RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Nak, Dengarkan Omongan Ibu, Dong!

Nak, Dengarkan Omongan Ibu, Dong!

Menyebalkan ya, jika omongan kita dicuekin buah hati kita. Kenali enam cara agar nasihat kita tidak “masuk telinga kanan keluar telinga kiri”. Yuk, mari…

Anak-anak sering tidak tampak antusias untuk mendengarkan apa yang dikatakan orang tua mereka. Ini, tentu saja, bisa sangat menjengkelkan bagi orangtua dan situasi dapat dengan cepat berubah menjadi  konfrontasi yang “hangat”. Anda pun mengeluarkan mantra sakti dengan nada tinggi, “Nak, dengarkan omongan ibu, dong!”

Namun sebelum mencap anak kita tidak hormat pada orang tuanya, sebaiknya baca dulu tips Catherine Wakelin, penulis buku Talk about Anything with your Kids. Karena, jangan-jangan kitalah yang salah strategi mengajak bicara anak.

Sebelum menulis tips ini, Wakelin mengadakan riset langsung dengan anak-anak dalam rentang usia 5 hingga 12 tahun tentang bagaimana mereka menilai “cara berkomunikasi” orang tuanya. Respons mereka sangat jujur dan mengejutkan. Berikut bocorannya buat Anda:

# Nasihat yang sama diulang-ulang; sebel!

Salah satu keluhan atas bahwa anak-anak tentang bagaimana orang dewasa berbicara kepada mereka adalah bahwa kita mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Mengulang frase yang identik sungguh membusankan bagi anak. Penting untuk dicatat bahwa, ketika anak-anak sudah memprediksi apa yang bakal kita sampaikan, maka mereka telah membuat “benteng” duluan dengan menutup hati dan kuping mereka.

# Kita tidak memberikan perhatian penuh kita pada mereka

Anak-anak mengatakan bahwa hal tersulit adalah mendapatkan perhatian orang tua. Hal ini tidak mengherankan terutama bila  orangtua mereka  super duper sibuk. Ketika kita tengah bersibuk dengan satu hal, kita jarang memberikan seseorang atau sesuatu dengan perhatian penuh, apalagi anak-anak kita. Ini mungkin tidak tampak penting sampai kita menyadari bahwa kita adalah model yang “sangat layak contoh” bagi anak kita; suatu ketika kita tak memperhatikan apa yang anak kita omongkan, maka di saat yang lain, giliran anak kita yang nyuekin kita. Tentu saja, ada saat-saat Anda sedang sibuk dan perlu menunda percakapan dengan anak kita. Namun ketika saatnya tiba, pastikan perhatian penuh diberikan oleh Anda padanya; dengarkan omongannya walau tak penting bagi Anda, kontak mata, dan tunjukkan antusiasme Anda.

# Jangan dengan nada tinggi

Apa yang cenderung kita lakukan saat kita sangat marah dengan anak? Sadar atau tidak, Kita justru malah kerap “meledakan” mereka. Anak-anak perlu kejelasan, kesederhanaan, dan keringkasan untuk memahami sesuatu. Orangtua kehilangan kemampuan untuk berbicara dengan baik ketika mereka marah dan anak-anak menjadi kewalahan oleh perasaan mereka sendiri. Tidak ada berbicara atau mendengarkan terjadi dalam situasi ini. Maka, turunkan emosi kita, dan berbicaralah dengan runtut dan jelas.

# Jangan berjarak

Komunikasi yang efektif terjadi bila ada keseimbangan emosional antara pihak-pihak yang terlibat. Ketika kita merasa kewalahan dalam perasaan marah kita sendiri, kita kehilangan kemampuan untuk melihat atau bahkan peduli dengan perasaan anak-anak kita. Dekati anak kita, buatlah suasana yang rileks dan nyaman, lalu ajaklah anak kita mengobrol. Pastikan kita telah merebut seluruh perhatiannya saat itu. Isi komunikasi tak bakal sampai jika kita berbicara di dapur, sementara anak kita berada di kamarnya atau bahkan di halaman depan.

# Percayalah pada anak kita

Kewajiban orangtua adalah memberikan arahan, aturan, dan pedoman. Memperkuat pesan-pesan kunci penting untuk pembelajaran hidup mereka, tetapi pada suatu saat, kita perlu mengakui bahwa anak-anak kita telah benar-benar telah memahami dan mengetahui apa yang telah kita katakan kepada mereka. Jadi ketika akan mengulang pesan yang sama, alangkah baiknya jika menggunakan prolog, “Ibu tahu kamu pasti sudah tahu kan, bahwa…bla…bla…bla.” Tak terkesan menggurui kan?

# Jangan cuma berkhotbah, please…

Anak-anak adalah pengamat ahli. Ia sangat sadar pada situasi yang tampaknya tidak adil. Bagaimana kita berperilaku lebih dari segudang nasihat yang kita sampaikan. Anak-anak kita mungkin tidak selalu mendengarkan, tetapi mereka selalu mengawasi. Percoma kita menyuruh mereka untuk menggosok gigi tiap malam misalnya, sementara mereka tak pernah menyaksikan kita menggosok gigi pada malam hari. Nah.(republika)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*