RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Anak » Siapa Yang Mendominasi Anda dan Anda Rela Mendominasi?

Siapa Yang Mendominasi Anda dan Anda Rela Mendominasi?

Ada seorang mahasisiwa yang sangat rajin beribadah. Shalatnya selalu tepat waktu, berjama`ah. Itupun masih ditambah dengan amalan-amalan sunnah seperti shalat tahajud dan puasa Senin- Kamis walaupun aktifitasnya sebagai pengurus unit kegiatan Islam sangat padat.

Suatu saat karena kesibukannya, ia tidak bisa manghadiri kuliah. Secara materi kuliah sebenarnya mahasiswa yang cukup encer otaknya ini tidak terlalu masalah. Bahkan seandainya ia tidak mengikuti kuliah tatap muka di kelaspun dan hanya ikut ujian, untuk bisa memperoleh nilai baik banginya bukan masalah.

Apa yang terjadi ketika ia tidak bisa mengikuti kuliah? Ia titip absen. Ia minta tolong kepada kawan dekatnya untuk mengisikan tanda tangan, tanda seorang mahasiswa telah hadir. Yang menarik, ia melakukannya tanpa perasaan berdosa sama sekali. Innocent face.

Renungkan, seandainya mahsiswa ini ditanya tentang Tuhannya. Tentu dia akan menjawab “Tuhanku adalah Allah SWT.” Inilah yang mesti kita renungkan. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku menjadikan Allah sebagai Tuhan dan sesembahan tetapi dengan santai melakukan titip absen.

Benarkah ia mempertuhankan Allah SWT? Mengapa ketika Allah SWT menyuruhnya untuk jujur ia justru suka menipu dengan titip absen? Siapa yang lebih tinggi posisinya menurut mahasiswa ini? Allah SWT yang melarang ketidakjujuran atau nilai akademik yang menuntutnya untuk titip absen?

Itulah apa yang dalam bahasa arab di sebut sebagai ilah. Sesuatu yang mendominasi diri seseorang dan orang itu rela didominasinya. Sesuatu yang sangat penting bagi seseorang dan tidak ada apapun yang lebih penting darinya. Sesuatu yang menjadi sesembahan seseorang.

Orang yang menjadikan nilai akademik sebagai ilah, ia akan dengan senang hati melakukan apa saja asalkan memperoleh nilai bagus. Ia tidak peduli apakah harus menipu dengan titip absen, curang dalam ujian, sogok sana sogok sini atau apapun. Pendek kata…tiada ilah kecuali nilai akademik.

Ada juga yang menjadikan uang sebagai sesuatu yang mendominasinya. Tidak ada ilah selain uang. Laa ilaaha ila alfulus. Ia akan berbuat apapun demi uang. Ia bisa saja mengambil hak orang lain demi uang. Ia bisa berbuat curang kepada orang lain demi uang. Ia bisa membeli ballpoin seharga Rp. 5.000 dan kemudian melaporkan kepada perusahaan atau kantor tempatnya bekerja dengan kuitansi seharga Rp. 7.000,- sehingga ada uang Rp. 2.000,- yang bisa diambilnya dan masuk ke kocek pribadi.

Seorang polisi yang menjadikan uang sebagai sesuatu yang mendominasinya akan dengan mudah menerima “uang damai” dari para pelanggar lalu lintas tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Seorang PNS pengurus KTP akan dengan ringan menerima uang tips dari masyarakat yang dilayaninya padahal ia telah digaji untuk pekerjaan mengurus KTP tersebut. Seorang walikota yang menjadikan uang sebagai lembaran terakhir yang tidak disobek akan tanpa beban menerima hadiah sebuah rumah dari pengembang yang memiliki proyek di wilayah kerjanya padahal nyata-nyata Rasulullah SAW melarang para pejabat yang ditunjuknya untuk menerima hadiah dari masyarakat. Pertanyaan Rasulullah “Apakah bila engkau tidak menjadi pejabat masih akan diberi hadiah?” bila tidak, berarti hadiah itu bukan hak pribadi, tetapi hak negara dan dengan demikian haram hukumnya untuk diterima oleh seorang pejabat.

Seorang ayah yang menjadikan keluarga sebagai sesuatu yang mendominasi dirinya akan dengan mudah melanggar larangan Tuhannya dan berbuat maksiat demi keluarganya. Seorang pejabat yang menjadikan keluarga sesuatu yang mendominasinya akan mudah tergelincir menerima hadiah dari masyarakat dan kaum bisnis karena ingin agar keluarganya memiliki standart hidup tertentu yang diluar kemampuan gajinya sebagai seorang pejabat. Seorang ibu yang menjadikan keluarga sebagai sesuatu yang mendominasinya akan tidak berdaya apabila suaminya memerintahkannya untuk mencari sekolah favorit bagi anaknya walaupun hal itu harus ditempuhnya dengan penyuapan.

Lalu apa yang tepat untuk dijadikan ilah yang kita rela didominasinya? Bukan nilai akademik, bukan istri, bukan anak, bukan jabatan, bukan sahabat. Semuanya akan kita tinggalkan pada saat maut menjemput.

Yang pantas mendominasi diri kita dan kita rela didominasinya adalah Allah SWT. Allah SWT-lah satu-satunya. Dia akan menjadi sesuatu yang bisa kita pegang sampai kapanpun. Sejak kita lahir, sekolah, bekerja, berkarir, sakit, sehat, bangun, tidur, dan bahkan sampai kita harus meninggalkan dunia yang fana ini. Inilah ilah yang sejati. Inilah sesuatu yang memang benar-benar penting. Tidak ada sesuatu yang lebih penting dari-Nya. Inilah sesembahan. Inilah sesuatu yang mendominasi kita dan kita rela untuk didominasinya.

Kini renungkan. Siapakah yang selama ini mendominasi diri Anda dan Anda rela didominasinya dalam kehidupan ini? Sudahkah Allah SWT yang menjadi pilihan? Bila belum, kini saatnya memperbaiki. Anda belum terlambat. Anda masih ada waktu. Bila sudah, kini saatnya untuk mengimplementasikan apa yang menjadi hal yang paling penting dalam hidup Anda ini dalam kehidupan keseharian Anda.

Sumber : Buku FSQ

Baca Juga

ayah-dahsyat

Kelembutan Ayah Kekuatan Dahsyat

MitraFM.com– Kata-kata Ayah itu dahsyat. Telah cukup bagi seorang anak sepenggal nasihat kecil yang keluar ...

One comment

  1. Jadi pertanyaan sekaligus tugas besar kita semua nih…Smoga kita bisa meletakkan kecintaan kepada Allah dalam hati kita di atas segala cinta..Amin
    KArena Cinta pada keduniaan akan banyak menjerumuskan kita, hanya cinta kepada Allah yang akan menyelamatkan kita..Amin ^__^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*