RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Hindari Perilaku Konsumtif pada Anak

Hindari Perilaku Konsumtif pada Anak

GENCARNYA iklan produk di berbagai media mendorong sifat konsumtif.Tak hanya orang dewasa, anak pun bisa kena imbasnya.Bagaimana mengatasinya? Sungguh hebat pengaruh iklan, efektif untuk membuat orang meyakini kebenarannya dan tidak berpikir dua kali untuk membeli.

Apalagi dengan intensinya iklan tersebut disiarkan di berbagai media massa. Baik itu di televisi, radio, maupun surat kabar.Belum lagi di dunia maya.Dengan intens dan banyaknya media yang mengiklankan suatu produk,tidak heran orang pun akhirnya terbujuk untuk membeli produk tersebut.

Ironisnya, bukan orang dewasa saja yang terpengaruh iklan,anakanak pun bisa terimbas pada efek yang dihasilkan oleh gempuran pariwara ini.Apalagi anak adalah objek pariwara yang paling efektif. Orangtua mana yang akan menolak permintaan sang buah hati? Jadilah televisi dipenuhi dengan berbagai iklan produk yang dikhususkan bagi anak-anak.

Utamanya pada hari Minggu, mulai produk makanan hingga perlengkapan sekolah. Sebuah studi ekonomi mengungkapkan, iklan yang menyasar anak-anak adalah sebuah bisnis yang besar. Rata-rata anak di Amerika Serikat contohnya,setiap tahun menonton iklan di televisi sebanyak 25.000-40.000 kali. Lain lagi dengan di Inggris yang angkanya mencapai 10.000.

Bayangkan saja,jumlah uang yang digelontorkan untuk mendanai iklan yang menyasar kepada anakanak di Amerika Serikat mencapai USD15 miliar-USD17 miliar. Jangan mengira perusahaan produk yang beriklan kemudian gulung tikar.Kenyataannya, uang yang dikeluarkan pun setimpal dengan jumlah pengeluaran anakanak dalam berbelanja produk tersebut.

Penelitian lain menyebutkan, anak-anak berusia 8-12 tahun bahkan membelanjakan uang orangtuanya hingga 30 miliar dolar.Tidak heran jika pada akhirnya saat ini banyak merek dunia yang sengaja mengolah strategi marketing-nya agar lebih masuk ke kalangan remaja. Memang Indonesia belum sampai mengalami hal demikian. Namun, sudah banyak pula anakanak dan remaja yang kini berkiblat pada merek ketika membeli barang.

Seperti Shabrina Chatab misalnya, siswa sebuah sekolah swasta ternama di daerah Jakarta Selatan ini hanya mau mengenakan perlengkapan sekolah dari merek yang digandrunginya. Shabrina yang berusia delapan tahun ini hanya mau mengenakan alat tulis bergambar Princess, ataupun tokoh kartun Disney yang lain.

Ia pun amat menyenangi segala hal yang berhubungan dengan Barbie, Tinkerbell, Hannah Montana, dan High School Musical. Jangan tanya ada berapa koleksi Barbie yang dimiliki Shabrina. Bukan hanya boneka Barbienya, orangtua Shabrina juga melengkapi koleksi Barbienya dengan rumah beserta perlengkapannya, mobil,tidak terkecuali aneka jenis baju si boneka wanita bertubuh langsing ini.

”Tapi, masih kurang, baju pesta dan sepatu Barbie ku masih sedikit. Aku mau minta mama beliin lagi,”tutur Shabrina. Lain lagi dengan Anita yang duduk di bangku kelas 6 ini. Baru beberapa bulan yang lalu, Anita dibelikan ponsel keluaran produk Korea Selatan yang membuatnya bebas ber-chating ria dengan kawannya. Melihat temannya sudah memakai BlackBerry (BB), Anita pun merengek kepada sang bunda untuk dibelikan.

”Bunda memang mau ngasihBB-nya dia ke aku,tapi cuma dijanjiin aja.Lagian aku mau yang Bold 9000,”ujar Anita. Adianti,sang bunda,masih berpikir dua kali untuk memberikan BB kepada putri semata wayangnya. ”Tapi, saya enggak sanggup melihat dia merengek, terus enggak mau makan.Papanya sih sudah setuju,”beber Adianti kepada Seputar Indonesia.

”Padahal, orangtua seharusnya mengikuti kaidah rasionalitas dalam menentukan pantas atau tidaknya suatu barang diberikan kepada anak,” kata psikolog Tika Bisono. Di samping faktor tersebut, ada faktor lain yang perlu diperhatikan orangtua.Apakah barang yang diberikan sudah seimbang atau tidak dengan kebutuhan dan prestasi yang diraih sang anak? Selain itu, barang yang diberikan, menurutTika,hendaknya juga sesuai dengan tahap perkembangan usia anak.

Apakah ada nilai edukasi yang terkandung dalam barang tersebut? ”Misalnya begini, mengajak anak keluar negeri ketika masih sangat kecil untuk jalan-jalan. Percuma, anak juga belum mengerti,dan saat mereka beranjak dewasa malah lupa sama sekali,” kata Tika ketika dihubungi lewat ponselnya. Senada dengan pernyataan yang dilontarkan pemerhati pendidikan Arief Rachman.Menurut dia,kebutuhan anak terhadap materi harus didasari pengembangan bakat dan minat sang anak.

”Orangtua juga harus melihat potensi dalam diri anak agar dapat terasah. Umpamanya bila sang anak berminat pada olahraga,belikan bola misalnya,atau masukkan ke klub,atau jika anak bercita-cita menjadi arsitek, bisa saja dengan membelikan mainan yang bisa dirakit,”kata Arief.

Adapun untuk keperluan baju, sepatu, termasuk seragam sekolah, tentunya orangtua pun memenuhi sesuai kebutuhan. Arief menilai, sering kali pemenuhan akan sandang sang anak berlebihan. Anak sejak dini sudah diajak mengenal gengsi dan mengikuti tren yang berlaku. ”Itu hanya kesenangan sesaat, kalau trennya sudah lewat, maka bajunya ganti lagi dengan yang lain.

Bayangkan berapa uang yang dikeluarkan untuk memenuhi tren itu,” kata Arief. Jangan salahkan anak, lanjut Arief, jika kemudian merengek minta dibelikan sesuatu yang lebih baru.Atau meminta sesuatu barang lantaran teman di sekolah sedang gemarnya memakai barang tersebut. Hal ini terjadi karena orangtua tidak mengajarkan anak untuk sedari awal hidup sederhana dan hemat.

Karena itu, mantan kepala sekolah Labschool ini pun menyarankan orangtua untuk hidup sesuai kemampuan dan kebutuhan. Jika ingin membelikan anak barang,cobalah memberikan mereka buku. Jika anak tetap merengek minta dibelikan barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan, tidak apa membiarkannya menangis.

Hal itu lebih baik daripada anak terbiasa dengan sikap tersebut dan berpikir segala permintaannya akan dikabuli. Boleh juga orangtua memanipulasi pikiran anak, tujuannya untuk mendistraksi pikiran si anak tersebut. Misalnya ketika ia minta dibelikan mainan, ajak ia untuk memasak makanan kesukaannya atau menonton DVD kesayangannya.(seputar-indonesia)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*