RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Normalkah Pertumbuhan si Buah Hati?

Normalkah Pertumbuhan si Buah Hati?

SERING kita bertanya-tanya mengapa ada seorang anak yang tumbuh menjadi manusia raksasa (gigantisme) atau sebaliknya. Padahal mereka dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sama dengan saudara-saudara lainnya.

Tak jarang, mereka sering dikucilkan karena kondisi tubuhnya yang abnormal. Apa yang terjadi dengan mereka?

Untuk mengetahui penjelasannya, pemaparan dari Dr Bernie Endyarni Medise SpA dari Divisi Tumbuh Kembang–Pediatri Sosial Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo berikut mampu menjawabnya:

Mengukur Pertumbuhan Anak

Seorang anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Di mana, pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah dan ukuran sel tubuh sehingga tubuh menjadi lebih besar dan tinggi.

Pertumbuhan sang buah hati dipengaruhi oleh faktor intrinsik (genetik), faktor ekstrinsik seperti nutrisi, oksigen, hormon, faktor-faktor pertumbuhan, psikososial, dan berbagai penyakit kronik. Pertumbuhan dapat diukur dengan menimbang berat badan, mengukur panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala.

Nah, untuk menentukan normal atau tidaknya pertumbuhan seorang anak sebaiknya bandingkan berat, panjang atau tinggi badan, dan lingkar kepalanya dengan nilai yang terdapat pada tabel atau kurva pertumbuhan, sesuai jenis kelamin serta usianya.

Pola pertumbuhan yang normal akan mengikuti lengkung pita kurva pertumbuhannya. Bila pertumbuhan masuk ke lengkung kurva di bawahnya, kemungkinan si kecil mengalami gangguan pertumbuhan.

Bila diukur secara kasat mata, penilaian berat badan seorang bayi yang berusia 6 bulan kurang lebih 2 kali dari berat lahirnya. Dan pada usia 1 tahun, setidaknya berat badan seorang bayi 3 kali dari berat lahirnya. Namun sebaiknya, mengukur pertumbuhan anak dinilai dari pola pertumbuhan dari kurva pertumbuhan.

Hormon Pengaruhi Pertumbuhan

Tahukah Moms, pertumbuhan sudah terjadi sejak dalam kandungan hingga lahir yang dipengaruhi oleh berbagai kadar hormon dalam tubuh. Bila terjadi kekurangan pada produksi hormon, kemungkinan proses tumbuh seorang anak mengalami penurunan. Sebaliknya, bila terlalu banyak, justru anak akan tumbuh melebihi anak normal pada umumnya.

Pasalnya, hormon diproduksi oleh kelenjar-kelenjar tertentu dalam tubuh yang produksinya tergantung dari rangsangan sistem, fungsi dari kelenjar tersebut dan tersedianya bahan baku. Selain itu, hormon dapat bekerja bila reseptor pada sel yang menerima hormon tersebut jumlahnya cukup dan sensitif terhadap rangsangan hormon.

Manusia Raksasa (Gigantisme)

Moms, gangguan pertumbuhan bisa berupa perawakan, status gizi, dan lingkar kepala. Namun, yang akan kita bicarakan di sini adalah gangguan pertumbuhan akibat gangguan fungsi hormonal dalam tubuh.

Seorang anak dikatakan mengalami gigantisme bila tinggi badannya melampaui nilai normal anak seusianya dengan jenis kelamin yang sama. Kejadian gigantisme sekitar 50 kasus per satu juta populasi. Kelainan ini dapat terlihat dari pertumbuhan tinggi badan yang sangat cepat, terlebih lagi jika tinggi orangtuanya dalam batas normal.

Gigantisme disebabkan oleh faktor keturunan, gangguan produksi hormon pertumbuhan oleh otak yang berakibat pertumbuhan tidak terkontrol, kelainan metabolisme dan kelainan kromosom (sindrom Klinefelter).

Manusia Kurcaci (Kerdil)

Sedangkan, kata “kerdil” sering kali ditujukan pada anak yang pendek yaitu anak dengan tinggi di bawah batas normal anak seusianya, terjadi pada sekitar 2,5 persen anak.

Anak yang berperawakan pendek dapat memiliki tubuh yang proporsional, namun banyak pula kelainan yang menyebabkan tubuh pendek dengan kelainan bentuk tubuh.

Penyebab perawakan pendek bervariasi mulai dari faktor keturunan (kedua orangtua pendek, biasanya anak pendek dengan bentuk tubuh proposional), namun dapat disebabkan oleh kelainan lain misalnya kelainan saat dalam kandungan (pertumbuhan bayi terganggu), kelainan bawaan (achondroplasia, atau kerdil seperti pelawak Ucok Baba), gangguan pubertas, sindrom dan kurangnya jumlah hormon pertumbuhan.

Namun nutrisi yang kurang dan penyakit kronis semasa pertumbuhan dapat pula menyebabkan pertumbuhan tinggi badan terganggu, sehingga anak menjadi berperawakan pendek.

Batas Tinggi Badan Anak Laki-laki vs Perempuan

Pertumbuhan tinggi anak yang relatif cepat secara garis besar terjadi pada saat dalam kandungan, usia 0 hingga 2 tahun, serta masa pra-pubertas dan pubertas.

Umumnya pada anak perempuan terjadi pada usia sekitar 8 tahun dan akan lebih cepat lagi pada usia sekitar usia 11 tahun. Sedangkan pada anak laki-laki, pertumbuhan tinggi badan yang cepat akan terjadi sekitar usia 13 tahun. Biasanya pertumbuhan tinggi badan akan berakhir sekitar usia 16–18 tahun.

Gangguan pertumbuhan tinggi badan harus dicurigai bila terjadi penyimpangan pola pertumbuhan tinggi pada kurva pertumbuhan yang sesuai dengan jenis kelamin dan usia anak. Bila pertumbuhan menyimpang ke pita pertumbuhan yang lebih rendah, harus dipantau apakah ada kecenderungan menjadi perawakan pendek.

Bila terjadi pertambahan tinggi yang terlalu cepat sehingga menyimpang ke pita di atas pita sebelumnya, pantau lebih jauh apakah terjadi gangguan ke perawakan tinggi yang abnormal.

Pada remaja, status pubertas yang ditandai dengan pertumbuhan tanda seks sekunder (misalnya pembesaran payudara pada wanita, perubahan suara pada laki-laki) perlu diperhatikan karena gangguan pubertas dapat berhubungan dengan perawakan pada anak.
(okezone)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*