RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Mitra Update
Home » Parenting » Anak » Pujian Juga Bisa Bikin Anak Stres!

Pujian Juga Bisa Bikin Anak Stres!

anak-percaya-diriMitra FM – “Anak pintar”, “Kamu hebat”, “Gambarmu bagus sekali”, dan beragam pujian lainnya pasti sering diucapkan orangtua jika anaknya berhasil melakukan hal yang membanggakan. Maksudnya sih baik, agar anak merasa hasil diperhatikan dan dihargai. Langkah Anda sebagai orangtua pun sudah tepat karena menunjukkan dukungan.

Hanya saja, sekalipun banyak dampak positifnya namun setiap hal yang berlebihan akan berdampak negatif. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science mengungkapkan bahwa anak-anak yang dihujani pujian dari orang lain karena hasil kerja mereka akan menyebabkan anak jadi takut mengambil risiko.

Ketika anak sering dipuji, maka hal ini tentu saja akan membuat mereka merasa bangga dan harga diri pun naik. Namun, pujian ini juga akan mengirim pesan bahwa mereka harus memenuhi standar tinggi sesuai dengan pekerjaan terakhir yang dilakukan dengan sempurna.

Pesan yang sampai juga membuat mereka tertekan dan kecil hati karena mereka tidak boleh membuat kesalahan sekecil apapun. Hal ini menyebabkan mereka hanya berani melakukan hal-hal dimana mereka bisa mengerjakannya dengan sempurna, dan enggan mencoba hal baru karena berisiko akan gagal sehingga kehilangan kepercayaan orangtuanya.

“Memberi pujian kepada anak itu tujuannya memang baik. Tetapi kalau berlebihan bisa menjadi bumerang untuk Anda dan anak,” ungkap Eddie Brummelman, salah satu peneliti dari Utrecht University di Belanda.

Penelitian ini dilakukan terhadap 700 orangtua dan guru. Orangtua dan guru ini diminta untuk memberikan pujian pada anak yang berhasil menggambar dengan indah dan memecahkan soal matematika.

Namun, tantangan yang terbesar adalah mengetahui kapan Anda harus memuji dan kapan saat harus berhenti memuji.

“Orangtua harus bertanya pada diri sendiri dan menilai bagaimana kerasnya upaya si anak saat mencoba melakukan hal tersebut. Jika usaha anak biasa-biasa saja untuk menyelesaikannya, maka pujian yang diberikan harus lebih singkat. Jika anak sudah berusaha sangat keras untuk melakukan hal yang sebelumnya tidak mampu dilakukan sampai akhirnya berhasil, maka Anda boleh memuji usaha kerasnya,” ungkap Dr Steven Meyers, Profesor Psikologi di Roosevelt University.

sumber: KCM

Baca Juga

Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren

Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren

MitraFM.com – Geliatkan Ekonomi Produktif Pesantren. Tantangan yang sangat kasat mata bagi umat Islam saat ini adalah ...