RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Jendela Keluarga » Matinya Perjuangan

Matinya Perjuangan

Sejarah peradaban besar pada dasarnya adalah perjalanan hidup seorang amnusia besar. Ia menciptakan perubahan bukan karena banyaknya harta yang dimiliki, juga bukan karena kuatnya kekuasaan yang ia genggam. Tetapi, ia menciptakan perubahan yang menggerakan jiwa orang – orang disekelilingnya oleh kuatnya jiwa, tajamnya pikiran, kukuhnya hati dan tingginya daya tahan berjuang dikarenkan besarnya cita – cita. Kerap kali, cita – cita besar itu bukan digerakan oleh gemerlapnya dunia yang sekejab, tetapi oleh keyakinan yang menjadi ideologi perjuangannya.

Orang – orang yang merintis jalan perjuangan adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidupnya demi meraih apa yang menjadi keyakinannya. Bukan akrean mereka pernah berhasrat apada kenikamatan, melainkan karena kenikmatan menjadi kecil dan tidak ada artinya dibandingkan cita – cita besar yang terpendam dalam jiwa. Demi memperjuangkan keyakinan, mereka bersedia memilih jalan hidup yang sama sekali tidak populer ; mengawali perjuangan dengan mengahadapu senyum sinis dan gahkan apabila perlu – seperti halnya Nabi SAW- dianggap gila dalam arti yang sebanrnya. Sedemikian kuatnya tudingan itu, sampai –sampai allah Ta`ala memberikan pembelaan denga firman-Nya :

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,berkat nimat Tuhanmu kamu (muhammad) sekali kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar – benar pahala yang benar –benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka 9orang –orang kafir) pun akan melihat, siapa diantara mereka yang gila.” (QS Al Qolam : 1 -6).

Orang – orang yang merintis jalan adalah mereka yang emiliki kelapangan hati untuk belajar, meski kepada yang lebih muda dan amsih amat hijau. Mereka inlah yang memenuhi dadanya dengan kelapangan dan sekaligus kepdihan tatkala melihat saudaranya berkubang dalam keburukan. Ketegaran jiwanya bertemu dengan kelembutan yang penuh kesantunan. Kematngan ilmunya bertemu dengan kehausan untuk belajar dan kesediaan untuk mendengar. Mereka ingin sekali menciptakan kebenaran, bahkan kepada orang yang telah terjerumus dalam kesesatan yang amat jahat.

Inilah yang menggerakan para pendurhaka mendatangi majelis – amajelisnya, dan bahkan bahkan mendatani lututnya untuk bersimpuh. Inilah yang menyebabkan orang –orang yang keras hatinya menjadi luluh dan bahkan berbalik menjadi sahabat dalam berjuang, dan kawan dalam menanggung penderitaan. Inilah yang membangkitkan semangat untuk berbenah dan berbuat baik sesudah mereka berputus asa atas banyaknya keburukan dan dosa yang telah mereka perbuat. Dan ini pula yang menyebabkan satu negeri, satu kawasan, atau sekurangnnya satu kampung mendapat kucuran barakah dari Allah ; baik yang Dia turunkan dari langit maupun yang Dia munculkan dari bumi.

Allah `Azza wa Jalla telah berfirman :”Jika sekiranya penduduk negeri – negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat – ayat Allah), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS Al- A`raf :96)

Maka bertebarankanlah kebaikan didalamnya. Setiap yang masuk ditempat itu, akan merasakan kebaikan yang merata. Hingga zaman bertukan masa berganti. Para perintis telah beranjak tua sesudah itu pergi menghadap Al Khaliq. Sememntara yang dulu menyertai perjuangannya disamping kiri dan kanan atau dibelakangnya, kini telah menjadi yang dituakan. Sedangkan anak – anak yang dulu bermain – main lucu, sekaraang sedang menentukan zamannnya. Atau, mereka ditemukan oleh semangat zaman yang meilingkupinya.

Inilah titik krusial yang kerapkali menjadi awal terhentinya perjuangan. Banyak jebakan pada masa ini. Generasi peralihan dari perintis kepada generasi kedua,tepatnya genrasi yang menyertai pahit getirnya perontisan ketika sudsah mulai berjalan, jika tidak berhati – hati bisa terjatuh pada tafrith atau ifrath. Bisa terjebak kepada tasahul yang berlebihan atau sebaliknya tasyaddud yang melampaui batas. Bisa terperangkap pada sikap jumud yang anti-perubahan dan sulit menerima masukan, atau sebaliknya berlebihan dalam menanggapi perubahan dan bahkan tidak jarang terjebur dalam arus perubahan itu sendiri.

Sikap jumud membuat kita sulit menerima nasihat yang disampaikan dengan penuh kasih sayang sekalipun (tawashau bil-marhamah). Dalm keadaan seperti ini, amar ma`ruf nahi maunkar bisa terhenti karena yang tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki sikap takzim kepada yang tua, kebaikan Insya Allah masih bertebaran didalamnya. Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda pada yang tua pada generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti yang pernah mereka jumpai.

Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi dengan penghayatan yang rendah atas apa yang seharusnya menjadi ruh perjuangan. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi berelebihan dalam menerima apapun yang datang dari luar, bahkan yang nyata- nyata bertentangan dengan nashsh kitabullah sekalipun. Alhasil, generasi ketiga juga menjadi perusak perjuangan generasi pertama. Na`udzubillah min dzalik.

Apa yang salah sebenarnya ? anyak sebab yang kita runut, banyak kemungkinan yang dapat kita catat. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa kepada yang prinsip. Atau sebaliknya kita menyibukkan diri dengan prinsip, tetapi mengabaikan bentuk. Kita tidak belajar secara utuh atas generasi terdahulu, sehingga kita lupa menyiapkan anak – anak kita memasuki masa depan. Bisa terjadi, kita bahkan tidak dapat membaca masa depan. Kita sibuk menjadi manusia mamsa lalu. Padahal ~ali bin Abi Thalib mengingatkan agar kita mendidik anak –anak untuk sebuah zaman yangbukan zaman kita. Kata `Ali bin Abi Thalibkarramallahu wajhah,” Jangan paksakan anakmu untuk menjadi kamu, karena ia diciptakan bukan untuk zaman kamu.”

Dianatara bentuk – bentuk pemaksaan adalah hilanganya kesdihan kita memahami anak –anak. Setiap kali ada masalah, kita rujukkan pada masa lalu, “Dulu bapak begini juga bisa” atau, “Ah, dulu orang tua kita tidak pakai macam – macam juga berhasil.” Kita lupa bahwa sekalipun prinsip – prinsip yang berjalan pada suatu zaman selalu sama, tetapi bentuknya bisa berubah – ubah. Kalau tidak kita siapkan mereka menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan. Akibat berikutnya bisa tragis ; mereka menjadi manusia kolot yang tidak memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu mematakan bentuk persoalan yang sedang terjadi, atau sebaliknya mereka kehilangan rasa hormat kepada yang tua sehingga mereka berkata,”ah, apa iti orang tua…! gagasan meraka semuanya usang !”

Mereka ynag seperti ini, tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah, serta mana yang pasti dan mana yang praduga. Mereka memutlakkan apa yang ijtihadiyyah, sehingga pada gilirannya muncul generasi yang menisbikan semua perkara, bahkan tang jelas – jelas tetap dan mutlak. Dalam bentuk yang lebih ringan, pintu ijtihad dibuka selebar – lebarnya., meskipun terhadap orang yang tidak memiliki kualifikasi sama sekali.atau sebaliknya melahirkan generasi yang tertutup pikirannya, kaku sikapnya, dan beku gagasannya. Seakan – akan agama ini telah menutup pintu bagi ijtihad.

Diantara sebab – sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap perubahan zaman tanpa hanyut didalamnya, adalah tidak sejalannnya dakwah dan jihad dngan pendidikan dan penyiapan generasi. Dakwah berjalan tanpa perencanaan pendidikan yang amtang sehingga kehilangan visi dan kepkaan menghadapi gejala zaman. Sementara pendidikan berjalan tanpa arah yang ejlas dan ruh yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk tangan, pemeritaan dikoran atau pujian orang –orang yang tulus maupun mereka yang menikam secara halus dengan emuji. Kita mendidik anak – anak untuk kita lihat hasilnya hari ini, bukan untuk mempersiapkan merekaenantang masa depan seperti wasiat ~ali bin Abi Thalib. Akibatnya, mereka menjadi orang yang hanya menyonsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa depan.

Teringatlah saya kepada sebuah ayat.Allah `Azza wa Jalla berfirman: “ Tidaklah sepatutnya bagi orag – orang Mu`min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap – tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengtahuan mereka tentang agam, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, supaya mereka dapat menjaga dirinya.” (QS At Taubah :122).

Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak – anak kita sendiri, ada yang eprlu kita renungkan dari ayat ini.

Baca Juga

berbakti

Memuliakan Orang Tua 

MitraFM.com– Ada 10 cara yang cukup sederhana yang dapat kita lakukan untuk berbakti atau memuliakan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*