RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Salah Asuh Orangtua Bisa Jadi Masalah Anak di Kemudian Hari

Salah Asuh Orangtua Bisa Jadi Masalah Anak di Kemudian Hari

Kepribadian dan karakter seseorang dipengaruhi oleh bagaimana cara orangtua dulu mengasuhnya. Semua pola asuh baik yang terlalu kaku atau bebas akan mempengaruhi kepribadian anak nantinya.

Setiap keluarga pasti memiliki harapan dan keinginan terhadap anaknya, sehingga segala cara diusahakan untuk mencapai hal tersebut. Tapi terkadang cara yang ditempuh atau pola asuh yang diberikan terlalu berlebihan.

Pola asuh yang diberikan oleh orangtua pada anaknya bisa dalam bentuk perlakuan fisik maupun psikis yang tercermin dalam tutur kata, sikap, perilaku dan tindakan yang diberikan.

“Sebenarnya tidak ada pola asuh yang benar atau salah terhadap anak. Pola asuh yang paling tepat adalah menyesuaikannya dengan situasi atau menggunakan teknik tarik ulur,” ujar Alzena Masykouri MPsi, saat dihubungi detikHealth, Senin (3/1/2011).

Alzena mengungkapkan pengaruh pola asuh terhadap kepribadian dan karakter si anak nantinya sangat besar. Apa yang diberikan oleh orangtuanya sejak anak dilahirkan hingga ia berusia 15-16 tahun akan membentuk kepribadian anak.

Meskipun pada usia tertentu saat anak sudah memiliki teman atau bisa bersosialisasi. Ada juga pengaruh dari lingkungan dan sosialnya, tapi tak sebesar pengaruh yang diberikan oleh keluarga.

Secara umum, tipe pola asuh yang diberikan orangtua terhadap anak ada 3, yaitu:

  1. Pola asuh yang otoriter, ditandai dengan orangtua yang melarang anaknya dengan mengorbankan kebebasan anak.
  2. Pola asuh yang permisif, ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan keinginannya.
  3. Pola asuh yang demokratis, biasanya ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orangtua dan anaknya.

Namun dalam pelaksanaannya orangtua tidak boleh kaku atau terbatas pada pola asuh yang itu-itu saja. Tapi harus disesuaikan dengan konteks kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh anak.

“Yang tidak boleh atau harus dihindari orangtua adalah pola asuh yang terlalu berlebihan, karena segala sesuatu yang berlebihan akan menjadi tidak baik. Jadi yang sedang-sedang saja,” ungkap psikolog lulusan Magister psikologi UI tahun 2002.

Alzena mencontohkan jika orangtua terlalu ketat atau kaku memberikan peraturan pada anak sehingga mengekang kebebasannya bisa membuat anak menjadi pemberontak. Jika terlalu memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh anaknya akan membuat anak menjadi tergantung pada orangtua dan tidak bisa membuat keputusan sendiri. Sedangkan jika anak dibiarkan terlalu bebas akan membuatnya menjadi tidak tahu aturan.

“Setiap orangtua punya ciri khas sendiri dalam mengasuh anaknya, jadi orang lain tidak punya hak untuk mengatakan apakah hal itu benar atau salah. Meski demikian tetap ada benang merahnya untuk mengoptimalkan perkembangan anak dan normal-norma yang ada di masyarakat,” ujar psikolog dari Klinik Kancil.

Untuk itu terkadang satu pola asuh yang berhasil diterapkan oleh sebuah keluarga belum tentu bisa diterapkan dengan baik oleh keluarga lainnya. Karena tiap keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri. (Mitra FM/wlp)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*