RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Berita » Berita Batu Malang » Manfaatkan Sampah Jadi Gas Metan

Manfaatkan Sampah Jadi Gas Metan

metan-malang(MitraFM.com) – 25 Kepala Daerah Se-Indonesia Studi Banding ke Kabupaten Malang. Kabupaten Malang boleh berbangga. Pasalnya, penghargaan Energi Prabawa yang diterima Bupati Malang dari Kementerian ESDM pada Agustus 2013 lalu, menjadikan salah satu daerah di Jawa Timur yang menjadi jujugan studi banding Kepala Daerah. Rencananya, sebanyak 25 Kepala Daerah dari berbagai Kota dan Kabupaten se-Indonesia, akan berkunjung ke sini.

Kunjungan mereka untuk belajar tentang pengelolaan sampah serta air. Seperti diketahui, ahwa pengelolaan sampah di TPA Talangagung Kepanjen, sempat mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan itu diterima oleh Ir Koderi, pegawai Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Malang. Dia dianggap bisa menjadi pengabdi lingkunghan hidup.

Penghargaan itu diterimanya, karena mampu mengubah kekumuhan TPA Talangagung, menjadi tempat yang menyenangkan. Selain diubah menjadi tempat Wisata Edukasi, juga menjadikan tumpukan sampah sebagai penghasil biogas yang kemudian disalurkan ke warga sekitar secara gratis. Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kabupaten Malang, Romdhoni, mengungkapkan 25 kepala daerah itu diagendakan akan datang pada 11 September dan didampingi kepala dinas serta pimpinan dewan setempat.  “Ada sekitar 90 orang yang akan melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Malang,” ungkap dia. Dijelaskannya, para kepala daerah ini, datang dari pulau Jawa ataupun luar Jawa.

Mereka ini akan mengunjungi tiga tempat. Pertama ke tempat pengolaan sampah terpadu (TPST) Desa Mulyoagung, Dau, lalu ke PLTM Sumber Maron di Kecamatan Pagelaran dan ke TPA Talangagung, Kepanjen. Khusus di TPA Talangagung, kata Romdhoni akan dijelaskan soal pemanfaatan tumpukan sampah yang diolah menjadi gas metan yang disalurkan kepada warga sekitar secara gratis agar difungsikan untuk keperluan memasak. “Sekarang ini ada 102 sambungan rumah yang menggunakan energi gas metan dari TPA. Untuk ke depannya, sambungan gas metan ini akan kami perbanyak, karena di sekitar TPA Talangagung ada sekitar 300 KK,” katanya.

Bio Energi Pedesaan

MENGUBAH sampah menjadi gas metan, merupakan salah satu terobosan yang dilakukan Pemkab Malang adalah melaksanakan program Bio Energi Pedesaan (BEP), yaitu suatu upaya pemenuhan energi secara swadaya (self production) oleh masyarakat khususnya di pedesaan. “Untuk menyosialisasikan program tersebut, diperlukan desa dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang baik,” papar Bupati Malang, Rendra Krena saat meresmikan Desa Mandiri Energi di Kasembon, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, masih dibutuhkan wilayah perkebunan,  pertanian atau peternakan dengan kondisi yang baik dan juga kemahiran sumber daya manusia di Kabupaten Malang untuk proses pengembangan tanaman energi tersebut sampai menjadi energi terbarukan.

“Oleh karenanya setiap wilayah di Kabupaten Malang akan memiliki basis tanaman atau ternak sumber energi yang berbeda-beda dengan jenis hasil energi yang berbeda pula,” tegasnya. Program Desa  Mandiri Energi ini, menurutnya, dilakukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat desa terhadap bahan bakar minyak, terutama pada bahan bakar minyak tanah. Program ini juga dimaksudkan dapat membantu perekonomian desa-desa tersebut untuk dapat mandiri menghasilkan energi berbasis tanaman penghasil energi yang nantinya dapat membantu permasalahan energi di daerah tersebut maupun bantuan untuk daerah-daerah.

TPST Mulyoagung, Peran Aktif Meraih Award Energi 

APA yang dilakukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST Mulyoagung Bersatu di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini dapat dicontoh oleh desa atau KSM lainnya. Bila sebelumnya selama 20 tahun sampah dari masyarakat terbuang percuma, maka setelah ada TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu), sampah itu dikelola dan malah bisa menghasilkan uang.  Sebelum ada TPST Mulyoagung yang beroperasi sejak 2 Februari 2011 lalu, desa ini memiliki tempat pembuangan sampah yang berada di pinggir sungai Brantas.

Sehingga sampah-sampah kadang juga terbuang di sungai, sehingga mencemari lingkungan. Sampai akhirnya ada pemikiran pengolahannya dan merintisnya sejak 2009 untuk mendapat bantuan.  Pada 2010 ada pembiayaan pembangunan TPST ini, dari empat mata anggaran yaitu PNPM, APBN, ABPD dan desa. Setelah terbentuk dan dioeprasikan TPST yang kini menjadi binaan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Malang ini menampung volume sampah dari masyarakat sebanyak 15-20 meter kubik per harinya.

“Begitu sampah datang, kemudian ada pekerja yang melakukan pemilahan atas sampah yang datang,” jelas Mulyadi dari Divisi Pengolahan, TPST Mulyoagung Bersatu.  Dia melanjutkan, setelah sampah dipilah sesuai jeninya, untuk sampah organik atau hijau kemudian diolah menjadi pupuk. Sedangkan sampah plastik, besi, maupun sampah lainnya yang masih bisa terpakai, akan didaur ulang menjadi berbagai kerajinan. Sedangkan sampah yang tidak bisa diolah maupun didaur ulang, akan dihancurkan dengan dibakar.

“Jadi, yang kami hasilkan dobel. Yang pertama pupuk organik dan yang kedua yakni beberapa kerajinan hasil daur ulang. Semua kegiatan maupun prosesnya, dilakukan sendiri oleh warga desa sini,” tukasnya. Diperkirakan, dari volume sampah warga, petugas TPST bisa menghasilkan pupuk organik hingga 300 kilogram setiap harinya.

“Selama dua tahun beroperasi, TPST ini banyak menghasilkan manfaat kepada warga di sekitar desa ini. Terutama untuk meningkatkan perekonomian mereka, sekaligus mencegah pencemaran lingkungan sungai,” urainya. Untuk itu, dia berterimakasih kepada Pemkab Malang yang sebelumnya mendukung penuh TPPST ini. Sehingga saat ini terdapat ratusan warga Desa Mulyoagung Kecamatan Dau yang menggantungkan hidupnya pada TPST tersebut, seperti menjadi pekerja, perajin, maupun mengumpulkan barang bekas untuk dijual kembali.

Dampak Kebijakan Energi Pemerintah Kabupaten Malang Terhadap Aspek Perekonomian

1. Adanya penghematan pengeluaran rumah tangga perbulan sebesar Rp 64.000 atau sebesar Rp 768.000 pertahun untuk perKK.

2. Total penghematan pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi energi dari pemanfataan gas metan dan kotoran ternak adalah sebesar Rp 4.832.040.000. (jumlah pengguna 6.280 KK= gabungan)

3. Pada penggunaan biogas adanya peluang tambahan penghasilan sebesar Rp 5.475.000 pertahun untuk masing-masing rumah tangga yang diperoleh dari pemanfaatan slurry untuk pupuk organik.
Data: Sumber ESDM Kabupaten Malang. (dnt)

Sumber: malang-post.com

Baca Juga

Aksi Cepat Bantu Pengungsi Gunung Agung

Aksi Cepat Bantu Pengungsi Gunung Agung

MitraFM.com – Aksi Cepat Bantu Pengungsi Gunung Agung. Baitul Maal Hidayatullah sebagai Laznas yang memiliki program sosial ...