RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Berdamai dengan si Balita

Berdamai dengan si Balita

MAKAN hati rasanya melihat kelakuan buah hati yang masih balita. Ada saja perangainya yang menguras kesabaran Anda. Jika ini yang Anda rasakan, apa solusinya?

Rasanya hampir habis kesabaran Erna. Kemarin buah hatinya, Andhara, mematahkan lipstik yang harganya ratusan ribu yang baru dibelinya. Sekarang dia memecahkan salah satu koleksi piring kesayangannya. Ibu rumah tangga ini nyaris tak berkutik menghadapi Andhara.

“Rasanya pengin dia kembali lagi jadi bayi,” kata Erna tersenyum simpul.

Pada dasarnya, apa yang dirasakan Erna, besar kemungkinan juga dialami orangtua lain yang mempunyai anak berusia tiga sampai lima tahun. Pada usia tersebut, anak-anak merasa lebih mandiri, tetapi tetap masih bergantung pada perhatian dan kasih sayang orang sekitarnya.

Michele Borba EdD, penulis buku The Big Book of Parenting Solutions, mengatakan, usia tersebut adalah saat paling aktif bagi anak, sekaligus membuat orangtua frustrasi. Menurut dia, ada sejumlah kesalahan yang dibuat orangtua dan cara penyelesaiannya.

Salah satu hal yang membuat si kecil menjadi rewel dan bertingkah adalah karena orangtua yang tidak membiasakan mereka pada rutinitas. Padahal, konsistensi adalah kunci untuk mengatasi sikap balita.

“Ketika orangtua tidak konsisten dengan kegiatan rutin si anak, mereka menjadi bingung, dan saat itulah mereka bertindak dengan melampiaskan kemarahannya,” ujar Tanya Remer Altmann MD, seorang dokter anak dan pengarang buku Mommy Calls: Dr Tanya Answers Parents’ Top 101 Questions about Babies and Toddlers.

Tanya menuturkan, jika Anda terkadang membiarkan anak melakukan sesuatu dan di lain waktu Anda melarangnya, maka anak akan menjadi bingung. Anak-anak mungkin juga ingin tahu mengapa ibu kemarin membolehkan saya bermain sehabis pulang sekolah, tapi hari ini malah disuruh tidur siang.

Maka itu, Tanya menganjurkan orangtua untuk selalu memegang teguh konsistensi, baik menyangkut disiplin, kebiasaan tidur, maupun rutinitas makan. Kendati masih kanak-kanak, tidak ada salahnya orangtua menerapkan sistem reward and punishment atau penghargaan dan hukuman.

Dengan begitu, anak akan merasa dihargai dan mereka pun taat pada aturan yang Anda berlakukan. Umpamanya, Anda boleh saja memarahinya karena tidak membereskan mainannya yang berserakan di lantai.

Namun, ketika Anda mendapati dia mampu meletakkan kembali barang-barang ke tempat semula, beri dia pelukan atau ciuman. Hal yang terkesan sederhana ini akan membuatnya mengingat apa saja yang Anda sukai dan berusaha melaksanakannya dan sebaliknya menjauhi yang Anda tidak sukai.

Nah, kesalahan lain yang kerap dibuat orangtua adalah tidak mengindahkan tanda-tanda petunjuk dari si anak. Jadi, orangtua dengan santainya membawa anak berjalan ke pusat perbelanjaan menemaninya tanpa menghiraukan rasa kantuk si kecil. Alhasil, si kecil menjadi mengamuk dan membuat orangtua berada dalam posisi yang sulit.

Michele mengajak orangtua untuk mengenali tanda-tanda “bahaya” ini. Sebelum tanda ini muncul, sebenarnya orangtua bisa mengantisipasinya. Namun, ketika dia sudah mulai marah-marah, Anda pun akan kehilangan kekuasaan.

“Kenali tanda kapan dia merasa lapar, lemas, atau bosan. Ada baiknya selalu siap dengan makanan kecil di tas Anda,” ujar Michele.

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*