RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Oh Farhana

Kemegahan Masjid Nabawi telah terlihat dari jauh. Setiap langkah yang membawaku mendekati masjid seolah menambah kerinduanku akan junjungan Nabi besar Rasulullah SAW. Inilah sebagian dari rahmat mengunjungi Tanah Suci, beroleh kesempatan untuk merasakan kesyahduan berasa di masjid Nabi, serta menikamati perjumpaan dengan sesama Muslimah dari seluruh penjuru dunia dengan satu kesamaan yang menggetarkan, cinta dan rindu yang begitu tulus terhadap Nabi Muhammad Saw. Kadang kita bahkan lebih merasa bergetar lagi, ketika menyaksikan begitu tersentuhnya saudarasaudara kita yang mengeluarkan isak tangis penuh kerinduan di makam Rasulullah Saw. Tetapi perjumpaanku dengan Farhana kali ini tidak terjadi di Raudhah ataupun makam Rasulullah, namun terjadi dalam keresahan penantian beberapa saat sebelum akan dibukanya pintu ke arah Raudhah.

Farhana gadis yang sangat muda, di tengah jamaah yang resah menunggu dibukanya pintu Raudhah, ia kelihatan begitu berbeda. Matanya tak luput dari memandang kitab yang terhampar didepannya. Ia membaca dengan khidmat dan penuh ketenangan. Aku yang duduk di sebelahnya tertarik untuk melongok kitab yang sedang dibacanya. Ternyata huruf Arab gundul. Aku semakin tertarik. Ditilik dari wajahnya, tidak ada rona Timur Tengah disana, yang terlihat jelas adalah kecantikan khas India atau Pakistan. Tetapi dilihat dari busananya, ia mamakai jubah hitam, dan sebelum memasuki dareah khusus wanita, ia juga mengenakan burdah yang rapat menutup wajah cantiknya. Aku tersenyum kepadanya pada saat ia menoleh sejenak ke arahku. Kusapa ramah dengan “Assalamu`alaikum. Sister, I can not help but to see you and your interesting kitab, where are you from?” dan di luar perkiraanku dia menjawab dengan, “wa`alaikumsalam, I am from London.” Wow, pikirku, tebakanku salah semua. Kitab Arab gundul, jubah dan burdah berwarna hitam, wajah India, tetapi berasal dari London? Aku semakin tertarik untuk belajar mengenali Sister Muslimahku yang satu ini. Aku berharap dia tak akan marah terganggu dari kekhusyukannya membaca kitabnya. Hmm, kelihatannya kitab yang menarik.” Aku ikut memandang kitab yang sedang dibacanya. “Sayang, aku tak bisa memahaminya,” keluhku, tanpa menyembunyikan kekagumanku padanya. “Tell me, Sister, barusan saja aku ikut mendengar percakapanmu dengan keluargamu, tapi bukan berbahasa inggris.” Dia tersenyum kembali dan menjawab, “Ya itu dari daerah asal nenek moyangku, Bombay, India. Meskipun kami telah beberapa generasi hidup di London, tapi bahasa nenek moyang tetap kami pelihara,” sambungnya lagi.

Ia selanjutnya memperkenalkanku dengan keluarga besarnya, ibunya, tantenya, dan saudarasaudaranya dari London. Ketika kutanya kenapa dia dapat dengan mudah membaca Kitab Arab gundul, ia tersenyum lucu dan menjawab, “Tentunya aku tak akan pernah tamat Boarding school untuk menjadi ustadzah, bila tak dapat membaca kitab seperti ini.” Aku semakin kagum dan meyimak cerita selanjutnya. Ternyata Farhana berusia 13 tahun telah dimasukan orang tuanya di sebuah boarding school khusus Muslimah di London. Di sekolah ini para gadis muda usia itu digembleng untuk menjadi seorang ustadzah. Mereka diharapakan bisa menjadi hafidz Al Qur`an serta menguasai kitabkitab Islam, karena setelah tamat nanti mereka akan menjadi ustadzah di sekolah sekolah Islam. Ternyata pula, Farhana diusianya yang sangat belia ini, telah menjadi seorang ustadzah di Moslem School, London.

Aku menjadi lebih tertarik lagi. Bagaimana bisa dia yang seumur hidupnya tinggal di Kota London, salah satu pusat kebudayaan Barat, tetapi dengan kokoh tetap memeilhara dengan ketat aturanaturan sebagai seorang Muslimah. Setelah kutanyakan, ternyata Farhana, seorang penganut Mazhab Hanafi, yang mempraktekkan dengan ketat, bahwa wanita tidak boleh berpakaian yang dapat menarik perhatian lawan jenisnya. Dan warna yang paling aman menurut kepercayaan mereka adalah hitam. Dan burdah mereka gunakan saat memasuki daerah yang ada non-muhrimnya. Semua itu mereka lakukan untuk memelihara dari neraka, apalagi hidup di daerah di mana mereka adalah minoritas.

Aku yang semakin terinspirasi dengan penjelasan Farhana, semakin dalam mencecarnya dengan pertanyaan. “Farhana, kami saja yang tinggal di negara di mana 90% penduduknya Islam, kadang tetap harus memperjuangkan hak meski hanya untuk menggunakan jilbab sederhana ini.” Aku menjelaskan peraturan di zaman perkuliahan dulu yang mengharuskan foto di kartu mahasiswa yang memperlihatkan rambut dan telinga. “Bagaimana pula dengan dirimu yang hidup sebagai minoritas di dengah pusat kebudayaan Barat yang sedemikian bebas, tidakkah kau merasa terganggu?”, tanyaku dengan polos. Dengan tegas, dia menggeleng, “Alhamdulillah, kami tidak pernah merasa tertekan hidup di London. Kami tinggal di sebuah kawasan muslim, yang sangat tegas menerapkan aturanaturan Islam, bahkan nanti kami mempunyai beberapa sekolah, lengkap dari play group sampai ke tingkat pendidikan tinggi,” sambungnya.

Oh, Farhana, aku tidak mengerti. Sedang aku yang hidup di kampung halamanku sendiri, jauh di Timur, jauh dari pusat kebudayaan Barat, merasa sangat risau dengan pengaruh Barat yang demikian membahana dalam kehidupan keseharian kami. Setiap hari kami dikejar kekhawatiran, apakah anak remajaku tidak sedang terpengaruh oleh gemerlapnya kehidupan bebas ala Barat, yang hidup untuk mengejar kenikmatan. Sementara kau dapat hidup dengan kokoh memegang ajaran Islam tepat di tengahtengah jantung kebudayaan Barat, oh Farhana, aku sungguhsungguh kagum.” seruku spontan. Ia segera menjawab, ”Kalau kau begitu resah dengan masa depan anakmu, sebaiknya engkau mengirim putraputrimu bersekolah di boarding school kami di London, Insya Allah ia akan terpelihara dalam iman Islam yang kokoh. Dan mudahmudahan aku bisa berkesempatan mengajar anakmu nanti,” sambungnya sambil tersenyum.

Tak biasanya aku menggelenggeleng kepalaku penuh kekaguman mendengar penjelasan Farhana. Kelompok Muslim Farhana di London, demikian berhatihati menjaga akidah Islamnya, hingga mereka tidak mau mengenal televisi. Beritaberita cukup dibaca di koran dan majalah serta sumber internet yang terpercaya. Mereka tidak mau membuang waktu menyaksikan acara televisi yang sebagian besar berperan melalaikan seorang Muslim dari melaksanakan amanahnya yang hakiki, yaitu menjadi rahmatal lil `alamiin. Hamba-Nya yang bermanfaat bagi alam semesta. Mereka tidak membuat dan memajang foto, karena mereka takut akan terjerumus pada pemujaan dan berbangga diri atau pengkultusan terhadap tokohtokoh tertentu. Karena dalam Islam, bahkan Nabi Muhammad pun tak boleh dipujapuja dan dikultuskan berlebihlebihan, karena bagaimanapun beliau tetaplah seorang hamba Allah.

Kutatap matanya yang berbinar, sungguh kecantikan asli terpancar dari dalam kalbu. Sekelebat datang pikiran jailku, tidakkah dia pernah merasa tergoda untuk memamerkan wajah cantiknya? Tetapi jawabannya langsung kudapatkan dari kesyahduan tatap matanya saat kembali menyimak kitab di hadapannya. Wajah itu memancarkan sinar kebahagiaan dan ketenangan batin. Oh Farhana, kau sungguh beruntung, tidak perlu ada keresahan sedemikian rupa dalam penampilan. Kau telah menemukan kebahagian yang hakiki dan melaksanakan ajaran Islam secara kaffah. Kau tak perlukan lagi puja atau puji dari luar, karena islam jalan selamat yang telah kau jalani secara total telah memberimu kenikmatan sebagai hamba Allah yang sejati.

Sejujurnya aku merasa sangat malu. Kami tinggal jauh di Timur, di kampung halaman kami sendiri, tak sanggup menghadapi pengaruh Barat yang menerjang pada seluruh sisi kehidupan. Kami merasa malu bila tak bergaya ala Barat. Hilang sudah sarung dan kain panjang berganti dengan tunik bahkan celana jeans. Kami tenggelam dalam sudut pandang Barat yang menekankan bahwa penampilan adalah segalagalanya. Kami tenggelam dalam pemujaan fisik sehingga rohani kami lupa untuk kami isi dengan sempurna. Ya Allah, sementara Farhana yang lahir dan dibesarkan di kota kosmopolitan, tak sedikitpun terpengaruh dengan gagap gempitanya dunia Barat. Ia dengan tegar berjuang untuk memenuhi amanah yang telah dibebankan pada hamba-Nya untuk selalu memberikan yang terbaik bagi dunia maupun akhirat. Oh Farhana.

Sumber : Bila Nurani Bicara 2

Baca Juga

ASI

Tips Mempertahankan Kualitas dan Kuantitas ASI Saat Puasa Ramadhan

MitraFM.com– Ketika Bulan Ramadhan tiba tak sedikit ibu-ibu muslimah yang menyusui yang ingin tetap berpuasa. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*