RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Mengapa Si Buyung Tak Mau Berbagi?

Mengapa Si Buyung Tak Mau Berbagi?

Pernah mengalami kejadian ketika si kecil menolak meminjamkan mainan yang ia punya ke siapa pun? Kadang perilaku semacam ini disertai dengan tingkah yang tidak mengenakkan, dari tangisan, teriakan, hingga tingkah agresif, seperti memukul. Lama kelamaan, perilaku seperti ini bisa membuat orangtua merasa malu, apalagi jika ada orangtua lain yang melihat sikap anak yang seperti ini. Mengapa anak bertingkah seperti ini?

Menurut Dr. Robin Goldstein Ph.D. dalam bukunya, Buku Pintar Orang Tua, mengatakan, bahwa ada saat ketika hampir semua anak kecil memiliki kesulitan dalam berbagi mainan. Bahkan anak usia 8 bulan pun sudah mulai mempertahankan mainannya. Umumnya, sikap seperti ini mulai memuncak di usia 2-2,5 tahun. Tingkah seperti berteriak, menangis, menggigit, bahkan hingga memukul-mukul adalah tingkah umum ketika anak-anak berusaha mempertahankan mainannya. Meski terlihat tidak baik di mata orangtua, namun orangtua harus mau memahami mengapa anaknya berbuat seperti itu.

Orangtua harus mau memahami bahwa, ketika anak bertingkah seperti itu, ia bermaksud menunjukkan kepada Anda bahwa ia tidak suka ketika mainannya merupakan hal penting untuknya. Karena ketika hal penting miliknya dimainkan atau dipinjam orang lain, ia akan merasa amat terganggu. Ketika ada anak lain datang ke rumahnya, dan ia dipaksa untuk meminjamkan mainannya, saat itulah ketakutan terbesarnya muncul. Ketakutannya adalah kehilangan mainannya, atau mainan itu tak lagi menjadi miliknya.

Ketika melihat anaknya bertingkah seperti ini, biasanya para orangtua merasa malu, bahkan tak sedikit yang menyalahkan dirinya sendiri karena tingkah anaknya yang tidak baik itu. Kejadian paling sering terjadi adalah ketika si anak menolak meminjamkan mainannya, si orangtua akan mencoba mengambil mainan tersebut dari tangan si anak. Padahal, hal ini justru bisa melukai perasaan si kecil. Padahal yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah untuk mengerti masalah yang sedang dihadapi si kecil.

Mungkin terkesan anak Anda egoistis, tapi ada baiknya untuk para orangtua mencoba mengerti kegalauan si anak. Cobalah sesekali untuk bertenggang rasa kepada si kecil. Coba bicara dengan orangtua si anak yang bermain dengan anak Anda. Coba tawarkan mainan lain ke teman si anak itu. Memahami kesulitan anak dalam berbagi mainana akan memberi kenyamanan kepada Anda, para orangtua. Rasa yang dirasakan si anak ini sama ketika Anda harus merelakan barang kesayangan Anda digunakan oleh orang lain. Tak enak, kan?

Untuk meredakan masalah ini, yang bisa Anda lakukan adalah dengan mencoba mempersiapkan anak sebelum teman atau saudara yang seumuran akan datang berkunjung. Anda bisa coba beritahu, misal, “Dik, Andry akan main kemari dengan Tante Yona. Andry mungkin mau main dengan balokmu, puzzle, atau papan seluncurmu. Boleh ya, kasih pinjam. Setelah ia selesai, kamu bisa menggunakannya lagi.”
Begitu Andry datang, cobalah jelaskan bahwa mainan yang ia mainkan harus dikembalikan lagi. Jangan lupa untuk memberitahu orangtua Andry juga. Kalau bisa, minta orangtua Andry untuk membawa mainan-mainan yang sekiranya bisa dimainkan bersama.

Namun, apa yang harus dilakukan ketika terjadi perebutan mainan antara anak Anda dan temannya? Tak bisa dipungkiri, ketika terjadi perebutan, diperlukan interupsi atau pengalihan. Misal, dengan menawari anak Anda atau temannya mainan yang lain. Pahamilah, bahwa situasi seperti ini mungkin akan mengecewakan anak, namun ia pun juga harus mulai belajar berbagi.

Salah satu permainan yang mungkin akan mempermudah untuk mengajar anak tentang berbagi adalah dengan aktivitas yang melibatkan banyak kerjasama atau saling berbagi, misal mewarnai bersama. Memang masalah sulit berbagi ini akan menjadi hal yang cukup sulit. Ingatlah, bahwa anak akan mencontoh perilaku Anda. Jika Anda bisa memberi atau membagi mainan dengan sopan, anak akhirnya akan meniru Anda juga. Biasanya, di usia 3-4 tahun, anak mulai berubah dengan mulai bisa merelakan mainannya dipakai temannya. Memasuki usia 4-5 tahun, anak mulai bisa menerima konsep persahabatan. Pada tahapan perkembangan seperti ini, Anda dapat dengan sabar membantu anak untuk melalui kesulitannya mengenai peminjaman barang, memahami keadaannya, dan tidak terlalu menekannya.

(KCM/mitrafm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*