RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Kenaikan Muka Laut Indonesia Timur Lebih Tinggi

Kenaikan Muka Laut Indonesia Timur Lebih Tinggi

Analisis pengamatan satelit altimeter menyatakan, kenaikan permukaan laut ternyata lebih tinggi di kawasan pantai Indonesia timur dibanding kawasan pantai Indonesia barat, maupun dibanding perairan di belahan dunia lain.
Perairan di Indonesia timur yang di beberapa bagiannya berbatasan langsung dengan samudera terluas dunia, Samudera Pasifik, banyak yang berkedalaman lebih dari 1.000 meter dan menjadi area pertemuan beberapa lempeng dunia.

“Penyebabnya masih diteliti,” kata Kepala Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika Badan Informasi Geospasial (BIG), Dr Parluhutan Manurung, pada International Workshop on Coastal Satelite Altimetry di Bogor, Rabu.

Selain itu, juga berdasarkan analisis satelit altimetri, tingginya kenaikan permukaan air laut di kawasan Indonesia Timur itu memiliki siklus, dimana pada periode 1959 hingga 1975 kenaikan muka laut mencapai 5-10 mm per tahun, namun pada periode 1976-1992 kenaikan permukaan laut menurun ke level di bawah rata-rata yakni 0-2 mm per tahun.

“Pada periode 1993-2009 trend permukaan laut kawasan pantai Indonesia Timur kembali naik 5-10 mm per tahun. Dengan satelit altimetri diketahui adanya variasi kenaikan muka laut secara regional di berbagai belahan dunia maupun variasi dari waktu ke waktu,” katanya.

Hasil analisis ini, ujarnya, adalah bagian dari proyek riset Reconstruction of Sea Level Change in South Asia Using Satellite Altimetry and Tide Gauge Data (Reselecasea) pada 2011-2012 untuk merekonstruksi peta kenaikan permukaan laut di Asia Tenggara dengan menggunakan satelit Altimeter.

Rekonstruksi dari satelit altimetri ini dapat menunjukkan gambaran perubahan masa lalu mundur hingga ke tahun 1900 dan sedang diupayakan model untuk memproyeksikan perubahan muka laut di masa depan, ujarnya.

Sementara itu Kepala BIG, Dr Asep Karsidi, mengatakan, satelit altimetri sangat penting untuk melakukan pemantauan lokal yang lebih rinci karena itu pihaknya akan secara resmi meminta Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional untuk membuatkan satelit altimetri bagi pemantauan perairan Indonesia.

“Para ahli baru meyakini kenaikan permukaan laut global sebesar 3 mm per tahun setelah satelit altimetri membenarkannya. Angka ini tampaknya kecil, tapi dalam jangka panjang berdampak besar. Kenaikan sebesar 30 cm dalam 100 tahun bisa menghilangkan banyak pesisir di Indonesia,” katanya.

Sementara itu Deputi Kepala Lapan bidang Teknologi Dirgantara Soewarto Hardhienata mengatakan, Indonesia sudah menguasai teknologi kunci dari satelit sehingga ke depan berpotensi mengembangkannya secara mandiri.

“Lapan sudah mengembangkan satelit A1 Lapan Tubsat untuk penguasaan teknologi satelit, satelit A2 bekerjasama dengan Orari untuk pemantauan kebencanaan, satelit A3 dengan IPB untuk pemantauan lahan pertanian dan pesisir. Jadi kami sangat terbuka untuk kerjasama dengan BIG di bidang pemantauan kenaikan muka laut,” katanya.(ANT)

Baca Juga

Makanan Pokok untuk Suku Anak Dalam

Makanan Pokok untuk Suku Anak Dalam

MitraFM.com – Makanan Pokok untuk Suku Anak Dalam. Hidup seperti orang pada umumnya tentu pilihan yang tidak ...