RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Kehamilan & Kelahiran » Indahnya Beribadah Di Tanah Suci

Indahnya Beribadah Di Tanah Suci

Keharusan harus berpisah dari kota Rasulullah masih kental menyelimuti, ketika kami menjauh dari Madinah menuju kota Makkah. Terbayangbayang sedihnya hati ketika terakhir kali meninggalkan Raudhah, mengucap salam perpisahan pada Rasulullah dan sahabatsahabat Beliau. Entah masih adakah kesempatan untuk dapat mengunjungi masjid indahnya kembali. Entah masih diberi umur oleh-Nya untuk merasakan kedekatan yang begitu hangat dengan kekasih Allah di rumah-Nya yang penuh berkah. Segala keharuan masih terbawa ketika kini kami mendekat pada Baitullah, rumah Allah.

Aku membayangkan kalau berdekatan dengan makam Rasulullah saja sudah sedemikian hanyutkan perasaan. Bagaimana nanti saat mendekati rumah-Nya? Aku merekareka jawabannya, sepanjang perjalanan menuju Makkah. Gaungan kalimat talbiyah membawa diriku semakin mendekat kepada Baitullah.

Suasana amat ramai. Manusia dengan beragam macam kulit berbaur dengan satu kalimat talbiyah yang sama. Labbaikallah humma labbaik. Aku datang memenuhi panggilan-Mu Yaa Allah. Saat memasuki Masjidil Haram, kepadatan manusia makin bertambah tinggi. Manusia dengan segala gaya dan temperamennya berdesakan mengitari satu titik yang sama, Baitullah. Ku perhatikan dari jauh bangunan hitam itu. Oh, jadi inilah dia rumah Allah yang tiap hari ku arahkan kiblatku, kuimpikan saatsaat menatapnya nanti dan yang menghiasi dinding mushalaku. Namun kurasa ada sesuatu yang salah. Kuraba wajah dan mataku, kering, tidak ada air mata keharuan disana. Air mata yang tak hentinya tumpah tatkala berada dalam keteduhan makan Rasulullah. Kuraba dan kurasakan detak jantungku, mengapa tidak ada getaran istimewa disana. Ya Allah, aku merasa sangat berdosa. Kubayangkan saatsaat di tanah air ketika memimpikan perjumpaan dengan Baitullah. Yang terbayang sait itu, adalah betapi bergejolaknya perasaan di dada dan keharuan yang tak terperi. Tapi, mengapa impian itu kini tak terjadi? Aku bagaikan mulai gentar dengan ramainya manusia yang mendorongku ke segala penjuru. Tubuhku yang kecil tiada artinya apaapa dibandingkan tubuh mereka yang begitu besar dan kuat. Aku mulai merasa tak berdaya dan ingin segera mengasingkan diri untuk beristighfar. Ya Allah, ampunilah aku.

Sudut Masjidil Haram ini agak menjorok ke dalam, dan Baitullah tak lagi terlihat dari sini. Aku mengambil posisi di sebelah Sister Muslimah yang tinggi besar dan berkulit gelap, yang dengan tekun sedang membaca bukunya. Aku segera memulai shalat sunnah dan berharap semoga Allah memberikan siraman rohani itu datang dari arah yang tidak disangkasangka.

Seusai berdoa, aku tercenung dengan tiadanya getar hati saat bertatapan dengan Baitullah yang selama ini kuimpiimpikan. Dalam ketermenunganku kuperhatikan Sister Muslimah di sebelahku. Ia sedang mengatupkan matanya ditengah jeda membaca halamanhalaman dari buku yang ada di haribaannya. Dan dari kedua belah matanya tergulir air mata. Pikiranku, tanpa memandang Baitullah pun dia sudah begitu tersentuh. Aku terpana, kuharap dapat merasakan getaran yang sama. Ketika dia membuka matanya, dia melihat sepasang mataku yang lagi menatap wajahnya penuh pertanyaan. Dia tersenyum, “Assalamu`alaikum, Sister.” Aku bersyukur, dari dialeknya aku menebak dia seorang black American, itu berarti aku dapat berkomunikasi dengannya, “Sorry Sister, aku tengah bersedih, menyadari bahwa belum satu tetes air mata yang kuusap sejak pertama kali aku menatap Ka`bah. Dan tibatiba aku melihat dirimu yang begitu tersentuh. Aku juga ingin merasakan getaran itu.”

Dia tersenyum, “Bagaimana aku tidak tersentuh sister. Kinilah aku baru menemukan suatu sistem, Islam, satusatunya agama di dunia yang menerapkan konsep kebersamaan, egaliter, yang begitu menyeluruh dalam segala sisi spiritualnya. Bagi diriku yang biasa mengalami diskriminasi, ini seperti menemukan oase di padang pasir, begitu menyejukkan.” Dia melanjutkan, ”ketika pertama menatap Ka`bah, aku terbayang saat Nabi Adam dibuang dari surga dengan segala kesalahannya. Ia tak dapat lagi secara spiritual mengikuti ibadah malaikat yang mengelilingi arasy Allah. Dalam kerinduan dan usahanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, Nabi Adam membuat tiruan arasy Allah, yang menjadi cikal bakal Baitullah saat ini. Saat melakukan thawaf itu adalah suatu perumpamaan meniru gerakan malaikat mengelilingi arasy Allah. Dan kita dapat bayangkan, bahwa sesungguhnya seluruh jagad raya ini juga ikut melakukan thawaf. Bumi dan planetplanet lainnya melakukan thawaf mengelilingi matahari. Matahari dan bintangbintang lainya melakukan thawaf mengelilingi pusat galaksi. Demikian juga semua galaksi berthawaf mengikuti orbitnya yang sudah menjadi ketetapan Allah.”

Dia menambahkan, “Dari buku ini kubaca betapa Ayat Kursi merupakan suatu ayat yang demikian dalam kajiannya dalam menggambarkan keagungan Allah. Digambarkan bahwa arasy Allah itu meliputi seluruh langit dan bumi. Dan thawaf yang kita lakukan bersama ini merupakan gambaran bahwa seluruh alam raya ini tunduk dan megikuti ketetapan Allah. Pada saat kita melakukan thawaf kita menyatu dengan alam semesta dalam beribadah serta tunduk dan patuh kepada Allah.”

Sister Muslimah ini mengehela nafas sambil membuka bukunya kembali. Kemudian ia melanjutkan, ”Aku tersentuh setelah menemukan makna terdalam dari thawaf sebagai perwujudan perjalanan sakral yang menggambarkan kepatuhan pada Allah dan hanya Allah, serta menyadari bahwa diri kita, sebagaimana seluruh bagian alam semesta lainnya, hanya bergerak mengikuti ketetapan Allah. Apa jadinya bila kita melanggar aturan Allah. Cobalah melawan arus ketika thawaf, kau akan terpental dan digilas arus serta kehilangan kontrol atas arah dan tujuanmu semula. Kiamat kecil akan melandamu. Cobalah bayangkan apa yang terjadi bila planetplanet tidak lagi mengikuti ketetapan Allah mengorbit pada garis edarnya. Kiamat alam semesta akan menimpa. Dan semua ini perlambang dari apa yang akan terjadi bila kita tidak tunduk pada aturan yang telah digariskan-Nya.”

“Dan yang membuatku semakin tersentuh, pakaian ihram ini. Lihatlah betapa saat berpakaian ihram ini seumpama menanggalkan topeng yang menutupi diri kita. Pada saat berihram ini kita melakukan pengakuan dosa sehingga kita benarbenar hadir dengan hati yang bersih. Tidak ada lagi segala kebohongan, status, gengsi, pangkat, ras, kekayaan, dan lainlainnya, embelembel yang selama ini memperdayakan dan menghilangkan rasa kebersamaan manusia. Semua kembali pada fitrahnya, berpakaian selayaknya untuk bersiap setiap saat akan dipanggil keharibaan-Nya. Berbalutkan kain kafan tanpa jahitan. Oh, bagaimana aku tak akan tersentuh.”

Katakata ini semua diucapkannya dengan lambat dan halus seakan ingin menjiwai setiap perkataan yang dikeluarkannya sendiri. Kehangatan menjalari hatiku. Tak kusangka pencerahan datang dari arah tak disangkasangka. Allah mengabulkan permohonanku.

Dia pun menambahkan, setelah hening sejenak, ”Pada saat berthawaf inilah hatiku menjerit dan berdoa bagaikan Nabi Adam yang sedang berdoa. Rabbana zhalamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasiriin. Yaa Allah Tuhan kami, kami telah berbuat zhalim kepada diri kami sendiri dan sekiranya Engkau tidak mengampuni kami maka pasti kami nanti akan menjadi orang yang menyesal dan sengsara. (QS. Al A`raaf: 23). Terbayang selama ini dosaku sebelum menemukan kedamaian dalam Islam. Terbayang selama ini gerakanku yang melanggar arus ketetapan Allah, hingga aku selalu merasa cemas, sengsara, dan tidak bahagia. Astaghfirullahal`adzim. Allah begitu karim, kita diberikan-Nya sarana beribadah ke Tanah Suci. Karena haji dan umrah itu, prinsipnya bukan sekedar menunaikan ibadah tapi suatu pelatihan paripurna untuk merasakan makna dan kedalaman spiritualnya. Sarana bagi setiap orang untuk merasakan kembali kepada fitrahnya. Pada saat awal miqat, mengenakan pakaian ihram, meninggalkan segala keduniaan, menanggalkan segala topeng untuk kembali pada kesadaran bahwa tidak ada yang membedakan dengan yang lain kecuali nilai ketaqwaannya. Pada saat itu semua embelembel keduniaan berganti dengan pakaian ihram yang melambangkan kezuhudan. Kita siap berikrar untuk menghadap Allah dan menunjukan sikap tawadhu. Tiada daya upaya melainkan dari Allah. Katakanlah, Sister, dengan merasakan ini semua bagaimana kau tak tersentuh?” tanyanya kini dengan mata berkacakaca. “Sungguh semakin aku menyadari bahwa ka`bah didirikan sebagai petunjuk bagi seluruh alam (QS. Ali `Imran,3: 96). Sesungguhnya rumah suci yang pertama yang didirikan untuk umat manusia adalah yang di lembah Bakkah itu sebagai rumah yang diberkahi Allah dan sebagai petunjuk bagi seluruh alam.”

Kini aku memandangnya dengan tatapan penuh terima kasih. Suamiku dan rombongan telah memanggilmanggil dari kejauhan. “Thank you so much, Sister.” Ucapku terbatabata. Dia tersenyum menatap mataku yang berkacakaca, “Semoga Allah selalu merahmatimu, Sister.” Doanya sambil membalas lambaianku.

Kini aku bersiap mengikuti thawaf. Kubayangkan betapa menyesalnya Nabi Adam atas segala dosa dan kesalahannya. Dan betapa merindunya untuk mendekatkan diri pada Allah. Demikian juga dengan diriku dan jutaan umat Islam yang hadir kali ini. Begitu merindu, ingin mendekatkan diri kepada Allah. Kembali pada fitrah. Ya Allah, kami ini hanyalah bagian dari alam semesta yang tak hentinya merindukan-Mu dan ingin mendekatkan diri padaMu. Tak ada apapun yang dapat kami sombongkan, semua kami berpakaian penuh kezuhudan siap menunggu panggilan-Mu Ya Allah. Dan bila kami masih diberi kesempatan untuk menjalani harihari kami, maka kami akan selalu menjalaninya dengan mengikuti ketentuan-Mu ya Allah, karena bila tidak ya Allah, pasti kami akan kehilangan arah dan tergilas di dunia yang penuh topeng dan semu ini. Ya Allah, ampunilah kesombongan kami selama ini, kami telah berbuat zalim kepada diri kami sendiri dan sekiranya Engkau tidak mengampuni kami maka pasti kami nanti akan menjadi orang yang menyesal dan sengsara.

Getaran hati telah berubah menjadi keharuan yang memuncak. Pada saat simbolsimbol telah berubah menjadi makna, keindahan terlihat di manamana. Sebuah bangunan sederhana ditutupi kain hitam telah berubah kini menjadi arasy pusat dari segala pusat alam semesta. Sister Black American, yang bahkan tak sempat kutahu namanya, telah berbagi pencerahannya padaku, sehingga membuatku memandang perjalanan ibadah ini dapat kami resapi dan ambil hikmahnya hingga menjadi makhluk-Mu yang menunaikan amanah sebagai wakil-Mu di bumi yang selalu siap memberi manfaat bagi alam semesta. Amin, perkenankanlah, Ya Allah. (Mitra FM)

Baca Juga

ASI

Tips Mempertahankan Kualitas dan Kuantitas ASI Saat Puasa Ramadhan

MitraFM.com– Ketika Bulan Ramadhan tiba tak sedikit ibu-ibu muslimah yang menyusui yang ingin tetap berpuasa. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*