RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » “Obat Herbal Justru Diminati Kalangan Atas”

“Obat Herbal Justru Diminati Kalangan Atas”

HERBAL identik dengan kalangan ekonomi bawah mengingat harganya yang jauh lebih murah ketimbang obat-obatan kimiawi. Faktanya, herbal kini justru semakin diminati kalangan ekonomi atas alias orang-orang kaya.

Herbal dimanfaatkan orang Indonesia sejak zaman nenek moyang. Dunia bahkan mengenal Indonesia sebagai paru-paru dunia yang menyimpan kekayaan tanaman herbal tak terhitung jenisnya.

Pemanfaatan herbal semakin luas pada pengobatan dan pencegahan berbagai penyakit. Posisi obat-obatan kimiawi perlahan digantikan oleh obat herbal, bagi sebagian orang yang ternyata bukan lagi dimonopoli kalangan ekonomi bawah.

“Trennya kini, bila dikerucutkan berdasarkan tingkat ekonomi, herbal justru diminati kalangan atas. Mereka sudah biasa, kalau sakit, ya minum obat (kimiawi). Karena tahu efek jangka panjang obat itu tidak bagus bagi kesehatan, mereka beralih ke herbal. Kalangan atas lebih berpikir hidup sehat, bukan soal uang,” jelas Mulyo Rahardjo, Managing Director PT Deltomed Laboratories kepada okezone usai Media Workshop ”Inovasi Teknologi Ekstraksi Bahan Alami Dalam Pembuatan Obat Herbal” di Kembang Goela Restaurant, Plaza Sentral Parking Lot, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/6/2011).

Lantas, bagaimana dengan minat kalangan masyarakat ekonomi menengah dan bawah terhadap herbal? “Kalangan menengah ini yang masih ragu-ragu dengan khasiat herbal. Kalau kalangan bawah, mereka sudah terbiasa, karena harga obat herbal kan lebih murah,” lanjut Mulyo.

Meski lebih murah, dikatakan Mulyo, PT Deltomed Laboratories sendiri tidak lantas memasarkan produknya pada tempat yang dinilai “murahan”. Apotik sekelas Guardian dan Century ataupun minimarket sudah menjadi sasaran pemasarannya.

“Kelas pembeli minimarket kan rata-rata menengah ke atas, kita lihat sekarang pertumbuhannya juga bagus, mencapai 20.000 di seluruh Indonesia. Ini tentu pasar yang bagus untuk obat herbal,” imbuhnya.

Jauh lebih murahnya harga obat herbal di Indonesia ketimbang obat-obatan kimiawi sebenarnya menguntungkan. Namun menurut Mulyo, ini menjadi indikasi bahwa masyarakat tidak cukup memberikan penghargaan bagi proses pengolahan herbal. Padahal di pasar luar negeri, harga herbal jauh lebih tinggi.

“Di luar negeri, harga obat herbal lebih mahal karena mereka melihat proses pembuatan obat ini enggak mudah dan panjang. Di Indonesia, harganya enggak bisa mahal karena herbal belum dihargai,” tukasnya.

Indonesia kaya akan tanaman herbal yang semestinya bisa menjadi pendongkrak devisa negara. Sayang, pengolahannya masih jauh dari kebutuhan hingga banyak orang Indonesia yang lari ke luar negeri untuk mencari pengobatan, Singapura, misalnya.

“Murah boleh, tapi tidak melupakan kualitas. Perusahaan obat herbal yang harus terus berjuang untuk meyakinkan pasar bahwa obat-obatan ini bisa menjadi solusi,” tutupnya.

Baca Juga

mitrafm.com Aksi Sehat 212 BMH

Aksi Sehat 212 BMH

MitraFM.com – Aksi Sehat 212 BMH. Besok (2-12-2016) akan digelar Aksi Bela Islam 212 menuntut ditegakkan hukum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*