RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Tips Agar Anak Mau Bercerita tentang Harinya

Tips Agar Anak Mau Bercerita tentang Harinya

Sebagian orangtua sering mengeluhkan sulitnya mengajak anak bercerita mengenai harinya. Padahal, orangtua perlu tahu apa saja yang sedang terjadi pada kehidupan si kecil. Ketika ia menolak menceritakan harinya, jangan serta merta menyalahkan si anak yang tertutup. Bisa jadi, cara bertanya kita, sebagai orangtualah yang belum tepat.

Michele Borba, Ed.D., dari GalTime.com menyarankan untuk menggunakan beragam strategi untuk berkomunikasi dengan si anak. Carilah yang paling tepat untuk Anda dan si kecil, dan latihlah hal tersebut berulang-ulang hingga menjadi hal yang cukup alamiah. Berikut tipsnya:

1. Jangan segera menghadangnya. Begitu ia sampai di rumah atau duduk di mobil Anda, jangan langsung menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai harinya. Umumnya, anak-anak merasa kelelahan dan tak bersemangat begitu tiba di rumah. Jadi, tunggulah setidaknya 30 menit sebelum memulai percakapan mengenai harinya. Beri ia kesempatan untuk menenangkan diri, makan sedikit camilan, dan beristirahat sejenak.

2. Jangan mengubah perbincangan menjadi sebuah sekolahan di dalam rumah. Coba bayangkan apa yang Anda perlukan untuk bisa mengutarakan isi hati saat Anda berusia dirinya? Sama seperti si kecil, ia tidak suka jika orangtuanya memaksa, bercanda yang menyinggung, mengancam, menuduh, menguliahi, atau memarahinya.

3. Berikan perhatian penuh. Pikirkan bagaimana jika sahabat Anda menanyakan mengenai hari Anda. Gunakan contoh itu. Pastikan Anda berada dalam kondisi tenang, tampak tulus, dan tertarik akan cerita si kecil. Tentu hal ini akan terlihat dari bahasa tubuh Anda. Jangan sampai Anda sibuk main BlackBerry atau Facebook-an saat ia sedang bercerita.

4. Pertanyaan terbuka. Jangan berikan pertanyaan yang bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak”. Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya terbuka, jangan yang bisa dijawab dengan selintas lalu saja.

5. Jangan bertanya pertanyaan yang sama. Anak yang sudah agak besar akan “ilfeel” jika Anda bertanya pertanyaan yang sudah bisa ditebak, seperti “Bagaimana sekolah?” Jadi, cobalah jadi kreatif. Ubah cara bertanya atau pertanyaannya untuk membuat anak Anda tahu bahwa Anda tertarik.

6. Berhenti dan dengarkan. Begitu si anak mulai membuka mulutnya untuk menceritakan mengenai hari atau sekolahnya, berhentilah melakukan apa pun yang sedang Anda lakukan, dan berikan perhatian penuh. Tangkap informasi sekecil apa pun untuk Anda tanyakan lagi kepadanya dan berikan ekspresi bahwa Anda memang tertarik. Ia akan terbuka begitu ia tahu bahwa Anda memang tertarik.

7. Regangkan perbincangan dengan pertanyaan mengundang. Jika si anak berbagi detail, coba gunakan metode peregangan. Artinya, jangan memaksa atau mengorek-ngorek, tetapi gunakan penyambung ungkap, seperti, “Oya?”, “Iya,” atau “Wow, kok bisa gitu, ya?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak mengancam, tetapi mengundang si kecil untuk bercerita.

8. Mengulang ucapannya. Cobalah ulang ucapan yang ia sampaikan. Misal, “Aku main ayunan di taman tadi.” Anda bisa balas, “Kamu main di ayunan?” Trik ini akan menarik ketertarikan si anak untuk terbuka kepada Anda.

9. Rumah yang menyenangkan untuk anak-anak. Kebanyakan orangtua merasa mereka tahu lebih banyak tentang anaknya dari teman si anak. Jadi, cobalah membuat rumah lebih menyenangkan untuk dikunjungi teman-teman si anak. Undang teman-teman si anak, isi kulkas dengan makanan menyenangkan. Siapkan keranjang basket atau mainan lain yang bisa dilakukan oleh si anak bersama teman-temannya. Saat teman-temannya bermain, cobalah untuk bersikap bersahabat kepada teman-temannya. Tak hanya teman-temannya yang akan berbagi cerita, tetapi si anak bisa jadi ikut-ikutan masuk dalam perbincangan.

10. Info yang berkaitan dengan sekolah. Cari tahulah apa pun yang berkaitan dengan sekolah. Entah itu dengan mengikuti perkumpulan orangtua, atau minta dikirimkan newsletter sekolah jika ada. Jangan segan untuk mencari tahu tentang guru dan keadaan kelas si kecil dari wali kelas atau orangtua lain.

11. Kenali waktu harian si anak. Ketahui kapan si anak paling enak diajak bicara. Seharian bersekolah, baru tiba di rumah, biasanya dia melakukan apa, atau kapan ia biasa bersosialisasi, ketahui itu dan kenali waktu senggangnya.

12. Duduk bersebelahan. Anak laki-laki memang cenderung lebih tertutup. Anak yang sensitif akan merasa takut jika orangtuanya mengajaknya duduk dan berkata, “Sini, Mama mau bicara tentang hari kamu.” Cobalah datangi ia, duduk di sebelahnya, jangan berseberangan, karena ia akan melihatnya sebagai sebuah ancaman atau penghakiman.

13. Kenali kesukaannya. Beberapa anak, khususnya anak laki-laki lebih mudah terbuka saat ia bicara tentang dirinya sambil melakukan suatu hal yang ia sukai, seperti lempar bola basket, makan es krim, menggambar, atau membangun Lego.

14. Masukkan diri Anda dalam perbincangan. Dengan Anda yang memulai bercerita tentang hari Anda, si kecil bisa ikutan merasa ingin berbagi cerita. Hal ini bisa Anda lakukan sambil makan malam bersama. Akan lebih baik jika si ayah pun ikutan berbagi cerita harinya.(kcm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

One comment

  1. Seperti Upin – Ipin
    Oleh : Bismi Aulia*
    “Hey Upin-Ipin main yuk..”, panggilan Hendra sahabat baru kami yang terdengar dari balik jendela rumah. Kami saling berpandangan dan tersenyum. Abangku, kak Danil tetap duduk disofa sambil meneruskan membaca ensiklopedia alam yang baru dibelikan ummi kami, sementara Aku sendiri, Danis, menghampiri Hendra yang juga teman sekolah kami. “Maaf Hendra, ini waktunya kami berdua untuk istirahat siang, karena jam tiga sore kita kembali mengaji, kamu tidak ikut mengaji di TPA kompleks Hen?”. Kulihat wajah Hendra ada rasa kecewa, tapi Aku menawarkan agar kita bermain setelah pengajian berakhir. Alhamdulillah wajah Hendra kembali ceria. “Oke Ipin-Upin, sampai jumpa di TPA ya?” ucap Hendra sambil mengangkat tangannya. Kembali aku memasuki rumah kulihat kembaran-ku lagi asyik membaca, “belum tidur kak?, tanyaku. Belum nih, lagi seru baca ensiklopedi-nya”, tutur kakak-ku tanpa menoleh sedikitpun dari bukunya. Memang kami berdua mania membaca dari kelas satu SD yang mulai bisa membaca lancar. “Nis, kenapa ya hendra panggil kita Ipin-Upin?”, tanya kak Danil. “Danis juga tidak tahu kak, mungkin dimata Hendra kita mirip dengan mereka, tapi dimananya kita yang mirip ya kak?”, ucapku sambil menghelus-helus kepala botak ini. “Oo.. Danis tahu kak”, tuturku yang membuat kak danil melirikku. “Kakak mau tahu?”, kulihat kak Danil mengganggukkan kepala dengan semangatnya. “Ya itu kak, kepala kita botak dan kulit kita itu warnanya sama seperti Ipin-Upin”, ucapku sambil rebahan ditempat tidur kesayangan kami berdua. Kak Danil meletakkan bukunya dan ikutan tidur disebelahku, “betul juga kamu dek, tapi insyaAllah nanti kita tanyakan saja langsung saja dengan Hendra, supaya kita tahu alasan yang jelasnya kenapa kita dipanggil Ipin-Upin. “Setuju kak”, ucapku sambil menyetel jam kami agar tidak telat tiba di TPA.
    “Baiklah adik-adik cukup sekian saja pengajian kita hari ini, jangan lupa diulang-ulang lagi bacaannya dirumah ya!”, nasehat dari ustadzah Anna. “InsyaAllah kami akan melaksanakan ustadzah”, jawab kawan-kawan dengan serempak. “Alhamdulillah, terimakasih adik-adik, mari kita tutup majelis kita dengan hamdalah dan doa penutup majelis”. Kami bubar dengan tertib sambil menyalami semua guru ngaji kami yang sudah berdiri dengan rapi. “Ipin, abang kamu mana? kok tidak kelihatan?” kata Hendra yang baru berlarian menuju kearahku. “Iya tuh aku tidak tahu juga mungkin ke toilet”. Tidak sampai dua menit, kulihat kakakku yang baru keluar dari toilet. “Eh itu dia kak Danil” sambil kulambaikan tanganku memanggil kak Danil.
    Ipin-Upin, sebenarnya kalian pindahan dari mana sih? ucap Hendra penasaran. “Oo itu, kami pindahan dari Aceh, karena Abi sekolah lagi di Kota Malang ini”, kak Danil mendahului Aku untuk menjawab pertanyaan dari Hendra. “Berapa lama kalian tinggal di Kota Malang ini?”, tanya Hendra lagi. Wah kalo itu belum pasti Hen, tapi kata Ummi sampai Abi selesai sekolahnya, insyaAllah paling lama tiga tahun”, jawabku sambil merapikan al-qur’an dan buku-buku dalam tas milikku. “Hendra boleh tidak kami bertanya?” tutur kak Danil, yang sudah bisa kutebak akan bertanya apa saudara kembarku ini. “Begini Hen, mengapa kamu memanggil kami Ipin-Upin? nama kami bukan Ipin-Upin, tapi Danil-Danis” tutur sang kakak. “Ha..ha..ha.. kalian jadi penasaran dengan aku panggil Ipin-Upin?” Hendra tertawa lepas sambil memegang kepalanya. “Begini kawan-kawanku yang baru sampai ke Kota Malang, kalian itu memang mirip dengan Ipin-Upin seperti kepala botak, warna kulit dan hidung kalian berdua yang mirip dengan anak-anak Malaysia itu”, sambil senyum Hendra menjelaskan dengan kami. Kami berdua hanya saling berpandangan dan tersenyum juga. “Eh, ngomong-ngomong kalian tidak marahan kalo Aku memanggil itu?”, Wajah serius Hendra terlihat dan menunggu jawaban dari kami. “Begini Hendra, sebenarnya kami tidak marah bila dipanggil Ipin-Upin, hanya saja nama yang diberikan orang tua kepada kami berdua bukan Ipin-Upin tapi Muhammadanil dan Muhammadanis, nama itu do’a, jadi kami lebih senang dipanggil Danil dan Danis saja. Maaf ya Danil-Danis, sebenarnya Aku udah tahu nama kalian tapi kalian itu memang mirip dengan Ipin-Upin jadinya Aku panggil Ipin-Upin”, tutur Hendra dengan wajah seriusnya. Tidak lama kemudian Hendra meneruskan lagi penuturannya, “Aku janji, tidak lagi panggil kalian Ipin-Upin tapi Danil-Danis”. Kakakku kembali menanggapi perkataan Hendra, “iya hendra, kami maafkan, juga maafkan kami ya, bila ada tingkah laku kami yang kurang berkenan. Kami-pun saling berangkulan sambil bersalaman dan kembali tersenyum lebar. “Eh, ngomong-ngomong kenapa sih kepala kalian masih botak sampai kelas lima SD?”, tanya hendra lagi. Kesempatan menjawab kali ini Aku yang menanggapinya, “Begini Hen, mengapa kepala kami terus dibiasakan untuk tidak tumbuh rambut alis botak, itu karena supaya sari makanan yang kami makan diserap sepenuhnya untuk pembentukan otak yang sempurna, dengan kata lain tidak diserap oleh rambut”. Aku kembali menjelaskan kepada Hendra dan kak Danil, “Kata Ummi, kebiasaan ini adalah hikmah dari sunnah Rasulullah Muhammad SAW yaitu aqiqah, yang menganjurkan kita untuk menyembelih kambing dan mencukur rambut ketika umur kita didunia baru 7 hari, 14 hari atau 21 hari dan riset penelitian membuktikan bahwa untuk menumbuhkan atau menyuburkan rambut perlu sari makanan yang banyak, jadi kasihan dong otak kita tidak dapat sari makanan. Oo begitu hikmahnya, mengapa kepala kalian masih botak!”, jawab Hendra dengan puasnya atas jawaban-ku ini.
    Akhirnya kami berpisah dipersimpangan kompleks dengan berjabatan tangan dan memberi salam. Belum jauh dari persimpangan tiba-tiba kak Danil bertanya kepadaku, “dek, kapan kamu tanya masalah ini kepada Ummi? Ups, ternyata Aku lupa berbagi dengan kak Danil tentang ilmu ini. “Oo.. itu kak, sewaktu kakak tidur Aku menghampiri Ummi dan bertanya langsung ke Ummi”, jawabku sambil melirik wajah kakak. Subhanallah ya Danis, semua anjuran Rasulullah ada hikmahnya dan tidak ada yang sia-sia. Iya kak danil tidak ada yang sia-sia dari firman Allah dan sabda Rasulullah. “Oya kak, hari ini kita-kan puasa senin-kamis, ayo buruan kak, hampir maghrib”, kataku sambil merangkul tubuh kakak tercinta.

    (Untuk Ibunda dan Ayahanda tercinta di Aceh, terimakasih telah menjaga cucunda Aulia Intan Az-zahra yang shaliha, alima dan zakia)
    Kota malang, 08 Oktober 2010
    *penulis adalah seorang pendidik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*