RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Apa Anda Terlalu Keras kepada Anak?

Apa Anda Terlalu Keras kepada Anak?

POLA pengasuhan yang terlalu ketat diketahui akan mengancam kondisi kejiwaan anak. Cari tahu apa saja isyarat pada orangtua yang menegakkan aturan dengan keras dan bagaimana mengatasinya dalam artikel berikut.

Jika balita empat tahun Anda berlaku nakal dan tidak sopan di meja makan, apa yang Anda lakukan? Langsung membersihkan mulutnya dan membawanya keluar atau didiamkan saja?

Bagaimana dengan anak SD Anda yang kurang berprestasi di sekolah dan malas mengerjakan pekerjaan rumah (PR), apakah Anda segera melarangnya untuk menonton TV? Apa pula yang Anda lakukan ketika mendapati anak remaja Anda mulai menentang adanya jam malam?

Penerapan disiplin memang merupakan sebuah dilema bagi semua orangtua. Lalu, bagaimana Anda bisa tahu jika teknik penanaman disiplin Anda sangat keras atau malah terlalu santai? Dilema klasik soal pengasuhan tersebut juga jadi inti kontroversi buku tulisan Amy Chua berjudul The Battle Hymn of the Tiger Mother.

Dalam buku tersebut, Chua memanggil putri sulungnya dengan “sampah” karena berperilaku tidak hormat di depan para tamu, membuang kartu ulang tahun buatan sendiri karena tidak meniup lilin kue ulang tahun sampai mati, melarang anaknya untuk menginap di rumah temannya, dan menolak apa pun permintaannya dibanding dua anak perempuan lainnya.

Banyak orangtua yang bertanya-tanya, apakah pola pengasuhan tersebut terlalu ketat atau malah mungkin lebih toleran saat mengajarkan disiplin kepada anak-anak sendiri, dan apa efek yang akan timbul saat mereka dewasa.

“Di Amerika Serikat, orangtua cenderung tidak ketat dan semuanya ingin berteman dengan anak,” kata Elizabeth J Short PhD, seorang profesor psikologi dan direktur di Schubert Center, Case Western Reserve, University in Cleveland, Amerika Serikat.

Namun, penerapan disiplin yang terlalu keras atau otoriter berisiko merusak jiwa anak-anak. “Anak ingin berlaku menyenangkan, tetapi dia khawatir tentang persetujuan orangtua sehingga dia akan menjadi anak yang suka gelisah dan ragu-ragu,” ujarnya.

“Atau kadang-kadang, dia tahu bahwa tidak ada cara buat lari dari aturan yang telah Anda tentukan sehingga mereka bahkan tidak mencoba,” lanjut Short seperti dikutip laman webmd.com.

Berikut dipaparkan beberapa tanda bahwa Anda terlalu otoriter dengan anak-anak Anda dan apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasinya. Pertama, Anda menetapkan aturan terlalu banyak.

“Ini adalah tanda bahwa Anda terlalu keras untuk setiap orang. Jika Anda menetapkan aturan begitu banyak, bukan berarti Anda menerapkannya ke setiap orang,” kata Nancy Darling PhD, profesor bidang psikologi di Oberlin College, Oberlin, Ohio, Amerika Serikat.

Sebaliknya, terapkan aturan dalam jumlah yang lebih sedikit dan tegakkan hal tersebut secara konsekuen. “Tindak lanjut itu sangat penting,” terangnya.

Tanda berikutnya adalah ancaman Anda terlalu berlebihan. Mengatakan ”Ibu akan merusak semua mainan kamu” atau “mengusir kamu ke luar rumah” tidak akan efektif, apabila dia menjawabnya dengan “tidak apa-apa”. Pasti, Anda akan mengalah.

“Apa yang Anda lakukan adalah membuat semacam ancaman kosong dan mengajarkan anak Anda untuk berbuat jahat,” kata Darling. “Ini akan bermasalah ketika Anda tidak bisa mengalah dan tahu bahwa Anda telah melakukan sebuah kesalahan karena Anda bahkan tidak percaya pada apa yang Anda akan lakukan lagi,” lanjutnya.

Satu lagi tanda Anda terlalu keras adalah aturan tersebut melampaui batas-batas aturan orangtua Anda. “Orangtua dapat dan harus menetapkan aturan tentang bagaimana seorang anak berperilaku di sekolah, memperlakukan orang lain, dan masalah keselamatan,” ujar Darling.

Aturan terkait keamanan dan moral anak boleh-boleh saja, ujar dia, namun aturan tentang masalah pribadi (misalnya, alat musik apa yang harus dipelajari anak) itu tidak perlu. Hal ini memang tidak selalu hitam dan putih karena orang tua dan anak-anak selalu tidak sepakat mengenai isu-isu yang bersifat pribadi dan yang terkait dengan keselamatan atau moral.

“Kadang-kadang apa yang orangtua katakan tentang keselamatan atau moral, tetapi anak merasa itu urusan pribadi,” kata Darling.

Misalnya, musik dengan lirik kekerasan atau merendahkan tentu bisa meresahkan orangtua yang berujung penerapan aturan agar menghindari pengaruh buruk. Tetapi, anak merasa itu hanya selera pribadi dia. Tanda lain bahwa Anda terlalu ketat menerapkan aturan di antaranya perasaan cinta yang bersyarat atau kata-kata yang Anda ucapkan terdengar seperti itu.

“Katakanlah, ‘Ibu selalu sayang sama kamu, tapi Ibu mengharapkan kamu untuk berperilaku dengan cara ini’ atau ‘Ibu tahu kamu bisa melakukannya dengan lebih baik’,” kata Darling.

“Jangan mengatakan ‘Kamu sampah jika tidak berperilaku seperti ini’. Perkataan seperti ini menyakitkan perasaan anak Anda,” imbuhnya.

Atau Anda juga tidak menyaring kata-kata yang Anda ucapkan. Ini bukan hanya bagaimana Anda mengatakannya, tetapi apa isi perkataan Anda. Bahkan jika nada bicara Anda bisa diukur,kata-kata menjadi masalah Anda.

“Berkata dengan suara tenang bisa mengungkapkan sesuatu hal yang lebih berarti,” ujar Darling.

“Isi itu lebih penting daripada bagaimana kata itu diucapkan,” lanjutnya.

Pengasuhan yang otoriter juga tidak menganggap sebuah kebersamaan.Ketika Anda menyuruh anak melakukan sesuatu yang sulit, lakukan kegiatan tersebut bersama dia, bukannya memerintahkan dia untuk melakukannya. Anda juga seperti seorang polisi, selalu mengomel, memantau, atau mengingatkan.

“Jika hal ini menjadi kegiatan andalan dari hubungan Anda dengan anak, lalu mengesampingkan hal-hal lain yang sebenarnya harus dilakukan sebagai orangtua, Anda mungkin mengasuh terlalu keras,” kata Ron Taffel PhD, psikolog anak berbasis di New York, Amerika Serikat dan penulis beberapa buku tentang pengasuhan anak, termasuk Childhood Unbound.

Satu lagi isyarat bahwa pengasuhan Anda terlalu keras adalah Anak Anda pergi meninggalkan Anda. “Jika anak malas berbicara dengan Anda tentang halhal yang penting,ini bisa menjadi pertanda bahwa Anda terlalu ketat,” kata Taffel.

“Anda memenangkan pertempuran,tetapi kalah perang.Anda bisa menyuruh anak untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai, tetapi mereka tidak akan terbuka tentang hal-hal yang membuat dia cemas atau gelisah,” imbuhnya. (Mitra FM/oke)

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*