RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Jendela Keluarga » Belajar Dari Masa Kecil

Belajar Dari Masa Kecil

Malam itu, Fathurrahmi datang. Sahabat saya asal CadekAceh ini bertutur mengenangkan masamasa kecil ketika meunasah (mushala) menjadi tempat terindah bagi anak lakilaki pada masa itu untuk menghabiskan waktu malam. Bercengkrama bersamasama sambil meraup ilmu yang seakan selalu mengalir dari para Tengku. Ba`da maghrib adalah waktuwaktu untuk belajar mengakrabi AlQur`an dan pengetahuan fiqih dasar.

Saya merasakan ada kesedihan yang mendalam diselasela ucapannya. Bukan untuk meratapi permukiman yang telah rata dengan bumi karena disapu tsunami. Tetapi, rasa kehilangan yang sangat besar karena tradisi yang sangat baik itu sekarang seakan telah ditelan bumi.

Cerita yang dituturkan oleh Fathur ini mengingatkan pada masa kecil yang indah, ketika hampir semua orang di kampung menjadi penjaga bagi setiap anak. Masjid dan mushala (dikampung saya orang menyebutnya langgar) adalah tempat anak lakilaki yang sudah beranjak besar berkumpul, belajar, dan tidur. Anakanak yang sudah menjelang `aqil-baligh itu mengisi waktunya dengan menghafal nazham yang berisi petuahpetuah berharga atau rumusrumus ilmu yang digubah dalam bentuk sya`ir. Matan Alfiyyah yang berisi prinsipprinsip bahasa Arab, adalah kumpulan syair bersajak. Nazhaman adalah istilah untuk kegiatan melantunkan nazham berharga ini.

Menjelang maghrib, kirakira satu atau setengah jam sebelum adzan berkumandang, anakanak biasanya sudah bersiap dengan pakaian bersih, siap untuk berangkat kerumah guru ngaji yang dipilih. Sarung sudah dipakai dengan rapi, dan kopiah hitam dikenakan untuk menandai sudah siap untuk mengaji. Anakanak itu biasanya sudah mempunyai guru ngaji sendirisendiri; di mushalamushala atau datang kerumahrumah. Anakanak yang masih belum berumur tujuh tahun (belum mumayyis) biasanya mendatangi pelajaran mengaji kerumahrumah. Mereka belajar bersama anakanak perempuan. Jika anak sudah seminggu belajar mengaji di satu tempat yang dipilih anak, orang tua biasanya mendatangi guru ngaji tersebut dengan kepasrahan yang tulus untuk menitipkan secara resmi agar anaknya dididik dan didoakan disetiap shalatnya.

Para guru ngaji itu ibaratnya orang tua kedua atau bahkan lebih. Nasehat mereka adalah nasehat orang tua. Kalau para guru itu menghukum, orang tua umumnya selalu membenarkan tindakan tersebut. Kalau anak tampak tidak terima dengan tindakan guru terhadapnya, orang tua biasanya menjadi penengah yang memahamkan anak, sehingga tetap muncul kecintaan pada guru. Kisah Nabi Isa ‘alaihis-salam ketika berguru kepada Nabi Khidhir alaihis-salam biasanya membuat anak-anak terhibur dan bersabar, sembari berharap mudahmudahan ilmu kami manfaat.

Jauh sekali bedanya masa itu. Orang tua tidak perlu gelisah kalau anak lakilakinya tidak tidur di rumah, karena tempat anak lakilaki yang menjelang `aqil baligh hingga menjelang mereka menikah adalah di masjid atau langgar. Kalaupun mereka tidur di rumah teman, mereka juga tidak khawatir karena yakin orangtua temannya anak akan membangunkan pada waktu subuh dan mengingatkan jika ada akhlak yang tidak baik. Rasanya setiap orang menjadi pendidik bagi setiap anak. Setidaknya mereka turut menjaga anak orang lain.

Saya ingat pada waktu kecil saya biasa datang ke rumahrumah tetangga untuk melihat televisi saat siaran berita. Saya bawa sebuat blocknote kecil untuk mencatat isi berita, dan segera beranjak pergi sesudah siaran berita selesai. Sekali waktu ketika saya terbawa untuk ikut nonton acara berikutnya yang kebetulan tidak bagus, pemilik televisi kerapkali mengingatkan saya agar bermain di luar. Tidak nonton televisi.

Tetapi, itu semua rasanya mimpi saat ini. Ketika SCTV mulai masuk kekampung kami, para orangtua tidak lagi merasa aman jika anak lakilakinya yang sudah menjelang usia 2 tahun sekalipun, tidak tidur di rumah. Ibuibu yang dulu mengajari kami mengaji, sekarang sudah sibuk dengan televisi. Ibuibu yang dulu sabar bercerita tentang Nabi Muhammad Saw, para sahabat hingga teladan dari para kiai,sekarang lebih akrab dengan artis dan televisi. Bapakbapak yang dulu mengajari kami ta`lim mua`alaim agar ilmu yang kami dapat benarbenar bermanfaat, sekarang sibuk menghafalkan jadwal acara televisi. Dan, Manchester United lebih dekat dengan kehidupan daripada BidayatulMujtahid.

Tradisi Keilmuan yang hilang

Pada masa kecil, sebelum SCTV masuk kampung kami, anakanak usia 78 tahun mulai mengaji fiqih dasar seusai belajar AlQuran. Kami biasanya belajar SafinatunNajah yang berisi semacam pengantar fiqih tentang berbagai cabang masalah. Kalau anak sudah tamat belajar SafinatunNajah, akan berlanjut ke kitab fiqih berikutnya yang lebih kompleks. Tetapi, pembahasannya selalu diawali dengan masalah thaharah; masalah kecil yang sangat menentukan. Pada harihari tertentu, kitab yang dipelajari beda. Biasanya berkait dengan akidah dan akhlak.

Hari Kamis malam Jumat umumnya merupakan hari libur. Anakanak yang masih berusia 68 tahun atau 9 tahun biasanya libur penuh. Sedangkan anakanak diatas usia itu, biasanya mempunyai kegiatan. Sebagaian langgar menggunakan waktu libur ini untuk membaca Barzanji berikut aturanaturannnya yang saya tidak mengerti. Tetapi, sebagian lainya tidak melakukan karena memang tidak menerima tradisi ini.

Kakek saya yang merupakan murid langsung dari HadratusySyaikh Hasyim Asy`ari termasuk yang tidak menerima barzanji. Dia membolehkan membaca barzanji sebagai karya syair, tetapi tidak mengizinkan untuk menjadikannya sebagai acara, sehingga tampak sebagai ritual. Sebagian besar langgar di kampung saya termasuk yang tidak menerima tradisi barzanji maupun pembacaan manaqib Syaikh `Abdul Qadir alJailani. Apa lagi kalau disertai ingkung (ayam panggang utuh dapat perlakuan tertentu), keras sekali larangan kakek saya. Langgar di kampung saya, ketika itu, umumnya mengikuti pendapat yang melarang ritual barzanji.

Tetapi, tulisan ini tidak saya maksudkan mendiskusikan boleh tidaknya ritual barzanji. Tulisan ini saya hadirkan untuk belajar mengambil pelajaran dari pengalaman masa kecil. Pertemuan malam itu dengan Fathurrahmi membuat saya tersentak dan menyadari betapa sedikit yang sudah saya berikan kepada anakanak. Dahulu, anakanak sudah memahami fiqih dasar, sebelum mereka berusia 10 tahun. Sehingga ketika mereka tidak mengerjakan shalat orang tua memiliki alasan untuk memukul. Meski tidak menyakitkan, tetapi bukankan untuk memukul, orang tua harus mengingat qubhunal – `iqaab bilaa bayaan? adalah buruk menghukum tanpa memberikan penjelasan.

Mengenangkan masa kecil, ada banyak hal yang mengusik jiwa. Ketika tardisi keilmuan melekat kuat dimasyarakat, para ibu tidak perlu kebingungan untuk menjelaskan mengapa tidak shalat. Sebab anakanak sudah belajar dilanggarlanggar tentang haid, kaifiyah mandi junub, berwudhu, membedakan bersih tak berarti selalu suci, serta bebrbagai perkara penting lainnya. Hari ini, tardisi keilmuan itu telah berganti dengan tradisi nonton TV. Uang yang dulu ditabung sebagai bekal menuntut ilmu , sekarang beralih fungsi. Orang sibuk menabung untuk membeli mimpi – mimpi yang tak terbeli ; mimpi – mimpi yang mereka jejalkan setiap hari kepada diri mereka maupun anak –anak.

Saya pernah merasa sangat terpukul ketika suatu hari ada istri seorang ustadz tergesagesa pulang begitu pengajian diakhiri. Bukan mengingat ada tetangga yang kelaparan, tetapi karena tayangan telenovela yang disukai sudah dimulai. Saya ingat sekali yang diburu oleh ibu kita ini: Casandra. Saya tidak tahu, sekarang masih ada atau tidak tayangan tersebut. Saya berharap sudah tidak ada lagi. Tetapi kalaupun sudah tidak ada, apakah acaraacara di televisi sekarang sudah lebih baik?

Mengenangkan masa kecil, banyak pelajaran yang menggugah saya untuk merenungkan sejenak. Inilah masa ketika orang bersungguhsungguh untuk mencari ilmu, sekurangnya yang menjadi bekal dasar kehidupan mereka. Ulama adalah orang yang sering menangis; menangisi dirinya sendiri karena tak mampu mengingatkan orang lain, menangisi kekurangan dalam berbuat baik dan menangisi manusia yang belum menyambut hidayah. Mereka dipanggil kyai karena masyarakat memberikan panggilan itu. Bukan karena mereka memberi julukan untuk mereka sendiri seraya membuat kartu nama indah yang bertuliskan Kyai Haji. Mereka segera menarik tangannya begitu ada yang bergerak menciumnya. Bukan memerah mukanya karena santri tak menggamit tangannya untuk dicium.

Pada masa itu, saya mendapati NU dan Muhammadiyah belajar dari sumber yang sama. Di kampung saya, kebetulan NU dan Muhammadiyah perintisnya adalah keluarga. Hari ini, ketika tradisi keilmuan itu berganti dengan tradisi nonton televisi, Muhammadiyah kehilangan ulama. Sementara Ulama NU banyak yang kehilangan integritas. Hari ini, saya mendapati orangorang yang tidak mempunyai kelayakan sebagai ulama, telah menisbatkan diri sebagai ulama. Pada saat yang sama, anakanak kita semakin jauh dari agama. Masamasa emas mereka belajar agama terlewatkan begitu saja secara teratur.

Sumber: Buku POSITIVE PARENTING, Moh Fauzil Adhim, Mizania 2006.

Baca Juga

berbakti

Memuliakan Orang Tua 

MitraFM.com– Ada 10 cara yang cukup sederhana yang dapat kita lakukan untuk berbakti atau memuliakan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*