RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Kehamilan & Kelahiran » Bila Nurani Bicara Bagian 2

Bila Nurani Bicara Bagian 2

Ibu Tunisia : Si Pedagang kaki Lima Bertekad Baja

Indah sekali rasanya melantunkan ayat suci di tengah keteduhan Masjid Nabawi, masjid sang Rasul. Terasa syahdu dan menggetarkan. Meski karena kurangnnya pengetahuan bahasa Arabku, artinya pun belum kupahami sepenuhnya, namun keagungan ayat–ayat-Nya telah menyebabkan aku merinding. Saking terlarutnya perasaan hati kala membaca firman – firman-Nya, aku sampai-sampai tidak menyadari ada sepasang mata yang dari tadi memandangku tanpa berkedip.

Ketika akhirnya aku mengambil jeda, kutatap sepasang mata itu yang kini tengah menyiratkan senyum untukku. Seorang wanita setengah baya berkulit gelap, dengan baju warna oranye menyala – nyala. Dibalut pula oleh pashmina berwarna merah cerah. Permainan warna yang luar biasa berani untuk seorang wanita ynag berkulit eksotis gelap seperti itu. Aku segera membalas senyumnnya, dan mengulurkan tangan sambil mengucap salam. Tangan yang terulur menyambut tanganku adalah tangan yang begitu unik. Penuh dengan lukisan dan warna-warna. Sampai bagian punggung tangan pun seperti dilukis oleh seorang maestro. “Assalau`alaikum, Sister, do you speak English?” tanyaku dengan penuh harap. Ternyata dia menggeleng dengan bersemangat,”Je parle Francaise, je parle rien Anglais, je suis Tunisienne,” (saya berbahasa Perancis, tidak bisa bercakap dalam bahasa Inggris. Saya orang Tunisia) jelasnya lagi. Aduh, lagi – lagi kendala bahasa, batinku sambil mencoba mengumpulkan kembali kosa kata bahasa Perancis yang kudapat semasa masih mengikuti kursus dahulu,”Mais, vous parlez Arab tres bien,” (tetapi kau lancar berbahasa Arab) tambahnya lagi. Kembali aku membatin. Aduh malu rasanya harus menjelaskan kalau aku sebenarnya tak bisa berbahasa Arab sama sekali, melainkan hanya sebatas membaca tulisan Arab, yang bahkan tak kutahu artinya bila tidak mengandalkan terjemahan.”Mais Madame, je ne parle pas arabic, mais seulement lire tout des lettres des Arabic,sans comprendre. C`est dommage, n`est pas?” (tapi, Madame, saya tak bisa berbahasa Arab, hanya mampu membaca tulisan Arab tanpa memahaminya. Sayang sekali bukan?) jawabku berusaha menjelaskan kemampuanku yang hanya melantunkan Al Qur`an tanpa memahami sepenuh maknanya.

Dia mengangguk-anggukkan kepalanya dan menyodorkan secarik kertas kepadaku. “M`aide S`il vous plait,” (Bantulah aku membaca doa ini). Sebuah doa pendek kubacakan dari kertasnya itu. Meskipun doa pendek yang sederhana, sang ibu Tunisia mengulanginya dengan tertatih-tatih. Ketika dia juga mencoba membaca syahadat, meskipun terdengar ganjil ditelingaku. Dengan malu-malu dia mengakui, kalau dia tak memahami baca dan tulis Arab. “Saya tak punya waktu untuk membaca dan belajar,” ujarnya, karena dia harus berjualan dipasar. “Sebagian waktunya tersita untuk berdagang, karena sudah tekadku untuk mengumpulkan uang dan berangkat ke Tanah Suci ini.” Si ibu melanjutkan dan kemudian bercerita bahwa dia adalah seorang pedagang wortel di pinggiran jalan, atau yang kubayangkan adalah seorang pedagang kaki lima.

Aku manggut –manggut sambil merasakan gelora kebahagian si ibu karena berhasil memenuhi impiannya berangkat ke Tanah Suci. Ketika dia selanjutnya bercerita, aku menangkap samar-samar karena keterbatasan bahasa perancisku, bahwa ia sungguh ingin membaca dan memahami doa-doa dengan lancar. Kami memanfaatkan waktu bersama dengan penuh semangat. Aku membaca catatan doanya, dia berusaha mengikuti meskipun dengan lidah yang tak terbiasa dengan cengkok bahasa arab.

Di dalam hati aku sungguh salut pada si ibu Tunisia ini. Betapa tidak, dengan pengetahuan ke-Islaman yang cukup minim, tidak menyurutkan tekad membaranya untuk naik haji ke Tanah Suci. Meskipun dia harus menghabiskan seluruh simpanannya berdagang. Bahkan mungkin seluruh aktivitas dagangnya dia lakoni dengan bersemangat, karena di mengangankan, sedikit demi sedikit kumpulan uang itu akan terkumpul untuk dapat merealisasikan cita-citanya menjejakkan kaki di Tanah Suci. Tak dapat kubayangkan keheanannya, bila ia tahu bahwa sebagian dari kami, kaum terpelajar di Indonesia, yang mempunyai kemanpuan cukup untuk berhaji, tapi lebih memilih untuk menggunakan uang itu untuk berkeliling dunia. Kadang untuk berwisata mengambil aneka wisata dunia, dan menjadwalkan naik haji untuk suatu waktu setelah ada panggilan. Tepatnya, untuk nanti, bila sudah pensiun dan tubuh sebenanrnya sudah tak optimal lagi untuk menyempurnakan segala prosesi haji. Itupun kalau Sang Khaliq masih sudi memberikan ekstra waktu untuk bertaubat.

Si Ibu Tunisia dengan ramah menawarkan untuk berkunjung ke penginapannya yang tak jauh dari Masjid Nabawi. Ini tawaran yang menarik hatiku. Kami berdua menysuri pelataran Masjid Nabawi yang indah. Tak puas-puas mata menatap penuh kerinduan pada kubah hijau yang mengingatkan akan taman surga Rasulullah Saw. Ketika akhirnya tiba, ternyata si ibu tinggal disebuah apartemen empat tingkat yang cukup terawat. Ketika memasuki gedung apartemen itu, barulah aku menyadari bahwa satu gedung empat lantai itu semua dihuni oleh jamaah Afrika berkulit gelap. Semua mengeluarkan bahasa ibu yang sangat ganjil dikupingku. Seperti halnya aku yang keheranan, demikian juga tentunya yang mereka rasakan ketika melihat aku. Seorang wanita yang bertubuh kecil,berkulit pucat, berpakaian serba putih, serta tangan dan kaki yang tidak menunjukan cita rasa seni.

Dengan takjub aku menyaksikan tangan dan kaki mereka yang dihiasi lukisan berupa ukiran yang eksotis. Baju-baju mereka yang berwarna terang menyala kontras sekali dengan kulit mereka yang gelap. Serta keakrban mereka yang hangat, terlontar dari nada suaranya yang keras, hangat dan ramah. Sapaan-sapaan ramah terlontar dari mana-mana.

Di satu rungan aku menyaksikan sekelompok ibu yang tengah mengukir tangan dan kaki temannya. Ternyata menarik sekali. Mereka menggunakan heena. Prinsipnya, warna tersebut akan bersenyawa dengan kulit, sehingga tidak menghalangi air wudhu untuk mensucikan tubuh. Sahabat baruku, si ibu Tunisia segera mengamit lenganku dan menawarkan tangan dan kakiku untuk dilukis. “Wow” tawaran yang sangat menarik, hampir saja akau mengangguk setuju, tanpa berpikir panjang. Tapi segera kuteringat, posisiku sebagai seorang istri yang harus melakukan segala sesuatu dengan izin suami. “Je suis desole, madame. Je veux bien, mais je dois demander a mon marie d`abord. J`ai peur que il n`est pas d`accord de faire ca” (Saya minta maaf, madame. Saya kepengin sekali, tapi saya harus minta izin pada suami terlebih dahulu. Saya khawatir dia tidak setuju), ujarku dengan berat hati menolak tawarannya yang sangat menanti minatku.

Berat rasanya harus segera pulang dari dunia yang serba berbeda dariku itu. Kalaulah tidak mengingat janjiku pada suaminku yang menunggu di penginapan kami, tentunya aku masih ingin merasakan kehangatan kekeluargaan yang ditimbulkan oleh kelompok sister Afrikaku ini. Aku manggut-manggut sendiri ketika menyadari bahwa, meskipun sebagian orang Tunisia juga berkulit putih, tapi ternyata mereka tetap saja lebih nyaman untuk bergabung dengan sekelompok yang sama. Terlihat jelas kelas sosial dari sisterku yang bergabung di sini adalah masyarakat menengah bawah berkulit gelap, lengkap dengan tradisi nenek moyang yang masih mereka pegang teguh.

Meskipun mereka amat bersahaja, namun tetap tak menghalangi berkobarnya semangat ke-Islaman mereka. Meskipun sebagian terkesan tak mampu baca tulis Arab, membaca ayatpun patah-patah, tapi tak menyurutkan semangat berhaji mereka ini. Ini membuatku tersentuh. Kehangatan dan keramahan mereka sama sekali tak dibuat-buat dan tak dilandasi oleh rasa pamrih. Mereka siap berbagi dan menebarkan kehangatan melalui bahasa tubuhnya yang memancarkan semangat. Kehidupan mereka yang mungin tak mudah, karena harus bekerja keras demi kehidupan dan keinginan mereka untuk berhaji, tidak membuat mereka egois dan kehilangan kepedulian pada orang lain.

Pertemuanku yang singkat dengan sister Tunisia ini telah membabat habis cara berpikir stereotypeku selama ini. Selama ini ada kecendurungan untuk berpikir bahwa orang-orang Afrika pedalaman yang berkulit gelap ini cenderung primitif, kurang beradab dan kasar. Tapi ternyata kalau kita mampu memahami dan merangkul kedalam kalbunya, mereka sesungguhnya adalah umat-Nya yang penuh spirit cinta akan Islam. Meskipun pengetahuan mereka masih minim, tapi semangat dan kebanggaan mereka akan Islam sangat menyala-nyala. Patutlah kita salut akan perjuangan mereka. Rangkulan tangan brother dan sisiter Muslim yang telah lebih memahami ajaran indah jalan keselamatan, jalan Islam, amat diperlukan untuk membimbing mereka dalam memahami Islam dengan lebih baik.

Bila semangat berbagi ini dapat direalisasikan, tidak usah terjadi lagi pengelompokan prejudice, diskriminasi warna kulit yang tidak beralasan, serta pandangan stereotype yang menghambat ukhuwah Islamiyah. Karena agama Islam adalah agama yang paling terkemuka dalam mengajarkan kebersamaan, dimana seorang budak hitam dari Afrika dapat berpelukan dengan Rasulullah, duduk sama rendah, berdiri sama tingi dengan umat Islam manapun di muka bumi ini.

Baca Juga

ASI

Tips Mempertahankan Kualitas dan Kuantitas ASI Saat Puasa Ramadhan

MitraFM.com– Ketika Bulan Ramadhan tiba tak sedikit ibu-ibu muslimah yang menyusui yang ingin tetap berpuasa. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*