengan hadirnya buku ke-7, saya berjumpa dengan komunitas guru dengan format agak berbeda. Saya diberi kesempatan untuk berbicara dan menginpirasi mereka. Menginspirasi para inspirator. Tentu sangat menarik. Hati saya berbunga-bunga. Itulah suasana menjelang berbicara untuk pertama kali di depan para guru. Bagaimana kenyataannya? Berbalik 180 derajad. Hati yang berbunga-bunga berbalik arah. Saya stress. Selama ini saya banyak bicara di forum-forum perusahaan. Saya menjumpai audiens yang rasa ingin tahunya tinggi. Sepanjang acara yang sering kali dari pagi sampai magrib, semua peserta perhatian penuh terhadap materi. Antusias. tidak ada yang berbisik dengan sesama peserta. Bapak ibu guru ketika itu? Lebih dari separuh peserta sepanjang acara ngobrol sana sini dengan peserta lain. Tidak berkonsentrasi terhadap materi. Ruang acara jadi tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional. Pasar becek. Pasar kelas bawah.

Setelah acara, saya merenung. Akhirnya saya bisa berdamai dengan suasana. Saya menyimpulkan bahwa bapak ibu guru di forum itu tidak salah. Saya yang salah. Saya tidak bisa menyampaikan materi dengan menarik. Saya tidak pinter. Dengan bahasa suroboyoan….saya goblok!

■■■■

Waktupun berjalan. Suatu saat kemudian, saya berkesempatan untuk berbicara di depan forum para guru lagi. Karena pengalaman pertama yang membikin stress, untuk pertemuan kedua ini saya sudah siap. Siap dengan kondisi apapun. Tentu saja tetap dengan hati penuh harap. Faktanya? Tidak jauh berbeda dengan forum pertama.

Forum ketiga? Keempat? Kelima? Dan seterusnya? Saya bersyukur karena beberapa kali saya sempat berbicara untuk beberapa guru sekolah islam favorit baik di Surabaya maupun di luar kota. Suasananyanya jauh lebih bagus. peserta penuh perhatian. Penuh minat belajar. Walaupun masih kalah jauh dengan forum di perusahaan-perusaha an yang selama ini lebih banyak saya geluti.

Ternyata kondisinya hampir sama. Tidak jauh berbeda. Bahkan, awal Januari ini saya dibuat benar-benar stress dalam sebuah forum komunitas bapak ibu guru. Disamping kondisi forumnya yang berat seperti sebelum-sebelumnya, ada lagi yang membuat saya jauh lebih stress. Ada banyak guru yang ikut seminar hanya karena menginginkan sertifikatnya saja. Datang ketika acara sudah berjalan satu jam. Santai-santai menikmati kopi dan kue sebelum masuk ruangan. Ikut materi tidak sampai satu jam. Itupun ngobrol sana-sini. Acara selesai dan pulang membawa sertifikat untuk sertifikasi guru.

Itu sudah cukup? Belum. Ada seorang yang mendaftarkan enam nama menjadi peserta seminar. Saat acara, yang datang hanya satu. Itupun masuk di ruang seminar hanya sesaat. Kehadirannya di hotel tempat acara lebih banyak dipakai untuk “bertengkar” dengan panitia. Ia ngotot minta sertifikat untuk lima kawan guru yang didaftarkannya. Sementara panitia tetap pada pendiriannya untuk tidak tipu-tipu dengan sertifikat. Tidak mau memberikan sertifikat kecuali kepada peserta seminar . Yang tidak hadir tentu bukan peserta seminar walaupun telah membayar uang pendaftaran. Tidak ada sertifikat bagi yang tidak hadir. Keukeuh. Itu kata orang Sunda. Maka, pertengkaran pun berlanjut hingga beberapa hari setelah seminar berakhir melalui sms-sms keras. Luar biasa.

Dalam kegalauan seminar pasa seminar ini, saya menelepon ketua Dewan Pendidikan Surabaya, Isa Anshori. Curhat tentang apa yang saya alami. Ternyata, dia pun mengambil kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Pengalamannya, dari forum-forum guru yang dihadirinya, hanya sekitar 40% saja dari peserta seminar yang punya minat pembelajaran tinggi. Itulah yang mau mengikuti forum dengan antusias. Tidak ngobrol di forum. Datang seminar karena ingin belajar. Bukan karena sertifikat. Di akhir pembicaraan saya bertanya: ini kesimpulan Isa Anshori secara pribadi atau kesimpulan ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya? Ia menjawab mantab: kesimpulan Ketua Dewan Pendidikan Surabaya. “Saya Bertanggung Jawab!”, tegasnya mantab.

■■■■

Umar bakreee….umar bakree…pegawe negreee….tapi mengapa gaji guru umar bakreee seperti juga kereee…… Itulah penggalan syair lagu Iwan Fals yang berkisah tentang seorang guru bernama Umar Bakri. Dalam bahasa slengekan oleh Iwan Fals diucapkan Omar Bakreee.

Memang, guru selalu diidentikkan dengan kesejahteraan yang rendah. Faktanya? Kayaknya tidak jauh-jauh dari itu. Mengapa? Inilah pertanyaan yang sering sampai ke saya hingga muncul tulisan ini. Tentu ada banyak penyebab. Ada banyak jawaban. Tetapi sebagai orang keuangan, saya menemui bahwa orang-orang yang kesejahteraannya tinggi bisa dipastikan adalah orang-orang berdaya belajar tinggi. Mampu menggali informasi. Bisa berkonsentrasi dalam jangka panjang untuk menyerap informasi dari pembicaraan orang lain. Entah itu di seminar, rapat, atau pun forum berdua face to face dengan orang lain. Itulah yang saya temui di berbagai perusahaan. Itulah yang saya temui di bank bank besar, pabrik pabrik dengan puluhan ribu karyawan, para manajer, para entrepreneur, para profesional, dan mereka-mereka yang kesejahteraannya tinggi.

Nampaknya, pertemuan saya dengan komunitas guru masih terus berlanjut. Permintaan seminar, bedah buku, dan pelatihan untuk para guru masih terus berlanjut. Kemarin saya menerima telepon dari ketua Federasi Guru Independen Indonesia untuk mengisi sebuah seminar mereka di Makasar. Jadi, dengan buku “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok” saya masih menyimpan harapan besar. Harapan untuk berperan dalam dunia pendidikan melalui peningkatan kesejahteraan guru. PR terbesarnya adalah mengubah paradigmanya. Menjadikan para guru yang merasa goblok dan kemudian belajar. Begitu belajar tetap merasa goblok karena ternyata ada orang lain yang ilmunya lebih tinggi. Maka ia pun berguru lagi pada orang itu dan tetap merasa goblok. Di atas langit masih ada langit. Ilmu padi. Bapak Ibu guru…..halo…! Halo…! Halo!!!!

Iman Supriyono ( imansupri@snfconsulting.com )

Baca Juga

ayah-dahsyat

Kelembutan Ayah Kekuatan Dahsyat

MitraFM.com– Kata-kata Ayah itu dahsyat. Telah cukup bagi seorang anak sepenggal nasihat kecil yang keluar ...

One comment

  1. bagus banget. dan itu benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*