RADIO MITRA 97.0 FM KOTA WISATA BATU | INSPIRASI KELUARGA ANDA | Interaktif | Telp 0341-597 440 | SMS dan WhatsApp 081 333 74 9797 | Facebook: Radio Mitra 97.0 FM | Twitter: @mitra97fm | Instagram: @radiomitra97fm | Alamat: Jalan Wukir no.4 Temas - Kec. Batu - Kota Wisata Batu - Malang - Jawa Timur - Indonesia | www.mitrafm.com |

Home » Mitra Update » Di Masa Depan, Berenang di Air Secepat Terbang di Udara

Di Masa Depan, Berenang di Air Secepat Terbang di Udara

mitrafm.com Di Masa Depan, Berenang di Air Secepat Terbang di UdaraMitraFM.com – Peneliti Tiongkok, telah menemukan cara untuk melakukan perjalanan ke Amerika secepat mungkin. Teknologi yang digunakan adalah kapal selam supersonik yang bisa membawa penumpang dari Shanghai ke San Fransisco dalam kurang dari dua jam.

Teknologi baru ini dikembangkan oleh tim ilmuwan dari Harbin Institute of Technology dan Heat Transfer Lab. Mereka berhasil mempermdah kapal selam, atau torpedo, untuk bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan super di dalam air.

“Kami bisa menciptakan kerumitan gelembung udara yang dibutuhkan untuk perjalanan cepat dalam laut. Air memproduksi gesekan lebih banyak dengan benda padat ketimbang udara, yang menyebabkan kapal selam konvensional tidak bisa berjalan secepat pesawat udara,” ujar Profesor Li Fengchen, demikian dikutip dari South China Morning Post, Jumat 29 Agustus 2014.

Pada era perang dingin, militer Soviet pernah mengembangkan teknologi yang disebut superkavitasi. Teknologi ini melibatkan ‘pembungkusan’ kapal selam di dalam gelembung udara untuk menghindari masalah yang disebabkan gesekan air.

Sebuah torpedo superkavitasi milik Soviet, bernama Shakval, bisa berjalan dengan kecepatan 370 kilometer/jam, atau lebih. Performa ini lebih cepat ketimbang torpedo konvensional lainnya.

Teorinya, pesawat yang memiliki superkavitasi bisa menyamai kecepatan suara di dalam air, atau sekitar 5.800 km/jam. Kecepatan ini bisa mengurangi durasi perjalanan di bawah air. Bahkan, bisa mencapai kurang dari satu jam untuk perjalanan lintas benua, atau kurang dari dua jam untuk perjalanan lintas samudera.

Namun begitu, teknologi superkavitasi ini masih memiliki dua kendala. Pertama adalah kapal selam itu harus diluncurkan dengan kecepatan tinggi, mendekat 100 km/jam. Ini dilakukan untuk menghasilkan dan mempertahankan gelembung udara.

Kedua, ini yang paling sulit dan tidak mungkin. Kapal selam harus menggunakan mekanisme pengarahan konvensional, seperti kemudi yang berada di dalam gelembung tanpa mengalami kontak langsung dengan air. Mereka mengaku telah menemukan solusi untuk mengatasi kedua masalah itu.

Caranya, saat sudah berada di dalam air, kapal selam superkavitasi ini akan disiram dengan selaput cairan khusus pada permukaannya. Meski membran memudar oleh air namun secara signifikan dapat mengurangi hambatan air di kapal dengan kecepatan rendah.

Setelah kecepatannya mencapai 75km/jam atau lebih, kepal selam bisa memasuki pusat superkavitas. Selaput cair pada permukaan kapal bisa membantuk dengan sistem kemudi, yang jika dikendalikan dengan tepat, akan menimbulkan tingkatan gesekan yang berbeda di beberap bagian kapal.

“Metode kami sangat berbeda dengan pendekatan lainnya, seperti halnya propulsi vektor, atau dorongan yang diciptakan dari mesin. Dengan memadukan teknologi selaput cair dan superkavitasi, kita bisa secara signifikan mengurangi tantangan saat peluncuran dan membuat daya kendali lebih mudah,” ujar Li.

Namun begitu, kata Li, masih banyak masalah lainnya yang harus dipecahkan sebelum perjalanan kapal selam supersonik dilakukan. Selain masalah kendali, sebuah roket bawah laut yang cukup kuat juga harus dikembangkan untuk memberikan kapal selam ini kemampuan berjalan lebih lama.

Bagi Li, teknologi superkavitasi ini tidak terbatas hanya untuk penggunaan militer. Di masa depan, keuntungannya bisa banyak, termasuk wisata dalam air, olahraga air, berenang, dan lainnya.

“Jika baju renang bisa menciptakan dan mempertahankan banyak gelembung di air, ini bisa secara signifikan mengurangi gesekan air. Dengan demikian, sensasi berenang di air bisa sama seperti terbang di udara,” kata Li. (dnt/viva)

Baca Juga

Syahidah Pertama, Sumayyah binti Khayyat

MitraFM.com– Tauhidnya begitu teguh, sekeras baja.  Cahaya iman di hatinya tak pernah redup. Ia rela ...