RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | YM: radiomitra | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Berita » Berita Anda » Terbang Bersama Kekasih

Terbang Bersama Kekasih

“Ukhti, aku berharap anak-anakku kelak bisa menggenggam dunia. Namun hati dan hidup mereka tetap hanya milik Allah dan rasul-Nya. Karena itu,  aku butuh seorang ustadzah yang siap membimbing anak-anakku dan menjadikan rumahku sebagai madrasah peradaban. Apakah anti siap menjadi ustadzah di rumahku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?”

Inilah sepenggal kalimat tekad hati  tatkala seorang ikhwan (laki-laki) mengkhitbah seorang akhwat (wanita). Kalimat yang meluncur dengan iringan hati berdebar dan keringat dingin tatkala ia memantabkan diri menggenapkan sayapnya yang cuma sebelah agar bisa terbang.

Sekarang. Hari ini. Saat ini. Saat sayap kita telah lengkap sepasang, masihkan kita ingin mengajaknya terbang? Semestinya demikian. Komitmen itu tidak boleh meredup. Sebaliknya, ia harus terus membara. Begitulah seharusnya. Kita harus tetap konsisten dengan komitmen dan cita-cita besar yang kita pilih. Cita-cita mulia yang diikrarkan dalam hati tatkala hendak menikahinya.

Ya, kita hendak mengajaknya terbang untuk menggapai kemuliaan: ridha Allah dan surga-Nya. Mengajak, membawa dan mengantarkan kekasih kita terbang hingga ke sana. Dan itulah sesungguhnya bukti kesungguhan dan cinta kita pada bidadari hati pilihan kita itu.

Ini bukan bicara romantisme. Tapi harapan. Ya, harapan. Harapan sekaligus tekad yang terus dikobarkan dalam jiwa laki-laki setelah berani mengambil keputusan besar dalam hidup: menikah. Sebuah harapan tinggi  membawa orang-orang tercinta, istri dan anak-anak, menikmati hidup bersama di surga. Reuni bersama di sana. Di surga yang indah nan abadi.

Benar, setelah ikrar nikah kita ucapkan, kita punya harapan dan kewajiban. Dan sebesar-besar harapan itu adalah menjadikan bidadari hati kita itu sebagai kekasih hingga di surga. Ya, tidak sebatas menjadikan ia istri di dunia ini. Lebih dari itu, kita berharap ia akan menjadi bidadari tercantik di antara bidadari-bidadari surga. Dialah bidadari yang kelak semua bidadari surga cerburu melihatnya. Istri kita itu.

Ini  bukan bicara romantisme. Tapi harapan. Tekat yang kuat. Tekad untuk juga bisa mempersembahkan rumah indah di surga untuk istri dan keluarga kita. Karena itu, kita harus mulai mendesain rumah kita itu. Rumah di surga itu. Ya, sekarang. Selagi kita masih diberi kesempatan memperbanyak amal di sini.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Allah merahmati seorang suami yang bangun malam untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan istrinya, jika istrinya enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun malam untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya enggan, maka ia percikan air ke wajahnya.” (H.R Abu Dawud, Nasa’i Ibnu Majah)

Betapa indahnya jika hadits itu benar-benar kita amalkan. Ketika suami terbangun, ia bangunkan sang istri dengan mengatakan, “Bidadariku, apakah engkau tidak takut tertinggal sementara aku ingin mengajakmu ke surga dengan qiyamullail ini. Bangun bidadariku, aku ingin engkau terus membersamaiku selamanya. Bersamaku, tidak hanya di dunia ini, tapi juga di sana, di negeri abadi itu. Bangun dinda, mari shalat.”

Atau sebaliknya, jika istri bangun lebih dulu ia berkata, “Kekasihku, tidakkah kau ingin membawaku ke surga dengan qiyamul lail? Bukankah engkau ingin menjadikanku sebagai bidadari dunia akhirat? Bangun suamiku. Aku rindu bertemu denganmu di surga kelak. Mari shalat pujaan hatiku.”

Ehmm. Ini bukan bicara romantisme. Bukan. Sungguh, ini sebuah harapan.

Ada lagi satu harapan. Tentang anak-anak kita. Kita bermimpi  kelak mereka adalah mutiara-mutiara  yang menggetarkan dunia. Bertebaran di berbagai belahan bumi dengan menggemakan takbir, tahmid, tasbih dan tahlil.

Sungguh kita berharap dari rahim mulia istri kita terlahir pejuang-pejuang dakwah, yang karena sentuhan lembut tangan bidadari kita, mereka menjadi kuat dan kokoh. Dan rumah kita menjadi madrasah peradaban.

Sekali lagi ini bukan bicara romatisme.(Harits Purnama)

Baca Juga

belajar-dimanapun-kapanpun

Belajar Kapanpun dan Dimanapun

Oleh: Agus Triarso, S.Kom (MitraFM.com) – “Belajar kapan pun dan dimanapun…!!!” Ya, itulah isu yang saat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*