RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Headline » Haruskah Si Kecil Masuk Kelompok Bermain?

Haruskah Si Kecil Masuk Kelompok Bermain?

Meskipun Kelompok Bermain (KB) ada dimana-mana, banyak orangtua yang memutuskan untuk tidak mendaftarkan anaknya. Soalnya, yang lebih penting pada anak usia balita adalah kelekatan anak dengan ibu atau orang yang merawatnya. Lagipula, orang tua juga bisa, kok, memberikan kepada anak, apa yang diberikan oleh kelompok bermain.

Anak usia ini, terang Wieka Dyah Partasari, SPsi, baru mengembangkan basic trust (kepercayaan dasar) yang biasanya diperoleh dari orangtua. Basic trust merupakan bekal bagi anak untuk mengeksplorasi dunia yang lebih luas. “Jadi, tugas orang tua untuk anak di usia ini ialah mengembangkan basic trust agar anak percaya bahwa ibunya adalah orang yang bisa ia percaya, yang mencintainya, sehingga ia pun berani bereksplorasi ke dunia luar,” tuturnya.

Di samping itu, lingkup sosial anak usia ini masih terbatas pada keluarga. “Memang ia mulai bisa berkenalan dan bergaul dengan teman sebaya, tapi masih belum bisa bermain bersama dalam waktu lama dan bekerjasama,” jelas psikolog dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini. Itulah mengapa, anak usia ini tak harus masuk kelompok bermain.

Alasan lain, hasil penelitian menunjukkan, tak ada perbedaan kemampuan yang menonjol antara anak yang masuk kelompok bermain dan tidak. “Awalnya, kemampuan anak yang masuk kelompok bermain sepertinya memang lebih bagus di bidang akademik. Ini terlihat saat mereka masuk SD. Tapi, 10 tahun kemudian ternyata kemampuan mereka hampir sama dengan anak yang tak masuk kelompok bermain.” Malah, anak yang tak masuk kelompok bermain kadang memiliki sikap lebih positif terhadap belajar.

“Mungkin karena anak yang masuk kelompok bermain terlalu awal memasuki situasi belajar formal, sehingga sikap terhadap belajar pun enggak terlalu positif,” terangnya.

Lain halnya bila langsung masuk SD tanpa lewat TK, menurut Wieka, anak akan mendapatkan kesulitan. “Suasana di SD itu, kan, sangat formal. Anak harus duduk tenang. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung juga menjadi yang utama. Karena itu, perlu ada jembatannya, yaitu TK,” terangnya.

Jangan terlalu dini
Sebenarnya, tutur Wieka, apa yang diberikan oleh kelompok bermain juga bisa diberikan orangtua di rumah. “Kelompok bermain itu, kan, sifatnya untuk mengembangkan kemampuan anak, baik fisik, intelektual, sosial emosional, sesuai kebutuhan anak pada masa perkembangannya. Nah, orangtua pun bisa melakukannya.”

Jadi, bila orangtua di rumah sudah bisa memberikan stimulasi untuk mengembangkan kemampuan anak, dan sosialisasi anak juga sudah tercukupi di rumah, misalnya, dengan teman-teman sebaya di lingkungan rumah, maka ikut kelompok bermain bukan kebutuhan yang mutlak. Orangtua juga tak perlu takut anaknya akan berbeda dengan anak-anak yang masuk kelompok bermain, sepanjang potensi anak bisa dikembangkan oleh orang tua di rumah. Bukan berarti anak usia ini enggak boleh dimasukkan kelompok bermain, lho.

Tetapi, anjur Wieka, sebaiknya jangan terlalu dini. “Paling cepat usia 3 tahun saat anak mulai bisa melepaskan diri dari ibunya, dan mulai mampu melihat dunia sekelilingnya. Di usia ini, anak juga sudah mulai kenal dengan orang di luar lingkungannya.” Jika terlalu dini, lanjutnya, anak masih main sendiri-sendiri. “Yang usia 3 tahun pun masih sering main sendiri-sendiri, meski sudah mulai tertarik untuk bergabung dengan teman-teman sebayanya.” Selain itu, anak usia dini rentan terhadap perubahan-perubahan. “Bagi anak, perubahan bisa membuat stres.Semisal pindah rumah, begitu pula halnya dengan masuk kelompok bermain.”

Bahkan, anak bisa “mogok” jika dipaksakan mengikuti kelompok bermain pada usia terlalu dini. Soalnya, mereka belum siap untuk berada dalam suatu situasi baru. Terlebih lagi situasi baru tersebut memiliki aturan-aturan lebih kaku daripada di rumah, yang bagi anak-anak tertentu belum waktunya untuk mengikuti aturan-aturan tersebut. “Tingkat kematangan anak belum sampai pada tahap bisa bergabung dengan kelompok lain.”

Anak harus senang
Yang juga harus diperhatikan, lanjut Wieka, pada usia ini perlu dikembangkan keterampilan motorik dan kemampuan sosialisasi. “Anak usia ini belum waktunya untuk bisa duduk manis dan tenang, tapi lebih pada memberinya kesempatan untuk bermain. Jadi, kebebasan bereksplorasi dan bermain tetap yang utama. Nah, apakah kelompok bermainnya menyediakan sarana untuk itu?”

Penting juga diperhatikan, apakah dengan memasukkan anak ke kelompok bermain akan membuatnya merasa nyaman dan senang? Bila sejak awal anak tak terlalu suka dan menganggap berada di kelompok bermain sebagai sesuatu yang membebani, maka ke depannya anak juga akan menganggap bahwa belajar itu sesuatu yang tak menyenangkan. Terlebih lagi jika anak dimasukkan ke kelompok bermain yang lebih menekankan kemampuan akademik dan belajar diam, dikhawatirkan anak akan punya sikap negatif tentang belajar sampai dewasa.

Lagi pula, bila anak terlalu awal masuk kelompok bermain yang lebih menekankan kemampuan akademik, bisa membuatnya jadi lebih cemas dan tegang saat menghadapi situasi kompetitif, dibandingkan anak yang dari awal tak terlalu banyak berada dalam situasi tersebut. Lain halnya bila kelompok bermain bisa menyediakan sarana dan memiliki “kurikulum” yang bagus dimana kemampuan anak sesuai tahap perkembangannya distimulasi, maka kelompok bermain akan mendatangkan manfaat.

“Kemampuan-kemampuan anak yang memang menjadi tuntutan tugas perkembangannya di usia ini akan bisa dikembangkan. Anak akan jadi lebih terampil dan potensi untuk mencapai tugas perkembangan sesuai yang diharapkan usianya jadi lebih bisa dikembangkan.” Nah, bila syarat-syarat tersebut terpenuhi dan anak pun merasa senang, kelompok bermain mungkin bisa menjadi awal yang baik bagi anak untuk masuk ke TK. Tentunya, Anda harus jeli memilih kelompok bermain yang tepat.

Terima anak apa adanya
Orangtua, menurut Wieka, sebetulnya tak usah terlalu takut anaknya akan berbeda dengan anak lain hanya karena tak masuk kelompok bermain. “Banyak, lho, orang yang tak terlalu pintar secara akademik tapi justru lebih sukses dibanding orang yang pintar, karena mereka bisa mengatur orang-orang pintar ini,” tutur Wieka.

Sarannya, lebih baik orangtua mengalir saja bersama anak. Terima anak apa adanya. Justru dari situ orangtua bisa melihat apa keistimewaan anak. Kalaupun tak ada yang istimewa, dengan mengalir bersama anak akan membuat orangtua lebih rileks, sehingga hubungannya dengan anak jadi lebih positif. ”

Anak yang mendapat penerimaan dari orangtua akan lebih percaya diri, berani melakukan sesuatu yang baru. Mungkin yang akan menonjol malah kebaikannya, sifat menolong, dan sebagainya. Sejelek-jeleknya orangtua, lanjut Wieka, tetap bisa menjadi guru yang baik bagi anak. Apalagi, pada dasarnya tak ada orangtua yang sama sekali tidak bisa mendidik anak.

“Orangtua bisa menjadi guru yang jauh lebih baik daripada guru di sekolah. Orangtua pun enggak bakalan kekurangan sarana di rumah,” tukasnya.

Jadi, asalkan Anda berdua punya keinginan untuk bermain dan belajar bersama anak, percaya, deh, Anda enggak akan kalah dengan guru-guru di kelompok bermain manapun.  (kcm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*