RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Kehamilan & Kelahiran » Bila Nurani Bicara 2

Bila Nurani Bicara 2

Sihaam

Tanah Suci adalah sumber hikmah yang tak pernah kering. Inilah keistimewaan dari beribadah di Tanah Suci, banyaknya kesempatan untuk menimba hikmah kehidupan dari perjumpaan dengan jamaah dari segala penjuru dan pelosok bumi dari beragam latar belakang adat dan budaya. Seperti halnya pertemuanku dengan “saudari-saudariku penduduk makkah” Sihaam, Halimah, Zahra dan keluarga besarnya yang berkulit kelam, yang telah mengajariku mengenai kekuatan cinta yang akarnya diajarkan dalam Islam dalam bentuk untuk selalu berbaik sangka dan memancarkan kasih sayang pada sesama.

Waktu Dzuhur sudah menjelang. Para Haji dan hajjah berlalu lalang mencari posisi yang strategis untuk segera Shalalt di Masjidil Haram. Suasana Harma pada hari itu sungguh ramai. Ini adalah pekan terakhir dari puasa Ramdhan. Beberapa hari lagi akan mencapai malam puncaknya, dimalam 27 Ramdhan. Para jamaah datang dari segala penjuru bumi dengan segala cara menuju satu titik yang sama, Makkah Al Mukarramah, untuk segera lebur dalam kemegahan Masjidil Haram. Tentunya penduduk kota Makah sendiri takmau ketinggalan kesempatan untuk mendapatkan malam lailatul qadar di bawah naungan Ka`bah.

Aku ikut dalam kerumunan jamaah di Masjidil Haram. Shalat dzuhur sudah usai, aku berharap mendapat posisi yang lebih baik lagi dan ikut berdesak-desakanmenuju ke pelataran teras dengan pemandangan langsung ke arah Multazam, pintu Ka`bah yang suci, tempat segala doa diijabah. Ternyata ada satu celah di situ yang belum tertutupi sajadah. Sambil mengucap salam aku meminta izin pada jamaah disana, yang kelihatannya telah memepertahankan posisinya sejak sebelum shalat dhuhur tadi. Serentak aku mendapat penolakan dari mana-mana. Ibu-ibu tinggi besar dan berkulit gelap sperti dikomandoi bersama- sama menggerakan tangannya dan emnolak kehadiranku di situ. Aku terkesiap. Emosiku hampir saja tersulut. Oh, bukankah Masjidil Haram ini diperuntukan bagi seluruh umat muslim dunia, mengapa aku yang telah datang begitu jauh dari belahan dunia lain tak boleh ikut menikamati secelah tempat di depan Multazam ini? Namun segera aku menarik nafas panjang dan mengubah sudut pandang egoisku, serta mulai berempati dengan posisi meraka. Pikrku, mereka mungkin sedari pagi telah memepati posisi strategis ini, dan berjuang untuk mempertahankannya. Tiba tiba saja ada seorang asing yang datang belakangn ingin pula mendapat tempat yang sangat terhormat ini, baris ke dua dari teras yang berhadapan langsung dengan Multazam, wajar saja kalau aku mendapatkan penolakan. Aku tersenyum dan meilpat kembali sajadahku.”sister, ok takmengapa, aaaku kan pindah,” senyumku sambil menunjuk-nunjuk ke arah lain dengan bahsa isyarat. “Tapi waktu shalat Ashar masih lama, kenapa kita tidak saling berkenalan?” kululurkan tangan sambil menyebutkan nama dan asalku. “indonesia.”

Kami bersalam-salaman sambil berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Aku sangat bahagia, karena baru kali ini berkesempatan untuk berkenalan dengan kelompok penduduk Makkah yang kelihatannya segaris keturunan dengan Bilal Bin Rabah yang berkulit gelap. Sihaam tanpak berusaha menjelaskan sesuatu kepada kelompoknya. Kelompoknay terlihat tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang dismapaikan sihaam,tapi ia telah menuju ke arahku dan tersenyum memperlihatkan gigi emasnya. Tangannya meraih sajadahku dan mengembangkan kembali, “Sister, you stay,” ujarnya yakin. Aku terheran-heran,”Sihaam, ist it OK?” aku bertanya ragu-ragu dengan bahasa isyaratku,”Aku bisa shalat disini?” Sihaam kembali mengangguk yakin , dan menunjuk kavling baruku sambil berkata, “Sister Indonesia welcome.” Alhamdulillah. Ku bayangkan apa jadinya bila tadi tadi aku membala sdengan nada tinggi penolakan mereka, tentunya semua kami akan berpisah dengan hati yang terluka. Tapi kini tantangan bagiku untuk mencoba berkomunikasi dengan sister Makkah yang besar-besar dan berkulit gelap ini. Tepat di sebelahku duduk seorang wanita besar dan gemuk. Karena kesulitan bahasa, akhirnya kmonunikasi kami lebih mengandalkan bahasa tubuh. Ketika dia tertawa-tawa sambil menceritakan sesuatu, aku ikut tartawa sambil menduga-duga apa yang kira-kira ingin disampaikan oleh sisiter, ketika dia meringis karena kakinya yang mungkin kesemutan, kupijit kakinya.

Atas kebaikan hati Sihaam aku akhirnya diterima ditempat yang begitu indah. Bukan itu saja, aku berkesempatan untuk berkenalan dengan kelompok yang saling menraik menurut hematku. Mereka telah mengkavling daerah shalat yang paling strategis, tepat dihadapn pintu Ka`bah, Multazam. Yang menarik, sihaam dan Halimah melayani kelompok yang diberikan posisi shalat terbaik di istu. Kavling mereka telah disiapkan denga tiga buah kursi khusus. Lengkap dengan peralatan berbuka yang terdiri dari empat tas besar. Pelayanan mereka tidak tanggung-tanggung. Ketiga wanita yang belakangan kukenal sebagai mona, Ghaliba dan ibunya dilayani dengan istimewa termasuk dikipasi serta dipayungi supaya tidak kepanasan. Saking hormatnya pelayanan mreke terhadap kelmpok ibu dan dua anak dari Riyadh ini, aku menyangka mungkin Halimah dan Sihaam yang hitam ini adalah memenag pelayan mereka. Tapi ketika kutanyakan pada Mona dan Ghaliba, mereka ternyata baru berkenalan di Masjidil Haram.

Sihaam serta halimah dengan senang hati tiap hari dari mulai dhuhur telah mengakvling tempat tersebut untuk kelompok mereka. Ketika acara berbuka tiba, aku mneyaksikan dengan takjub betapa halimah dan sihaam melayani mereka dengan tulus. Kelihatannya bekal sebagian besar dibawa oleh Mona dan Ghaliba, namun urusan pembagian dan pelayanan dilakukan oleh kelompok Sihaam dan kawan-kawan, karen a Mona, ghaliba dan ibunya sudah larut dalam do a dan dzikir yang tak putus-putusnya. Semua jamaah larut dalam suasanan ingin berbagi korma, buah, sandwich, kue,buku, aneka macam. Berbagi minuman muali dari kahwa, sirup, teh dan zam-zam.aku benar-benar berpesta dan kuputuskan untuk tidak pulang kehotel karena takut kehilangan kavlingku untuk taraweh. Sihaam malah menawarkan untuk menjaga kvlingku untuk tahajjud jam satu malam. Alangkah senangnya, pada saat kembali pukul satu tengah malam,tempat shalatku telah tersedia, tepat memandang Multazam. Rasanya berkah sekali mengenal kelompok penduduk Makkah yang berkulit gelap ini.

Demikianlah sampai hari terakhir ramadhan, keluarga Makkahku setia menjaga kavling shlalat untuk sisiter indonesianya yang bahkan tidak bisa berkomunikasi verbal dengan mereka. Ketika kutanyakan kepada Mona yang berpendidikan tinggi da lancar sekali berbahasa ingris, mengapa sihaam dan teman-teman rela berkorban dan berjerih payah datang sejak awal untuk menjaga kavling shalat untuk semua kita semua yang baru saja mereka kenal di Masjidil Haram ini? Mona tersenyum dan berkata. “Tidakkah kau rasakan, semua ini hanya mungkin karena cinta. Saat awal kau diberi tempat di sini, karena kau pancarkan dari wajahmu cinta. Pada saat dipenuhi rasa cinta, mereka senang bisa membahagiakan orang lain. Mereka menyadari keterbatasan mereka dalam pendidikan maupun ilmu keagamaan, namun mereka imangi itu semua dengan semangatmmelayani yang luar biasa. Itulah ladang amal mereka. Tidaklah kau perhatikan, dalam Islam berusaha dengan jerih payah itu adalah wajib, namun biasanya berkah itu datang melalui cinta. Lihatlah prosei sa`i dari Siti Hajar. Setelah bersusah payah tujuh kali berlarian antara Safa dan Marwa, karena cintanya pada Ismail, dan pengharapannya akan air, apa yang ditemuinya? Ternyata cinta dan harapan yang didahului dengan pengorbanan telah membuahkan keajaiban. Allah telah memungkinkan Ismail mendapatkan zam-zam melalui tumit kecilnya. Begitu pula Sihaam dan kelompoknya, yang baru dapat merasakn berkah dari jerih payahnya dengan berlomba melayani dan saling mencintai karena pengharapannnya akan ridha Allah.”

Luar biasa pengajaran dan pelatihan paripurna dari ibadah di Tanah Suci. Semakin dimaknai semakin menbuat kita tawadhu, seperti yang diperlihatkan oleh Sihaam dan kelompoknya yang berlomba-lomba ingin melayani sesama demi menggapai keridhaan-Nya. Subhanallah…

Baca Juga

ASI

Tips Mempertahankan Kualitas dan Kuantitas ASI Saat Puasa Ramadhan

MitraFM.com– Ketika Bulan Ramadhan tiba tak sedikit ibu-ibu muslimah yang menyusui yang ingin tetap berpuasa. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*