RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Parenting » Anak » Tangisan Bisa Tunjukkan Austisme pada Bayi

Tangisan Bisa Tunjukkan Austisme pada Bayi

Mitrafm.com – Diagnosis anak autis biasanya baru diketahui setelah bayi berumur 2 tahun. Namun peneliti menemukan cara baru yang dapat digunakan untuk mendeteksi kemungkinan autisme dengan mudah, yaitu lewat tangisan bayi.

Untuk mendeteksi autisme dengan lebih pasti, gejala klasiknya adalah jika bayi mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini membuat autisme baru bisa dideteksi saat usia bayi mencapai 2 tahun.

“Autisme adalah gangguan yang dimulai secara halus dan semakin besar gejalanya sesuai pertambahan usia. Semakin cepat kita dapat melakukan intervensi, semakin besar perubahan jangka panjang yang dapat kita buat untuk kebaikan anak,” kata Stephen Sheinkopf seperti dikutip dari Medical Daily, Sabtu (1/12/2012).

Dalam laporan yang dimuat jurnal Autism Research, para peneliti dari Brown Alpert Medical School dan University of Pittsburgh meneliti 21 bayi yang dianggap berisiko autisme. Bayi-bayi ini memiliki saudara kandung yang telah didiagnosis dengan gangguan tersebut. Sebanyak 18 bayi lainnya yang tidak berisiko digunakan sebagai kontrol.

Saat usia bayi mencapai 6 bulan, semua bayi direkam suara tangisannya selama 45 menit. Peneliti memilah tangisan dalam berbagai kategori, misalnya menangis karena sakit atau terjatuh. Rasa sakit yang dirasakan bayi lewat tangisannya dianalisis menggunakan analisis akustik yang terkomputerisasi.

Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa tangisan bayi berkaitan dengan perkembangan otak. Bayi yang menderita trauma selama kelahiran cenderung memiliki tangisan dengan nada tinggi. Bayi dengan sindrom Down umumnya membuat tangisan bernada rendah.

Pada anak-anak yang umurnya lebih tua dan didiagnosis mengidap autisme, suara tangisnya cenderung terdengar seperti lagu atau sedang bernyanyi. Oleh karena itu, para peneliti penasaran apakah tangisan juga bisa digunakan untuk melihat kecenderungan autisme pada bayi.

Ternyata, para peneliti memang menemukan perbedaan tangisan pada dua kelompok bayi. Bayi yang berisiko autis memiliki suara tangisan yang kasar, menunjukkan adanya ketegangan di pita suara. Bayi yang berisiko autis juga menangis lebih kencang dan variasi nadanya lebih liar.

Saat usianya mencapai 3 tahun, sebanyak 3 orang bayi didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme. Ketiga anak tersebut memang memiliki teriakan dengan nada paling tinggi di antara teman-temannya.

Sayangnya, para peneliti belum jelas apakah perbedaan tersebut dapat terasa oleh telinga manusia. Oleh karena itu, para peneliti kurang yakin apakah para orang tua harus benar-benar memberikan perhatian khusus terhadap tangisan bayinya.(detikhealth)

Baca Juga

Kenikmatan Dibalik Kenikmatan

MitraFM.com– Tak ada kenikmatan melebihi nikmat iman. Sangat beruntung orang-orang beriman karena dengan imannya ia ...