RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Parenting » Anak » PENYAKIT DATANG TIBA-TIBA

PENYAKIT DATANG TIBA-TIBA

Para penggemar sepak bola nasional tentu kenal dengan Rusdi Bahalwan. Pemain Persebaya yang kemudian juga pelatih yang berprestasi hebat.

Sebagai seorang olahragawan dan pelatih kesebelasan ternama tanah air, tentu saja penjagaan kesehatannya luar biasa. Olahraga teratur dan terprogram tentulah menjadi menu utama keseharian. Makanan dan kandungan gizinya tentu sudah diprogram sebaik mungkin. Tim dokter terpilih akan memonitor terus untuk memastikan bahwa tiap pemainnya dalam kondisi prima saat jadwal pertandingan berlangsung.

Apakah cara seperti ini menjamin para pemain untuk tetap sehat tanpa gangguan suatu penyakit apapun? Ternyata tidak. Rusdi Bahalwan harus meninggalkan dunia bola yang telah menjadi aktivitas keseharian dan sumber pencahariannya karena serangan penyakit sejenis stroke. Sebuah penyakit yang memang seolah tidak bisa diprediksi dan bisa berjangkit pada siapa saja.

Lalu bagaimana dengan kita yang malas olahraga dan makanpun tidak terkontrol dengan baik? Inilah yang menjadikan kita harus semakin menyadari bahwa berbagai macam penyakit akan sangat mungkin menyerang kita dan bahkan serangannya bisa telak.

Penyakit kanker misalnya, biasanya baru dirasakan gejalanya dan terdeteksi secara medis pada saat kondisinya sudah parah, stadium 3 atau 4.

Tentang kanker ini, saya mempunyai seorang sahabat bernama Munif, semoga Allah SWT meridhoinya. Sahabat yang biasa saya panggil dengan Mas Munif ini adalah orang yang sangat cemerlang otaknya. Selepas dari pendidikannya di Fakultas Teknologi Kelautan di ITS, beliau langsung mendapatkan beasiswa untuk studi S2 di Jepang. Dua anaknya terlahir ketika ia masih berada di bangku kuliah.

Begitu menyelesaikan pendidikan PhDnya dan pulang kembali untuk mengajar di Almamaternya, tidak lama kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk studi lanjut, Postdoc di negeri matahari terbit, tempatnya menuntut ilmu sampai menyelesaikan studi doktoralnya.

Suatu saat, pada masa studi lanjutnya, ia mengeluh sakit. Demam, suhu badannya tinggi. Dokter memberinya perawatan dan obat tertentu sedemikian sehingga akhirnya sakitnya pun sembuh.

Namun demikian, tidak lama kemudian sakitnya kambuh lagi dan dibawa kembali ke dokter. Kambuhnya Mas Munif menjadikan dokter memeriksanya secara lebih teliti dan kemudian akhirnya menyimpulkan bahwa Mas Munif menderita penyakit limfoma atau kanker kelenjar getah bening. Yang mengejutkan, penyakit ganas ini sudah berada pada stadium lanjut. Dokter memprediksikan bahwa kematian akan segera menjemput.

Sungguhpun demikian, dokter di negeri yang pernah menjajah Indonesia ini masih mencoba teknologi dan metode terapi yang paling canggih. Namun demikian, ternyata Allah SWT berkehendak lain. Dokter angkat tangan dan menyarankan agar mas Munif dibawa pulang ke Indonesia.

Akhirnya pulanglah Mas Munif ditemani istri, kedua buah hati dan sahabatnya dari Jepang. Di Surabaya Mas Munif langsung dirawat di Rumah Sakit Dr. Soetomo. Beberapa hari setelah dirawat dirumah sakit yang sering kali mencatatkan prestasi medis canggih ini (termasuk operasi kembar siam, face off, dll), Mas Munif menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Yang menarik, ketika para sahabatnya, termasuk saya, membesuknya di rumah sakit, bukan kesedihan atau ungkapan penderitaan yang muncul. Justru sebaliknya. Ia justru banyak memberikan nasihat kepada para sahabatnya. Ia begitu tabah. Jiwanya begitu kokoh. Bacaan Al qur`an tidak pernah ditinggalkannya. Ia menunjukkan kesiapan yang luar biasa besar.

Bila direnungkan, memang setiap orang akan menghadapi mati. Mati adalah sebuah kepastian. Hanya saja, kita tidak akan pernah tahu kapan saatnya tiba. Bisa hari ini, besok, lusa, bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun lagi, atau kapanpun. Orang seperti Mas Munif yang telah divonis kanker stadium 4 ini adalah orang istimewa. Orang seperti ini dipilih oleh Yang Maha Kuasa dengan diberi tahu “jadwal kematiannya” melaui prediksi dokter. Dengan demikian, jadwal kematian ini bisa menjadi acuan persiapan yang jauh lebih baik daripada seandainya tidak ada pemberitahuan.

Dari pembicaraan saya denga almarhum pada harihari terakhir kehidupannya, saya menangkap kesiapan luar biasa dari Mas Munif dan keluarganya untuk menghadapi kematian yang dalam prediksi dokter akan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.

Mas Munif paling tidak telah mempersiapkan perjumpaan dengan Sang Maha pemberi hidup dengan dua sisi persiapan. Pertama adalah persiapan dirinya dengan amalan dan perbuatan sebaik mungkin. Persiapan diri sebagai hamba agar bisa diterima Sang Pencipta dengan limpahan kasih sayang-Nya. Sedekahnya yang semakin besar menjelang ajal, pergaulannya yang semakin intens dengan Al Qur`an, nasihatnya kepada para pembesuknya adalah bentuk nyata dari kesiapan almarhum dari sisi persiapan pribadi.

Kedua, almarhum juga mempersiapkan keluarga yang ditinggalkannya. Kesiapan keluarganya inipun mengandung dua dimensi. Dimensi pertama adalah persiapan mental agar istri dan buah hatinya bisa menghadapi kepergian sang kepala rumah tangga dengan keikhlasan dan keridhoan akan ketentuan-Nya. Dari dimensi ini, istri saya juga kenal dekat dengan istri Mas Munif merasakan betapa luar biasanya kesiapan sang istri Mas Munif ini. Tidak nampak nada protes sedikitpun terhadap ketentuan sang Khaliq untuk “mengambil” suaminya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan dua buah hati yang masih balita plus janin yang masih dalam kandungan. Ditambah lagi perawatan penyakitnya yang kronis tentu saja menguras keuangan keluarganya semua dihadapi dengan tingkat keikhlasan yang sangat tinggi.

Dimensi kedua adalah persiapan finansial. Untuk yang satu ini, Mas Munif saya amati juga sangat well prepared. Sang istri dan buah hati yang ditinggalkannya masih bisa menjalani hariharinya dengan standar normal secara finansial. Nampaknya Mas Munif memiliki aset yang cukup untuk menjadi tumpuan hidup istri dan anakanaknya pasca kematiannya.

Bagaimana dengan Anda? apakah Anda sudah menjaga kesehatan dengan olahraga teratur dan makanan terkontrol seperti Cak Rusdi Bahlawan? Apakah Anda sudah mempersiapkan anak istri atau keluarga Anda untuk menghadapi kematian yang pasti datang dengan jadwal yang tidak kita ketahui melebihi persiapan Mas Munif yang telah mengetahui “jadwal” kematiannya? Disinilah pentingnya FSQ (Finasial Spiritual Quotient).

Sumber: Buku FSQ

Baca Juga

ayah-dahsyat

Kelembutan Ayah Kekuatan Dahsyat

MitraFM.com– Kata-kata Ayah itu dahsyat. Telah cukup bagi seorang anak sepenggal nasihat kecil yang keluar ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*