RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Ingat, ASI Tetap Lebih Baik daripada Susu Formula

Ingat, ASI Tetap Lebih Baik daripada Susu Formula

MAKANAN yang paling baik dan tepat untuk bayi adalah ASI. Namun saat ini banyak sekali bayi yang langsung diberikan susu formula. Entah karena si ibu sibuk bekerja, entah juga karena ada masalah pada payudara si ibu.

Saat ini produk susu formula sebagai produk pengganti ASI marak beredar di pasaran. Berbagai produk dengan berbagai keunggulan ditawarkan untuk menarik minat konsumen. Hal ini tentunya semakin membuat wanita semakin menjauhi kegiatan “menyusui”. Memang tidak ada larangan untuk memberikan susu formula pada bayi. Tapi ada baiknya Anda ketahui lebih dekat apa itu susu formula.

Perbedaan antara susu formula dan ASI sangat jelas. Pertama, sumber kedua susu itu berbeda. “Kalau dibilang perbedaannya apa, ya, sudah pasti beda. Yang satu sumbernya sapi. Susu formula itu sebenarnya susu yang diformulasikan atau dibuat sedemikian rupa menyerupai ASI. Jadi, sampai kapan pun tidak akan sama dengan ASI. Formula itu istilah susu sapi yang diformulasikan menyerupai ASI. Komposisinya tidak bisa 100 persen sama. Hanya kira-kira. Hanya kandungannya yang menyerupai,” terang dr Elizabeth Hutapea SpA dari RS Royal Taruma, Grogol, Jakarta Barat.

Disebut menyerupai ASI karena kandungannya disesuaikan. Misalnya, pada susu sapi kandungan zat tertentu sangat rendah, sehingga perlu penambahan zat dari luar. Dan jika ada yang kandungannya terlalu tinggi, kandungan itu diturunkan.

“Menyerupai dalam arti kandungan gizi dalam ASI dipelajari dan akhirnya diterapkan sebagai acuan pada susu formula. Jadi, yang ditambahi pada susu formula itu DHA, zat besi, dan zat-zat yang lainnya. Kalau berlebihan di susu sapi, itu juga dikurangi. Seperti kalsium dan natriumnya. Itu terlalu tinggi. Itu dikurangi. Itulah kenapa dinamakan susu formula,” lanjut Elizabeth.

Perbedaan lainnya adalah zat-zat bilogis. Zat biologis yang dimaksud, antara lain, antibodi, lactobacillus, dan sebagainya.

“Yang lain itu zat-zat bilogis. Contohnya, antibodi, lactobacillus, probiotik, sistem kekebalan, immunologlobulin. Itu semua gak ada di susu formula. Adanya di ASI,” jelas Elizabeth.

Yang juga perlu diperhatikan adalah laktosa. Laktosa yang terdapat pada susu formula dan ASI berbeda. Walaupun dari strukturnya sama, namun laktosa ini sering menjadi masalah ketika bayi mengonsumsi susu formula.

“Laktosa ASI mudah diserap sedangkan susu formula belum tentu mudah diserap oleh bayi,” imbuh Elizabeth. Itulah mengapa ada kasus bayi yang tak cocok dengan susu formula atau bayi mengalami diare setelah mengonsumsi susu formula.

“Makanya ada susu formula yang cocok, ada susu yang tidak cocok pada bayi,” tandasnya.

Hal itu bisa terjadi karena ASI punya faktor lain, sehingga konsumsi ASI jarang dan hampir tidak pernah menimbulkan masalah dibanding dengan konsumsi susu formula. ASI memiliki enzim yang membantu penyerapan laktosa. ASI punya enzim yang membantu pencernaan laktosa. Susu formula kan nggak ada,” jelas Elizabeth.

Perbedaan lainnya adalah sistem kekebalan. Sistem kekebalan yang terdapat dalam ASI tidak akan pernah tergantikan oleh susu formula manapun. Sistem kekebalan ini diturunkan oleh sang ibu melalui ASI.

“Kekebalan itu yang nggak bakalan bisa tergantikan. Pada susu formula hampir tidak didapat, ya. Kekebalan didapatkan melalui ASI. Kekebalan saluran cerna khususnya. Flora usus, secretory immunoglobulin A, itu adanya di ASI,” tegas Elizabeth.

Perbedaan-perbedaan itu kemudian bisa dilihat pada anak. Pasti ada perbedaan anak yang minum ASI dan yang minum susu formula.

“Jelas beda. Bayi yang dikasih ASI dan tidak itu ke depannya beda, dalam hal kecerdasan, tumbuh kembang, kerentanan terhadap penyakit, lQ-nya juga beda. Itu semua beda. ASI lebih bagus. Tetap lebih bagus. Belum lagi tingkat obesitas. ASI sangat rendah tingkat obesitasnya. Sementara susu formula sangat tinggi tingkat obesitasnya. Dari penelitian diketahui bahwa risiko obesitas lebih meningkat pada pasien-pasien yang pada saat bayi memiliki riwayat mendapatkan susu formula,” jelas Elizabeth.

Berarti susu formula tidak boleh diberikan? Sekalipun ada banyak kendala seperti ASI yang keluar tidak mencukupi atau sangat sedikit? “Cuma kita tidak bisa pungkiri memang banyak kendala seperti wanitanya sibuk, tidak keluar ASI. Kalau sudah demikian, ya sudah, dikombinasi,” kata Elizabeth.

Yang dimaksud dengan kombinasi adalah susu formula sebagai pengganti ASI. Masalahnya, masih banyak ibu yang salah tangkap. Yang benar adalah susu formula menggantikan ASI ketika asupan ASI berkurang, bukan ASI menggantikan susu formula. “Kombinasi boleh saja. Bisa dikombinasikan kapan saja karena bayi kan mengonsumsi susu dari 0-6 bulan,” jelas Elizabeth.

Meskipun pada akhirnya harus menggunakan susu formula lantaran ASI tidak keluar, hal yang paling pertama harus diberikan adalah kolostrum. “Yang lahir tiba-tiba langsung dikasih susu formula itu beda sama yang dia lahir dia dikasih dulu kolostrumnya. Jangan sampai firs feeding-nya itu susu formula. Kolostrum dulu dikasih. Karena kolostrum itu pasti keluar. Gak mungkin gak keluar walaupun ASI tidak keluar. Kolostrum itu akan melapisi saluran pencernaan bayi sehingga dia akan lebih kebal terhadap benda asing,” kata Elizabeth.

Lalu berapa rasio perbandingan kombinasi susu formula dan ASI yang baik? Menurut dr Elizabeth, hal ini sebaiknya tidak diberi patokan khusus. Kombinasi dimaksudkan untuk menggantikan ASI saat kuantitas atau jumlah yang masuk ke dalam tubuh bayi sedikit. Rasio atau perbandingan cenderung memengaruhi ibu secara psikologis dan membuat sang ibu malas memberikan ASI.

“Tapi yang diharapkan, meskipun dikombinasi, ya, tetap ada niat untuk memberikan ASI. Jangan sampai malas-malasan. Rasio, kalau bisa, nol. Kalau bisa, tidak dikombinasikan. Nggak bisa dipatokin. Semampunya saja. Kalau memang tidak bisa dengan ASI karena kendala-kendala seperti ASI sedikit, boleh diberikan susu formula. Jangan diberi patokan,” tegas Elizabeth.(Mitra FM/kcm)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*